Ruwaibidlah: Ketika Orang yang Tidak Kompeten Berbicara dalam Urusan Publik

Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang Pengembangan Studi al-Qur’an (PSQ) Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ:
سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ: يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الرَّجُلُ التَّافِهُ يَنْطِقُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ. رواه ابن ماجه وأحمد

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda: “Akan datang suatu zaman di mana pada tahun-tahun tersebut penuh dengan tipu daya. Orang yang jujur dianggap pendusta, sementara pendusta dipercaya. Orang yang berkhianat diberikan amanah, sedangkan orang yang amanah dianggap pengkhianat. Dan pada masa itu, ruwaibidlah akan berbicara.”
Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu ruwaibidlah?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Orang yang tidak berkompeten tetapi berbicara dalam urusan kepentingan masyarakat.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

Makna Ruwaibidlah

Dalam hadis di atas, Rasulullah ﷺ mengingatkan umat Islam tentang datangnya suatu masa di mana kejujuran terpinggirkan dan kebohongan diagungkan. Salah satu tanda zaman tersebut adalah munculnya ruwaibidlah, yaitu orang-orang yang tidak memiliki keahlian, tetapi ikut berbicara dan mempengaruhi kebijakan publik.

Secara bahasa, ruwaibidlah berasal dari kata rabadh (رَبَضَ) yang berarti sesuatu yang rendah atau tidak bernilai. Dalam konteks hadis ini, ruwaibidlah merujuk pada orang yang tidak memiliki kompetensi tetapi tetap bersuara dalam hal-hal besar yang menyangkut masyarakat luas.

Fenomena Ruwaibidlah

Hadis ini memberikan gambaran betapa buruknya kondisi moral dan sosial di masa tersebut.

Ketika orang-orang jujur disingkirkan, sedangkan pendusta dan pengkhianat justru dipercaya, maka kehancuran suatu bangsa tinggal menunggu waktu. Salah satu penyebab utamanya adalah keberadaan ruwaibidlah yang ikut serta dalam pengambilan keputusan strategis.

Beberapa karakteristik ruwaibidlah dalam kehidupan nyata:

  1. Minim ilmu tetapi sok tahu – Berbicara dalam ranah yang bukan bidangnya tanpa pemahaman yang benar.
  2. Menyebarkan opini tanpa dasar – Mempengaruhi publik dengan informasi yang keliru atau menyesatkan.
  3. Memanfaatkan media untuk kepentingan pribadi – Menggunakan popularitas atau jabatan untuk membangun citra yang tidak sesuai dengan kenyataan.
  4. Mendukung kebijakan yang merugikan masyarakat – Karena kurangnya kapasitas, mereka mudah dikendalikan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu.

Dampak Kehadiran Ruwaibidlah

Jika ruwaibidlah dibiarkan menguasai ruang publik, akibatnya sangat berbahaya:

  1. Masyarakat mudah terprovokasi – Pendapat tanpa dasar ilmiah dapat memecah belah persatuan.
  2. Pemimpin yang salah dipilih – Karena terpengaruh opini yang salah, masyarakat bisa salah memilih pemimpin.
  3. Kebijakan yang merugikan rakyat – Keputusan yang dibuat oleh orang-orang tidak kompeten akan berdampak buruk bagi kesejahteraan rakyat.

Allah ﷻ berfirman:

وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا قَالُوا قَدْ سَمِعْنَا لَوْ نَشَاءُ لَقُلْنَا مِثْلَ هَذَا إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ. سورة الأنفال: ٣١

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: ‘Kami telah mendengarnya. Jika kami menghendaki, niscaya kami dapat mengucapkan yang serupa dengan ini. Ini hanyalah dongeng orang-orang terdahulu.’” (QS. Al-Anfal: 31)

Ayat ini menggambarkan sikap orang-orang yang berbicara tanpa ilmu, seolah-olah mereka tahu segalanya, padahal mereka sebenarnya tidak memiliki pemahaman yang benar.

Menghadapi Zaman Ruwaibidlah

Sebagai seorang Muslim, kita harus bersikap cerdas dan kritis dalam menghadapi fenomena ini. Beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  1. Menjaga kejujuran dan integritas – Jangan mudah tergoda untuk ikut serta dalam kebohongan yang merugikan masyarakat.
  2. Menuntut ilmu dengan benar – Memastikan bahwa sumber informasi yang kita dapatkan berasal dari orang-orang yang kredibel.
  3. Tidak mudah terpengaruh opini yang menyesatkan – Selalu mencari kebenaran dengan berpikir objektif dan tidak emosional.
  4. Mendukung pemimpin yang amanah – Mengedepankan kriteria pemimpin yang memiliki integritas dan kompetensi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ. رواه الترمذي، رقم ٢٥١٨

“Tinggalkanlah hal yang meragukanmu menuju hal yang tidak meragukanmu, karena kejujuran adalah ketenangan, sedangkan kebohongan adalah kegelisahan.” (HR. Tirmidzi No. 2518)

Hadis tentang ruwaibidlah mengingatkan kita tentang bahaya orang-orang yang tidak berkompeten tetapi ikut menentukan arah kebijakan publik. Mereka adalah simbol dari kondisi sosial yang rusak, di mana kejujuran dipinggirkan dan kebohongan diagungkan.

Sebagai umat Islam, kita harus berhati-hati agar tidak menjadi bagian dari ruwaibidlah ataupun tertipu oleh mereka. Dengan menanamkan nilai kejujuran, memperkuat keilmuan, dan mendukung pemimpin yang benar, kita dapat menjaga masyarakat dari dampak negatif fenomena ini.

Semoga kita selalu berada di jalan kebenaran dan terhindar dari fitnah akhir zaman. Wallahu a’lam bish-shawab.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *