Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang Pengembangan Studi Al-Qur’an (PSQ) Dewan Da’wah Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ، وَالأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي النَّاسُ
“Idul Fitri adalah hari ketika manusia berbuka (tidak lagi berpuasa), dan Idul Adha adalah hari ketika manusia menyembelih hewan kurban.” (HR. Tirmidzi No. 802, dinilai shahih oleh Al-Albani)
Makna Idul Fitri
Secara bahasa, Idul Fitri berasal dari dua kata: ‘Id dan Fitri. Kata ‘Id bermakna kembali atau perayaan yang berulang, sedangkan Fitri bermakna berbuka atau tidak berpuasa. Maka, Idul Fitri adalah hari kembalinya umat Islam kepada kebebasan berbuka setelah sebulan penuh berpuasa.
Namun, sebagian orang memahami Idul Fitri sebagai kembali kepada fitrah atau kesucian setelah ditempa Ramadhan. Meski makna ini tidak secara eksplisit disebutkan dalam literatur Islam, substansinya tetap sejalan dengan tujuan puasa: menjadikan kita lebih bertakwa dan kembali ke keadaan yang lebih baik.
وَلِتُكْمِلُوا العِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa Ramadhan), dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)
Hari Bahagia yang Diberkahi
Idul Fitri adalah hari kegembiraan yang tidak hanya bersifat lahiriah, tetapi juga spiritual. Bahkan Nabi Isa ‘alaihissalam pernah berdoa meminta hidangan dari langit sebagai bentuk hari raya bagi umatnya:
اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ
“Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami suatu hidangan dari langit yang hari turunnya akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan sebagai tanda kebesaran-Mu.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 114)
Maka, sudah sepantasnya kita mengisi hari yang mulia ini dengan kebahagiaan yang bermakna: berbagi kebersamaan, mempererat silaturahmi, dan tentu saja tidak berlebihan dalam merayakannya. Sebab, sikap boros (israf) dan berlebihan (tabdzir) adalah perilaku yang dicela dalam Islam:
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
“Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara setan.” (QS. Al-Isra’ [17]: 27)
Kewajiban Zakat Fitri
Sebelum Idul Fitri, kaum Muslimin diwajibkan mengeluarkan Zakat Fitri, sebagai bentuk penyucian diri dan kepedulian sosial. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَدَقَةَ الْفِطْرِ، طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
“Rasulullah mewajibkan zakat fitri sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa dari perkataan yang sia-sia dan perbuatan keji, serta sebagai makanan bagi orang miskin.” (HR. Abu Dawud No. 1609, hasan shahih)
Zakat fitri harus dikeluarkan sebelum shalat Id, agar manfaatnya dapat dirasakan oleh mereka yang membutuhkan pada hari raya.
Shalat Id: Sunnah yang Dimuliakan
Shalat Id adalah salah satu syiar Islam yang sangat dianjurkan. Para ulama sepakat bahwa hukum menghadiri shalat Id adalah fardhu ‘ain bagi laki-laki dan sunnah muakkadah bagi perempuan. Ummu Athiyyah radhiyallahu ‘anha berkata:
أَمَرَنَا – يَعْنِي النَّبِيَّ ﷺ – أَنْ نُخْرِجَ فِي الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ
“Rasulullah memerintahkan kami untuk mengajak keluar para gadis dan wanita-wanita muda pada hari raya.” (HR. Bukhari No. 324, Muslim No. 890)
Bahkan bagi wanita yang sedang haid pun tetap dianjurkan menghadiri tempat shalat Id untuk mendengarkan khutbah, meskipun mereka tidak ikut shalat.
Merajut Silaturahmi dan Saling Memaafkan
Idul Fitri bukan hanya sekadar hari perayaan, tetapi juga momentum untuk memperbaiki hubungan sosial. Kaum Muslimin dianjurkan untuk saling mengucapkan doa dan maaf, seperti yang biasa dilakukan oleh para sahabat:
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
“Semoga Allah menerima (amal ibadah) dari kami dan kalian.”
Dengan hati yang lapang dan saling memaafkan, kita memasuki hari raya dengan jiwa yang bersih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ
“Tidak halal bagi seorang Muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. Bukhari No. 6077, Muslim No. 2560)
Maka, inilah saat yang tepat untuk menghapus segala kesalahpahaman dan kembali menjalin ukhuwah dengan penuh ketulusan.
Penutup
Idul Fitri adalah hari kemenangan yang sejati, bukan hanya kemenangan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga kemenangan melawan hawa nafsu, ego, dan keburukan dalam diri. Mari kita sambut hari yang suci ini dengan syukur, takbir, dan kebahagiaan yang bermakna. Semoga Allah menerima ibadah kita di bulan Ramadhan dan menjadikan kita insan yang lebih baik setelahnya.
Selamat Idul Fitri 1446 H. Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum!
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
