AGAR LULUSAN STUDI ISLAM DI TIMUR TENGAH MENJADI ULAMA


Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id) – Ketua Umum Dewan Dakwah Pusat


Dewandakwahjatim.com, Depok - Puluhan ribu mahasiswa Indonesia saat ini sedang belajar ilmu-ilmu agama (ulumuddin) di berbagai kampus di Timur Tengah. Yang terbesar tentu saja di Mesir, khususnya di Universitas al-Azhar Kairo Mesir. Kita sering mendengar pertanyaan, mengapa lulusan Universitas Al-Azhar tidak semuanya menjadi ulama? Padahal, mereka belajar ulumuddin secara serius.
Pertanyaan  serupa bisa kita tujukan kepada para alumni kampus-kampus di Timur Tengah lainnya. Mengapa banyak yang lulus dari studi Islam di Timur Tengah itu kemudian tidak aktif sebagai ulama atau guru-guru agama setelah pulang ke Tanah Air. 

Dalam beberapa kunjungan ke kampus-kampus Islam di Arab Saudi, Mesir, dan Sudan, saya memahami, bahwa anak-anak yang berkesempatan melanjutkan studi ke kampus-kampus di Timur Tengah itu sebenarnya sangat beruntung. Mereka mendapatkan kesempatan belajar bahasa Arab secara intensif, belajar ilmu-ilmu agama (ulumuddin) yang benar, dan juga mendapatkan lingkungan belajar yang lebih baik dibandingkan dengan lingkungan di negara-negara Barat.
Hanya saja, patut dipahami, bahwa kurikulum yang diberlakukan di sana, adalah kurikulum yang bersifat “linier”. Misalnya, yang mengambil jurusan ilmu syariat, maka ia hanya fokus kepada pendalaman di bidang itu. Begitu juga yang mengambil jurusan ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu dakwah, dan sebagainya. 
Secara umum, mahasiswa kurang ditekankan dan kurang disiapkan untuk menjadi ulama atau dai-dai yang berpikiran integral, sebagai prasyarat menjadi dai dan pemimpin umat. Memang, para mahasiswa itu sendiri yang harusnya melengkapi kekurangan-kekurangan pembelajaran di kampusnya. Banyak mahasiswa Indonesia memanfaatkan kesempatan itu dengan mengikuti berbagai kajian di majelis-majelis taklim di sekitar kampus.
Di Sudan, misalnya, tahun 2014, saya sempat diajak menghadiri mejalis kajian hadits yang diasuh oleh Syekh Amin al-Hajj. Beliau ulama Sudan yang hebat.  Ada beberapa mahasiswa Indonsia yang intensif mengikuti kajian beliau. “Kalau kuliah di sini hanya mengikuti kuliah formal di kampus, amat sedikit ilmu yang kami dapatkan,” kata seorang mahasiswa pasca sarjana di Khartoum, Sudan. 
Begitu juga mahasiswa yang studi di Arab Saudi atau Mesir. Mereka memanfaatkan majelis-majelis ilmu di luar kampus untuk menguatkan keilmuan dan pengalaman kehidupan. Namun, sayangnya, biasanya tidak ada “guru” (mentor/pelatih) yang mengarahkan mereka agar bisa menjalani proses pendidikan sebagai ulama atau pemimpin umat yang memiliki ilmu dan hikmah. 

Kehadiran seorang “pelatih” bagi calon ulama sangat penting. Untuk menjadi pemain bola atau bulu tangkis yang hebat, diperlukan pelatih yang hebat pula. Pelatih adalah pendidik sejati. Ia menjadi tempat bertanya dan rujukan dalam keilmuan dan perjuangan. 

Kehadiran Haji Abdul Karim Amrullah, Zainudin Labay, AR Sutan Mansur, dan Haji Agus Salim, sangat berarti dalam perjalanan pendidikan Hamka, sehingga di kemudian kelak menjadi ulama hebat. Kehadiran A. Hassan, Ahmad Syurkati, dan Haji Agus Salim sangat berarti dalam perjalanan pendidikan seorang Mohammad Natsir.


Salah satu kelemahan studi Islam di Timur Tengah adalah kurangnya pelatihan komunikasi dan pemahaman sejarah serta budaya Indonesia. Sang pelatih dapat melengkapi kekurangan mahasiswa tersebut, sehingga para mahasiswa itu dapat menyampaikan dakwahnya dengan bijak.


Kemampuan komunikasi – lisan dan tulisan – tidak dapat ditawar-tawar lagi, menjadi prasyarat penting bagi kesuksesan pendidikannya. Seorang ulama yang hebat tentu saja dinilai – utamanya – dari karya-karya ilmiahnya yang mencerahkan dan memberikan solusi cerdas dan bijak bagi masyarakat.


Para ulama, pemimpin, dan tokoh masyarakat perlu memberikan perhatian khusus kepada para alumni studi Islam Timur Tengah. Memang, sepatutnya pemerintah pun memberikan perhatian pula. Tetapi, biasanya perhatian dan bantuan pemerintah itu bersifat umum dan terbatas. Perhatian itu mencakup pula masalah ekonomi.


Para sarjana itu sebaiknya diberikan bekal-bekal keterampilan tertentu agar mereka siap terjun ke masyarakat. Juga, para sarjana itu diberikan pemahaman yang memadai tentang kondisi dan situasi masyarakat Indonesia, baik dulu, kini, dan mendatang. Jangan sampai, karena pemahaman terhadap ilmu dan fakta kurang memadai, akhirnya justru menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.


Tapi, di atas semua itu, yang terpenting adalah niat dan tekad untuk berjuang menegakkan kebenaran dan mencegah kemunkaran. Niat mencari ilmu harus benar; niat ikhlas untuk menegakkan agama Allah dan bukan hanya untuk mencari keuntungan duniawi. Mereka harus yakin benar, bahwa siapa pun yang berjuang di jalan Allah, pasti akan ditolong oleh Allah. Siapa pun yang bertaqwa kepada Allah, pasti akan diberikan rizki oleh Allah.
Semoga ke depan, akan banyak ulama hebat waratsatul anbiya yang lahir dari sarjana-sarjana yang pulang dari studi mereka di negara-negara Timur Tengah. Amin. (Depok, 23 Januari 2025).

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor; Sudono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *