Kaasiyah: Pakaian Dunia vs. Pakaian Akhirat

Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jawa Timur

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Pada suatu malam, Nabi Muhammad SAW terbangun dari tidurnya dan berkata,

سُبْحَانَ اللَّهِ, مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنَ الفِتَنِ, وَمَاذَا فُتِحَ مِنَ الخَزَائِنِ, أَيْقِظُوا صَوَاحِبَاتِ الحُجَرِ, فَرُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فِي الآخِرَةِ

“Subhanallah, fitnah apakah yang diturunkan pada malam ini? Apa yang dibuka dari perbendaharaan? Bangunkanlah para wanita yang ada di balik dinding (hijab)! Betapa banyak yang berpakaian di dunia, namun akan telanjang di akhirat.” (HR. Bukhari)

Hadits ini mengingatkan kita tentang hakikat kehidupan yang sering kali dipenuhi dengan kebahagiaan duniawi, namun sangat rentan untuk melupakan tujuan hidup yang sesungguhnya. Istilah kaasiyah berasal dari kata kasiya, yang berarti mengenakan pakaian, namun di sini juga bisa diartikan sebagai kemuliaan yang terbalut dalam berbagai bentuk kenikmatan dunia.
Kebahagiaan Dunia yang Sementara

Nikmat dunia memang tak bisa dipungkiri. Kita menikmati segala fasilitas, kemewahan, dan kemudahan dalam kehidupan yang Allah berikan. Namun, apakah itu cukup untuk membahagiakan kita di akhirat? Ayat Al-Qur’an dalam QS. Al-A’raf: 26 memberikan petunjuk penting:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ

“Wahai anak cucu Adam! Sungguh, Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Tetapi pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al-A’raf: 26)

Pakaian duniawi memang penting, tetapi pakaian takwa adalah yang akan menyelamatkan kita di akhirat. Pakaian ini bukanlah yang tampak di luar, melainkan yang ada di dalam hati dan diterjemahkan dalam setiap perbuatan.

Bahaya Riak dan Keinginan untuk Tampil Mewah

Terkadang kita tergoda untuk menonjolkan diri dengan segala kemewahan dan pakaian indah yang kita miliki, seolah-olah itu adalah simbol status. Namun, jika niat kita salah, segala amal yang kita lakukan hanya menjadi sia-sia. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang mengingatkan kita:

إِنَّ أَكْثَرَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا، فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِندَهُمْ جَزَاءً؟

“Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah riya’. Allah berkata kepada mereka pada hari kiamat: ‘Pergilah kepada orang yang dahulu kalian ingin pamer amal kepadanya, lihatlah apakah mereka bisa membalas kalian?’” (HR. Ahmad)

Riya’ atau ingin mendapatkan pujian dari sesama adalah kebiasaan yang sering kali menggerogoti hati kita. Jika kita hidup hanya untuk pandangan orang lain, amal kita akan kehilangan maknanya.

Orang Pertama yang Diseret ke Neraka

Dalam hadits lain yang sangat terkenal, Rasulullah SAW menggambarkan orang yang pertama kali diseret ke neraka pada hari kiamat. Ini adalah gambaran tentang bagaimana dunia ini bisa memperdaya kita jika kita hanya mengejar kemewahan dan kesenangan duniawi tanpa niat yang benar. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَىٰ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِمْ رَجُلٌ مُتَعَلِّمٌ وَرَجُلٌ جَاهِدٌ وَرَجُلٌ مَالٌ، فَيَجِيءُ الَّذِي قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُؤْتَىٰ بِهِ، فَيُعَرَّفُ نِعْمَتَهُ فَيَعْرِفُهَا، فَيَقُولُ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ فَيَقُولُ: جَاهَدْتُ فِيهَا حَتَّىٰ قُتِلْتُ. فَيَقُولُ اللَّهُ: كَذَبْتَ! بَلْ جَاهَدْتَ لِيُقَالَ جَادَّ، وَقَدْ قِيلَ. فَسَحَبَ فِي النَّارِ

“Orang pertama yang akan dihukum pada hari kiamat adalah seorang yang mempelajari ilmu agama dan mengajarkannya, seorang yang berjihad di jalan Allah, dan seorang yang memiliki banyak harta. Mereka akan diperlihatkan kenikmatan yang mereka terima, namun mereka akan ditanya tentang bagaimana mereka menggunakannya. Mereka akan diberi balasan yang setimpal, namun karena niat mereka salah, mereka akan diseret ke neraka.” (HR. Muslim)

Hadits ini mengingatkan kita bahwa meskipun kita memiliki pengetahuan, kekayaan, atau bahkan keberanian dalam berjihad, jika niat kita bukan untuk Allah, maka segala amal tersebut tidak akan bernilai di akhirat. Dunia ini hanyalah ladang ujian, dan bagaimana kita menghadapinya dengan niat yang ikhlas akan menentukan nasib kita kelak.

Amal yang Tak Dilandasi Keikhlasan

Allah juga mengingatkan kita dalam QS. Ibrahim: 18 tentang amal yang tidak memiliki nilai di sisi-Nya, meskipun tampak megah di dunia:

مَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيَحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ ۖ لَا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَىٰ شَيْءٍ

“Perumpamaan orang-orang yang kafir kepada Rabb mereka, amal mereka seperti abu yang ditiup angin kencang pada hari yang berangin kencang. Mereka tidak memperoleh sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan.” (QS. Ibrahim: 18)

Amal yang tidak disertai dengan keimanan dan ketulusan akan hilang begitu saja, bagaikan abu yang diterbangkan oleh angin. Ini adalah peringatan bagi kita untuk selalu menjaga niat dan keikhlasan dalam setiap perbuatan.

Kehidupan Dunia yang Fatamorgana

Kita sering kali terjebak dalam angan-angan kehidupan dunia yang tampaknya indah, namun sebenarnya itu hanya fatamorgana. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran: 185:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali Imran: 185)

Kehidupan dunia adalah fana. Semua kemewahan dan kenikmatan yang kita nikmati sekarang ini hanyalah sementara. Dunia ini hanya ujian, sedangkan kehidupan yang abadi adalah di akhirat.

Sebagai umat Islam, kita diingatkan untuk selalu menjaga niat dalam setiap perbuatan. Jangan sampai kita termasuk dalam golongan kaasiyah—mereka yang berpakaian mewah di dunia tetapi telanjang di akhirat. Semua kenikmatan dunia ini hanyalah sarana untuk menjalani misi kehidupan yang lebih besar, yaitu meraih kebahagiaan hakiki di akhirat dengan cara berbagi kebaikan dan memberikan manfaat bagi umat.

Kita semua diberi kesempatan oleh Allah untuk beramal dan mengerjakan kebaikan. Jangan sampai kita terlena oleh gemerlap dunia, hingga lupa akan tujuan hidup yang sejati. Iman yang benar, amal yang ikhlas, dan kehidupan yang penuh dengan rahmat—itulah pakaian sejati yang akan membawa kita ke kebahagiaan abadi.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *