Oleh: Adi Purnomo, S.Pd., Sekretaris Dewan Da’wah Kab. Banyuwangi
Dewandakwahjatim.com, Banyuwangi – Salah satu dari 8 misi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) ialah:”Membendung (Melindungi umat dari) Gerakan Pemurtadan, Ghazwul Fikri dan Harakah Hadamah. (Misi DDll No. 5).
Apa itu “Ghazwul Fikri?
Secara bahasa,
Ghazwul Fikri terdiri dari dua suku kata, yaitu :
- Ghazwah dan
- Fikr.
Ghazwah berarti serangan atau invasi.
Fikr berarti pemikiran.
Jadi secara bahasa Ghazwul Fikri diartikan sebagai invasi pemikiran. Ini adalah cara lain dari musuh Islam untuk menghadapi umat Islam dalam merusak sendi-sendi Islam secara keseluruhan.
Pandangan mengenai Ghazwul Fikri berakar dari keprihatinan tentang posisi agama (Islam) dalam berbagai ide atau gagasan yang berpotensi untuk mendeligitimasi atau mengaburkan nilai agama.
Istilah Ghazwul Fikri bisa diartikan sebagai “Perang Pemikiran” dengan konotasi adanya dua pihak atau lebih yang berhadapan. Akan tetapi, Ghazwul Fikri lebih tepat diartikan sebagai “Konflik Pemikiran”.
Bila berbicara mengenai konflik, di sini ada dua golongan atau lebih yang berperang untuk sama-sama memenangkan keyakinan atau pendapatnya.
Dua kelompok atau lebih tersebut memiliki kepetingan yang saling bertolak belakang sehingga menyebabkan terjadinya pertentangan. Perspektif ini terlihat akibat adanya kepentingan dan tujuan yang berbeda dalam tatanan kehidupan.
Perkembangan zaman yang didukung dengan kemajuan teknologi menjadikan pola hidup manusia berubah secara dinamis. Bukan hanya pola hidup, prilaku dan cara pandang seseorang juga mengalami perubahan. Worldview (Cara Pandang terhadap dunia) akan membawa seseorang melihat kehidupan ini secara komprehensif. Dan tentunya, Worldview Islam berbeda dengan kaum kafir. Di mana agama menjadi landasan untuk melihat tatanan kehidupan ini.
Ideologi atau agama merupakan asas pokok bagi seorang muslim. Semua aspek agama harus diletakan pada sendi-sendi kehidupan, baik
1.Perniagaan,
2. Politik,
3. sosial,
semua akan berjalan baik, bila meletakan agama pada pos-pos tersebut. Hal ini telah terbukti di zaman-zaman terdahulu, baik saat Rasulullah memimpin, dilanjutkan oleh sahabat-sahabat Rasul dan seterusnya.
Pada era ini, umat Islam dihadapkan oleh ideologi-ideologi yang ingin memisahkan unsur-unsur agama dari kehidupan nyata.
Ideologi-ideologi itu, yaitu :
- Komunisme,
- Sekulerisme,
- Pluralisme,
- kapitalisme,
- liberalisme dll.
Mereka adalah beberapa ancaman bagi ideologi Islam. Pemahaman-pemahaman tersebut bergerak secara massif.
Tujuannya adalah menghancurkan Islam secara halus tanpa harus menumpahkan darah. Karena orang-orang barat sadar bila perang fisik sudah tidak bisa menghalau gerakan Islam.
Dan Ghazwul Fikri atau Perang Pemikiran adalah cara yang efesien untuk mengalahkan muslim secara perlahan. Biaya rendah dan daya sebar yang lebih cepat menjadikan para pegiat misionaris ideologi-ideologi tersebut lebih menggunakan cara ini daripada perang fisik.
Bahaya Ghazwul Fikri
Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin rahimahullah, dlm tulisannya mengatakan bahwa sesungguhnya mencari ilmu merupakan salah satu jenis Jihad fi Sabilillah, karena penuntut ilmu akan mampu membantah musuh-musuh agama dg Al-Haq sehingga dapat mematahkan kebatilan mereka.
Sebagaimana dapat disaksikan, terkadang Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran yang dilancarkan Barat) itu lebih berbahaya dari pada peperangan bersenjata. Sebab, pengaruh pemikiran tersebut dapt menyusup ke setiap rumah dengan keinginan pemilik rumah sendiri, tanpa ada penolakan maupun perlawanan sedikitpun.
Berbeda halnya peperangan militer, tidak dapat mengobrak- abrik rumah atau sebuah negara kecuali setelah melalui adu kekuatan yang panjang dan perlawanan yang sengit.
Musuh-musuh Islam terkadang dapat menguasai kaum Muslimin dengan kekuatan militer melalui peperangan, namun hal ini sangat mungkin untuk diantisipasi. Dan kadang-kadang, melalui usaha melancarkan pengaruh pemikiran yang dampaknya lebih berbahaya dan lebih buruk daripada dampak yang pertama (peperangan militer). Karena pengaruh pemikiran itu menerjang kaum Muslimin dari dalam rumah-rumah mereka sendiri tanpa mereka sadari. Bisa jadi, mereka kemudian keluar dari agama Islam dan Islam itu terhapus dari kalbu mereka secara keseluruhan – sekali lagi-red – tanpa mereka sadari. Karena (melalui Ghazwul Fikri), musuh-musuh Islam menyerang kaum Muslimin dari pintu syahwat, sementara hati manusia apabila telah berkubang dengan syahwat, akan melupakan tujuan hidupnya, melalaikan ibadah kepada Allâh SWT , dan hubungan hatinya dengan Allâh SWT tidak ada lagi. Maka, orang tersebut hanya akan memikirkan pemuasan syahwat saja saat ia duduk, berdiri, datang maupun pergi. Dan ia tidak berusaha kecuali untuk meraihnya, seakan-akan hanya itulah tujuan penciptaan dirinya (di dunia ini).
Selain itu, musuh-musuh Islam selalu menjejali jiwa-jiwa kaum Muslimin dengan penanaman rasa hormat kepada orang-orang kafir, bahwa mereka itu lebih maju, peradaban mereka lebih baik dan alur kehidupan mereka lebih benar dan lain sebagainya.
Hingga akhirnya jati diri seorang Muslim meleleh dalam kobaran api fitnah mereka. Dan tidak diragukan lagi kejadian ini merupakan kenyataan, banyak negera Islam kehilangan karakternya dan kepribadiannya hancur disebabkan perang pemikiran ini.
Sesungguhnya, meskipun mereka (para musuh agama itu) memerangi negeri-negeri Islam dengan kekuatan militer dan mampu menundukkannya, namun hati orang (kaum Muslimin) akan tetap antipati dan membenci mereka. Akan tetapi, yang menjadi persoalan adalah para musuh Islam dapat menyerang karakter, akhlak dan akidah kaum Muslimin saat mereka duduk-duduk di dalam rumah dan membukakan pintu hati mereka bagi musuh Islam. Inilah kehancuran yang sebenarnya.
Oleh karenanya, perlawanan dengan senjata ilmu yang digali dari al-Qur’ân dan Sunnah Rasul-Nya itu sejajar tingkatannya -kalau tidak lebih baik dan lebih mengena- dengan perlawanan militer. Di sini, saya mengajak diri saya dan Anda semua–semoga Allâh Azza wa Jalla memberkahi Anda semua- untuk mempersiapkan bekal guna menghadapi musuh-musuh yang hendak memerangi kita di rumah-rumah kita melalui pemikiran-pemikiran yang keji, akhlak yang kotor, dan ideologi yang menyimpang, sehingga kita dapat melindungi kaum Muslimin dari keburukan mereka itu. Karena senjata mereka itu lebih membinasakan dan berbahaya daripada senjata yang terbuat dari besi dan api sebagaimana hal itu telah jelas adanya.
(Tafsîr sûrat ash-Shâffât hlm. 37-38)
Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ, أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu an lâ ilaha illa Anta, astaghfiruka wa’atûbu ilaika.
Artinya:
“Maha Suci Engkau ya Allah aku memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan bertaubat kepada-Mu.”
Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur.
Jum’at, 19 Syawal 1446 /
18 April 2025. Pkl.02.00
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
