Liputan: Muhamnad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ Dewan Da’wah Jawa Timur
Dewan Dakwah Gelar Haflah dan Silaturrahim Idul Fitri 1446 H, Tegaskan Tugas Strategis Umat Islam
Dewandakwahjatim.com, Jakarta – Dalam suasana hangat Haflah dan Silaturrahim Idul Fitri 1446 H yang digelar oleh Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) di Kantor Pusat, Sabtu (19/4/2025), Ketua Dewan Pembina DDII, KH. Didin Hafidhuddin, menyampaikan tausiah strategis yang menggugah. Beliau menekankan bahwa umat Islam saat ini tengah diuji—apakah mampu menjadi pelanjut risalah atau justru tergelincir dalam arus duniawi.
Mengawali dengan mengangkat firman Allah dalam Surah Fāṭir ayat 32:
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ، وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ، وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
“Kemudian Kami wariskan Kitab (Al-Qur’an) kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Itulah karunia yang besar.”
KH. Didin menjelaskan bahwa ayat ini membagi umat Islam menjadi tiga kategori besar:
- Zhalimun Linafsih (Yang Menzalimi Diri Sendiri)
Ini adalah kelompok yang menerima Islam, tetapi tidak menjalankan ajarannya secara utuh. Mereka lalai dalam ibadah, acuh terhadap dakwah, dan tidak peduli pada kondisi umat.
“Mereka hidup hanya berlabel Islam, tapi tak mencerminkan nilai-nilainya. Ini kelompok yang banyak jumlahnya, tapi lemah kontribusinya.”
- Muqtashid (Yang Pertengahan)
Mereka yang menjalankan ajaran Islam, tapi belum sepenuhnya optimal. Taat, tapi belum militan dalam dakwah. Peduli, tapi belum konsisten.
“Kelompok ini sudah sadar, tapi masih perlu dorongan kuat agar naik kelas, dari sekadar ikut jadi pemirsa menjadi pelaku utama.”
- Sābiqun bil-Khayrāt (Yang Berlomba dalam Kebaikan)
Inilah kelompok ideal yang menjadi harapan umat. Mereka aktif dalam dakwah, terlibat membangun umat, menjadi solusi atas problem keumatan dan kebangsaan.
“Ini yang harus diperbanyak. Mereka lah penggerak, pelopor, dan penyambung risalah. Umat tak cukup punya banyak muslim, tapi butuh banyak mujahid.”
Tiga Tugas Strategis Umat Islam Saat Ini
KH. Didin lalu menggarisbawahi bahwa umat Islam di Indonesia memiliki tiga tugas utama di era saat ini:
- Menjaga, Menyebarkan, dan Menguatkan Ajaran Islam Secara Kaffah
Umat harus melawan arus pemikiran sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan publik. Islam tak boleh dikerangkeng hanya di masjid, tapi harus hadir di ruang ekonomi, politik, sosial, bahkan budaya.
“Masjid dan pasar tidak boleh dipisah. Ekonomi syariah harus menjadi alternatif. Jangan biarkan umat terus terjerat riba karena lemahnya dakwah kita.”
- Menjaga dan Memelihara Kesejahteraan Umat
Tantangan keumatan hari ini adalah kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan ekonomi. Solusinya adalah dakwah yang menyentuh aspek sosial dan ekonomi.
“Kalau umat miskin dan bergantung pada sistem ribawi, maka sulit mereka bangkit. Kita butuh dakwah yang membebaskan, bukan sekadar ceramah rutin.”
- Menjaga dan Merawat Keutuhan Bangsa dan Negara (Daulah)
Islam bukan ancaman bagi NKRI, justru menjadi penjaga moralitas dan persatuan nasional. Ia pun menegaskan pentingnya mengingat kembali peran Mohammad Natsir dengan Mosi Integral-nya yang menyatukan Indonesia secara konstitusional.
“Islam tidak bertentangan dengan nasionalisme. Islam justru memberi napas dan arah pada keutuhan bangsa. Ini harus diajarkan pada generasi kita.”
Acara ini bukan hanya menjadi momen halal bihalal, tapi juga konsolidasi semangat dakwah pasca-Ramadhan. Menutup tausiahnya, KH. Didin mengajak seluruh pengurus, dai, dan aktivis dakwah untuk terus memperbaiki diri, naik kelas dari sekadar pengikut menjadi pemimpin peradaban.
“Kita harus jadi umat sābiqun bil-khayrāt. Bukan hanya reaktif, tapi proaktif. Bukan sekadar mengkritik, tapi hadir membawa solusi.”
Admin: Komimfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
