Oleh: Ust. Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang Pengembangan Studi Al-Qur’an (PSQ) Dewan Da’wah Jatim.
Penulis Buku Geprek Anti Galau
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Rezeki bukan sekadar tumpukan uang di rekening atau harta yang melimpah ruah. Ia jauh lebih luas, lebih dalam, dan lebih bermakna dari sekadar angka. Rezeki adalah setiap detik kehidupan yang kita jalani dengan hati yang tenteram. Ia adalah kesehatan yang membuat kita mampu tersenyum di pagi hari, kaki yang masih kuat melangkah, dan mata yang tetap bisa menatap dunia dengan syukur.
Lihatlah sekeliling. Berapa banyak orang yang bergelimang kemewahan, namun setiap harinya dihabiskan dalam kegelisahan? Kekayaan mereka tak mampu membeli ketenangan. Tidur mereka sering kali gelisah, hati mereka dipenuhi ketakutan akan kehilangan, dan kebahagiaan terasa semakin jauh. Sebaliknya, ada orang-orang yang hidupnya sederhana, mungkin tanpa kemewahan, namun setiap hari mereka jalani dengan penuh rasa syukur. Makan seadanya terasa nikmat, rumah kecil terasa lapang, dan kehidupan mereka penuh dengan tawa yang tulus.
Maka, rezeki sejati bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa besar keberkahan yang menyertainya. Keberkahan itulah yang menjadikan sesuatu yang sedikit terasa cukup, yang membuat hati tetap lapang di tengah keterbatasan, dan yang menjadikan hidup terasa bermakna meski tanpa gemerlap dunia.
Lalu, bagaimana cara membuka pintu rezeki yang Allah sediakan?
Taqwa
Bayangkan seseorang yang tersesat dalam labirin gelap. Langkahnya ragu, tangannya meraba-raba, mencari celah di antara dinding-dinding yang mengungkung. Ia mencoba satu jalan, buntu. Berbalik arah, menemui jalan lain, tetap tak menemukan pintu keluar. Keputusasaan mulai merayapi hati. Namun, di tengah kebingungan itu, ia menemukan sebuah petunjuk—arah yang harus diikuti. Begitu ia taat pada petunjuk tersebut, perlahan jalan terang terbuka, membawanya menuju kebebasan.
Begitulah taqwa bekerja. Ia bukan sekadar rasa takut kepada Allah, melainkan kesadaran penuh untuk selalu berjalan di jalan-Nya, menaati perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Bagi mereka yang bertakwa, Allah menjanjikan lebih dari sekadar bimbingan—Dia menjanjikan jalan keluar dari setiap kesulitan dan rezeki yang datang dari arah yang tak pernah disangka.
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. At-Talaq: 2-3)
Betapa sering kita merasa terjebak dalam masalah, seperti berada dalam labirin yang tak berujung. Namun, bagi hati yang berserah dan tetap teguh dalam ketaatan, Allah selalu punya cara untuk mengeluarkan hamba-Nya dari kesempitan. Sebab, taqwa bukan hanya tentang menjaga diri dari dosa, tetapi juga tentang percaya bahwa setiap langkah dalam ketaatan akan selalu membawa kita menuju cahaya.
Tawakal
Pernahkah kamu memperhatikan burung di pagi hari? Ia terbang meninggalkan sarangnya dengan perut kosong, tanpa tahu di mana tepatnya makanan akan ditemukan. Namun, ia tetap mengepakkan sayap, mencari dengan penuh keyakinan. Lalu, saat senja tiba, ia kembali dengan perut kenyang. Tak ada kekhawatiran berlebih, tak ada keraguan akan jatah rezekinya.
Begitulah Allah mengatur rezeki bagi hamba-hamba-Nya yang bertawakal. Tawakal bukan berarti duduk diam menunggu, tanpa usaha dan ikhtiar. Tawakal adalah keyakinan teguh bahwa setelah usaha terbaik yang kita lakukan, Allah-lah yang akan menyempurnakan hasilnya. Ia adalah kepasrahan yang aktif—bekerja sekuat tenaga, berusaha sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan hati yang tenang.
Sering kali kita gelisah, takut tidak mendapatkan apa yang kita harapkan, cemas akan masa depan yang belum terlihat. Namun, bukankah burung yang kecil saja tak pernah dibiarkan kelaparan? Jika Allah menjamin rezeki makhluk-Nya yang tak memiliki akal dan perencanaan, maka bagaimana mungkin Dia melupakan hamba yang bersungguh-sungguh berusaha dan bertawakal?
Karena sejatinya, tawakal bukan sekadar berserah diri, tetapi juga percaya bahwa setiap langkah yang kita ambil di jalan-Nya tidak akan pernah sia-sia.
وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. At-Talaq: 3)
Shalat
Bayangkan sebuah rumah kecil di sudut desa. Penghuninya hidup sederhana, tak bergelimang harta, tapi ada sesuatu yang berbeda di dalamnya—kedamaian yang begitu terasa. Setiap pagi, sang ayah bergegas ke masjid, ibu membangunkan anak-anaknya dengan lembut, dan suara adzan selalu menjadi panggilan yang ditunggu-tunggu. Mereka menjaga shalatnya, bukan sekadar sebagai rutinitas, tetapi sebagai kebutuhan.
Meski tak mewah, rumah itu terasa lapang. Meski tak selalu berlimpah, rezekinya mengalir cukup. Dan meski cobaan sesekali datang, hati mereka selalu tenang. Inilah keajaiban shalat. Ia bukan sekadar rangkaian gerakan dan bacaan, tetapi kunci yang membuka pintu-pintu keberkahan.
Shalat adalah penghubung antara manusia dengan Tuhannya. Ketika seseorang menjaga shalatnya, ia sejatinya sedang menjaga hidupnya—menjaga ketenangan hati, kemudahan rezeki, dan keberkahan dalam setiap langkah. Betapa sering kita sibuk mengejar dunia, mencari ketenangan di luar sana, padahal solusi terbaiknya ada di sajadah kita.
Karena shalat bukan sekadar ibadah, ia adalah cahaya bagi hati yang gelisah, penyejuk bagi jiwa yang resah, dan jalan bagi rezeki yang berkah.
وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَاۖ لَا نَسۡئلُكَ رِزۡقٗاۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكَۗ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلتَّقۡوَىٰ
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (QS. Thaha: 132)
Istighfar
Bayangkan sebuah jendela kaca yang dulu bening dan memancarkan cahaya ke dalam ruangan. Namun, seiring waktu, debu dan kotoran menempel, membuat cahaya sulit menembus. Ruangan yang dulu terang perlahan menjadi redup, bahkan gelap. Begitulah dosa dalam kehidupan kita—ia seperti debu yang menutupi hati, menghalangi datangnya keberkahan dan rezeki.
Namun, ada satu cara untuk membersihkannya, istighfar. Setiap kali kita memohon ampun kepada Allah dengan tulus, kita seperti mengusap kaca itu dengan lap yang lembut. Semakin sering kita beristighfar, semakin bersih hati kita, semakin mudah cahaya keberkahan masuk.
Istighfar bukan sekadar ucapan di bibir, melainkan kesadaran untuk kembali kepada Allah, mengakui kelemahan, dan berharap ampunan-Nya. Betapa banyak pintu rezeki yang terbuka karena istighfar? Betapa banyak kesulitan yang luruh, beban yang terangkat, dan hati yang kembali tenang karena satu kalimat, astaghfirullah.
Allah sendiri berjanji dalam Al-Qur’an, bahwa bagi mereka yang banyak beristighfar, Dia akan melapangkan jalan hidup, menurunkan hujan keberkahan, dan melimpahkan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Maka, jangan biarkan dosa menjadi penghalang cahaya-Nya. Bersihkan hati, perbanyak istighfar, dan biarkan keberkahan mengalir deras dalam hidup kita.
فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارٗا. يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارٗا. وَيُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوَٰلٖ وَبَنِينَ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ جَنَّٰتٖ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡهَٰرٗا .
maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (Nuh: 10 -12)
Infak
Di sebuah sudut pasar, ada seorang pedagang kecil yang setiap hari menggelar dagangannya. Hasil jualannya tak seberapa, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, ada satu hal yang membuatnya istimewa—ia selalu menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk bersedekah. Tak pernah ia biarkan sehari berlalu tanpa berbagi, meskipun hanya sekeping uang receh atau sekantong kecil makanan bagi yang membutuhkan.
Orang-orang di sekitarnya heran, bagaimana mungkin seseorang dengan penghasilan terbatas bisa terus memberi? Namun, lihatlah kehidupannya—rezekinya tak pernah terputus, keluarganya selalu tercukupi, dan hatinya dipenuhi ketenangan. Itulah rahasia infak. Apa yang terlihat sedikit di mata manusia, di sisi Allah justru dilipatgandakan.
Seperti air di sungai yang terus mengalir, infak membersihkan hati dari rasa tamak dan menggantinya dengan kebahagiaan. Ia bukan sekadar pemberian, tetapi investasi akhirat yang mendatangkan keberkahan dunia. Karena sejatinya, bukan kita yang menjaga harta, tetapi infaklah yang menjaga keberkahan harta kita.
قُلۡ إِنَّ رَبِّي يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦ وَيَقۡدِرُ لَهُۥۚ وَمَآ أَنفَقۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَهُوَ يُخۡلِفُهُۥۖ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ
Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. (Saba: 39)
Ikhtiar
Bayangkan Maryam, seorang wanita yang tengah lemah dalam kesendirian. Di bawah pohon kurma, dengan tubuh yang letih, ia membutuhkan makanan. Allah Maha Kuasa, Dia bisa saja menurunkan buah kurma langsung ke pangkuannya. Namun, tidak. Allah memerintahkannya untuk menggoyangkan batang pohon itu terlebih dahulu. Sebuah perintah sederhana, tetapi penuh makna—bahwa rezeki tak datang dengan sendirinya, ia harus dijemput dengan usaha.
Inilah pelajaran bagi kita. Dalam hidup, kita sering berharap segalanya datang dengan mudah, tetapi Allah mengajarkan bahwa setiap hasil berawal dari ikhtiar. Seorang petani tak bisa hanya menatap tanah dan berharap panen. Ia harus mencangkul, menanam, menyiram, dan merawat. Seorang pedagang tak bisa hanya membuka toko tanpa mencari pelanggan. Seorang pelajar tak bisa hanya berdoa tanpa belajar.
Namun, ikhtiar bukan hanya tentang bekerja keras, tetapi juga tentang meyakini bahwa hasilnya ada dalam genggaman Allah. Kita boleh berusaha sekuat tenaga, tetapi tetap harus menyerahkan keputusan akhir kepada-Nya. Karena pada akhirnya, usaha yang tulus, disertai doa dan tawakal, akan membawa kita pada rezeki yang berkah.
Maka, jangan hanya menunggu. Goyangkan “pohon kurma” dalam hidupmu, lakukan bagianmu, dan biarkan Allah menyempurnakan hasilnya.
وَهُزِّيٓ إِلَيۡكِ بِجِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ تُسَٰقِطۡ عَلَيۡكِ رُطَبٗا جَنِيّٗا
Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. (QS. Maryam: 25)
Dengan mengamalkan 6 kunci ini, bukan hanya rezeki yang datang, tetapi juga hidup yang lebih bermakna. Semakin dekat dengan Allah, semakin mudah rezeki menghampiri kita.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
