Oleh: Dr. Slamet Muliono Redjosari – Wakil Ketua Bidang MPK Dewan Da’wah Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Negeri yang makmur berubah hancur. Hal itu disebabkan kelalaian, keengganan, dan tak tahu berterima kasih kepada sang pemberi kemakmuran. Di samping itu perilaku buruk dengan berfoya-foya dan bermaksiat semakin memperparah keadaan sehingga lebih mempercepat kehancuran suatu negeri. Saba merupakan contoh suatu negeri yang diberikan kenikmatan besar. Allah memberi karunia alam yang subur dengan kebun yang dipenuhi sayuran dan buah-buahan tanpa mengenal musim. Bahkan negeri ini disebut makmur dan terjamin kehidupan penduduknya. Namun keengganan berbuat baik dan mudah berbuat maksiat, sehingga negeri ini hancur.
Negeri Makmur
Al-Qur’an menggambar suatu negeri yang aman dan mapan. Dikatakan aman karena ketiadaan kejahatan dan penduduknya tinggal dengan kedamaian. Dikatakan mapan karena semua kebutuhan terpenuhi dengan suburnya tanah dipenuhi berbagai buah dan pohon serta hasil alam.
Alamnya ramah dan tidak mengenal hawa panas karena pohonnya rindang dan berbuah cukup lebat. Tanpa susah mereka bisa memanen hasil kebih dengan mudah tanpa harus mengeluarkan tenang dan biaya yang banyak. Negeri penuh berkah ini digambarkan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
لَقَدۡ كَانَ لِسَبَإٖ فِي مَسۡكَنِهِمۡ ءَايَةٞ ۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٖ وَشِمَالٖ ۖ كُلُواْ مِن رِّزۡقِ رَبِّكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥ ۚ بَلۡدَةٞ طَيِّبَةٞ وَرَبٌّ غَفُورٞ
Artinya:
Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhan-mu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhan-mu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. (QS. Saba : 15)
Negeri ini hidupnya tenang tanpa kekurangan. Namun, suasana hidup tenang dan nyaman ini justru membuat mereka tersungkur dalam kemaksiatan. Kemaksiatan itu diawali dengan hidup senang-senang dan foya-foya. Hidup senang dan foya-foya itulah yang membuat mereka mereka melupakan nikmat hingga berujung maksiat. Hal ini berakibat Allah membiarkan mereka terjerumus dalam kebinasaan. Dari negeri yang aman sentosa berubah menjadi bahaya. Banjir besar datang hingga merusak hasil kebunnya. Buahnya pahit sehingga panen dan berujung malapetaka besar. Al-Qur’an menggambarkan hal ini sebagaimana firman-Nya :
فَأَعۡرَضُواْ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ سَيۡلَ ٱلۡعَرِمِ وَبَدَّلۡنَٰهُم بِجَنَّتَيۡهِمۡ جَنَّتَيۡنِ ذَوَاتَيۡ أُكُلٍ خَمۡطٖ وَأَثۡلٖ وَشَيۡءٖ مِّن سِدۡرٖ قَلِيلٖ
Artinya:
Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Aṡl dan sedikit dari pohon Sidr. (QS. Saba : 16)
Musibah datang disebabkan keengganan melakukan rasa syukur kepada sang pencipta. Ketika datang masa bahagia, mereka justru lupa pada Tuhannya, dan terlalaikan dengan hidup senang-senang hingga tersungkur dalam kemaksiatan. Kenikmatan besar justru berbalas dengan kekafiran. Hal ini digambarkan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
ذَٰلِكَ جَزَيۡنَٰهُم بِمَا كَفَرُواْ ۖ وَهَلۡ نُجَٰزِيٓ إِلَّا ٱلۡكَفُورَ
Artinya:
Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. (QS. Saba : 17)
Generasi Buruk
Negeri yang memiliki kenyamanan hidup bergelimang dalam kemewahan hingga melalaikan tugasnya yang hanya bersyukur dan mengikuti perintah berbuat baik. Mereka lupa bahwa kokohnya generasi itu disebabkan rahmat dan karunia besar dari Allah. mereka pun menyia-nyiakan. Ketiadaan rasa Syukur atas nikmat besar itu bisa dilihat dari perilaku penduduknya yang justru berbuat dosa ketika mendapatkan kenikmatan besar. Mereka kaya justru berperilaku kontraprduktif. Negeri yang subur justru berbuat kufur. Al-Qur’an menggambarkan. Kesejahteraan yang maksimal justru melahirkan sikap keras hati. Hal ini digambarkan dengan baik sebagaimana firman-Nya :
أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا مِن قَبۡلِهِم مِّن قَرۡنٖ مَّكَّنَّٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَا لَمۡ نُمَكِّن لَّكُمۡ وَأَرۡسَلۡنَا ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡهِم مِّدۡرَارٗا وَجَعَلۡنَا ٱلۡأَنۡهَٰرَ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهِمۡ فَأَهۡلَكۡنَٰهُم بِذُنُوبِهِمۡ وَأَنشَأۡنَا مِنۢ بَعۡدِهِمۡ قَرۡنًا ءَاخَرِينَ
Artinya:
Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (QS. Al-‘An`ām : 6)
Ketika mereka berbuat dosa, Allah pun mengirim rasul untuk mengingatkannya. Rasul memberi kabar gembira, berupa berita surga, bila berbuat baik, dan mengancam neraka bila tak tahu diri atas kenikmatan. Mereka justru memilih berbuat kufur dengan berbuat pongah dan dosa dengan mendustakannya. Atas sikap itu maka Allah membinasakannya.
Betapa jelas contoh negeri di atas dan diulang oleh negeri-negeri yang lain. Negara yang diberi kekayaan, namun penduduknya khiata, pemimpinnya berbuat dzalim. Eksploitasi alam tanpa henti, korupsi merajalela, pemimpinnya khianat, sebagian besar elite menopang budaya pembusukan, rakyatnya dibuat tak berdaya. Hingga campur tangan asing semakin brutal dalam mengekploitasi kekayaan alamnya.
Penduduknya semakin sengsara, elitenya foya-foya dan hidup dalam kemewahan. Allah pun menyegerakan kebinasaan negeri ini berganti dengan generasi lain. Itulah Sunnatullah yang terjadim dimana negeri yang makmur berubah menjadi hancur ketika karunia besar dibalas dengan kemaksiatan. (Surabaya, 27 April 2025)
Admin: Komimfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
