Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id), Ketua Umum Dewan Dakwah
Dewandakwahjatim.com, Depok - Percaya atau tidak! Akar masalah dan krisis multi-dimensi yang menimpa negeri kita sebenarnya berakar pada kondisi pendidikan tinggi kita. Karena itu, jika ingin negara kita semakin baik ke depan, maka perbaikilah pendidikan tinggi kita. Perguruan Tinggi kita harus menyelenggarakan pendidikan yang benar dan unggul.
Inilah sebenarnya yang diingatkan Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam Konferensi Pendidikan Islam internasional di Kota Mekkah, tahun 1977. Bahwa, akar krisis yang menimpa bangsa kita berawal dari kekacauan ilmu yang berdampak pada hilangnya adab. Dan itu terutama terjadi pada pendidikan tinggi.
Sebabnya, pendidikan tinggi mendidik orang-orang dewasa. Mereka adalah para calon pemimpin dan pemegang posisi-posisi strategis di tengah keluarga dan masyarakat. Pendidikan yang rusak adalah pendidikan sekular yang melahirkan manusia-manusia serakah dunia yang memandang kehidupan itu hanya kehidupan di dunia ini saja.
Karena melupakan akhirat, akhirnya manusia berbuat sesuka hatinya di dunia. Ia merasa, seolah-olah akan hidup selamanya. Jika yakin akan diadili di akhirat, maka tidak mungkin pejabat negara berani menzalimi rakyatnya; tidak mungkin berani korupsi; tidak akan serakah jabatan. Sebab, ia yakin, akan menerima hukuman berat di akhirat jika melakukan kejahatan dan kedurhakaan kepada Tuhan.
Dalam konferensi di Makkah tahun 1977 itu, salah satu konsep penting dalam Islam yang wajib dipahami oleh umat Islam adalah konsep universitas. Sejak itu, hingga kini, beliau tak henti-hentinya berjuang melahirkan universitas Islam yang ideal. Tahun 1987, terwujudlah Internastional Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC).
Terbuktilah, gagasan universitas ideal itu bukan khayalan atau utopia. Saya sempat menjalani kuliah di kampus yang hebat ini tahun 2003-2009, meskipun ketika itu Prof. al-Attas sudah tidak lagi memimpin dan mengajar di situ. Tapi, saya masih merasakan kehebatan konsepnya. Alumninya pun kini bertebaran di berbagai negara dan memegang peranan penting dalam bidang pendidikan dan pemikiran Islam.
Konsep universitas yang benar dan unggul didasarkan pada inti proses pendidikan, yaitu “inculcation of adab” (penanaman adab). Lalu, ilmu-ilmu fardhu ain diutamakan dan diajarkan secara dinamis. Prof. al-Attas menekankan pentingnya pendidikan sejarah yang benar sebagai salah satu ilmu fardhu ain yang wajib diajarkan kepada semua mahasiswa.
Disamping menjelaskan dan mencontohkan konsep universitas yang benar dan unggul, Prof. al-Attas juga menjelaskan bahaya penerapan konsep universitas modern yang beliau sebut sebagai “simbol manusia dalam keadaan zalim” (“The modern university is the epitome of man in a condition of zulm.”).
Makna universitas (Latin: universitatem) berasal dari istilah kulliyyah yang bertujuan membentuk manusia yang sempurna, atau al-insan al-kulliy – yang akan menjadi para pemimpin sejati, bukan pemimpin palsu. Produk pendidikan universitas dan benar dan unggul adalah manusia-manusia yang baik.
Para pendiri bangsa kita pun menyadari arti penting pendidikan tinggi. Karena itu, pada 8 Juli 1945, didirikan satu universitas Islam di Jakarta. Namanya: Sekolah Tinggi Islam (STI). Ketua panitia pembangunan adalah Mohammad Hatta dan sekretarisnya Mohammad Natsir. Betapa jelinya para pendiri bangsa kita itu memahami akar masalah bangsa kita. Mereka tidak menyerah begitu saja dengan hegemoni pendidikan tinggi model Barat yang dipandang bermutu tinggi oleh masyarakat kita sendiri.
Manusia yang sempurna adalah manusia yang memiliki keimanan dan kuat dan akhlak mulia. Inilah tugas utama universitas, sebagai Perguruan Tinggi yang mengemban amanah melahirkan lulusan yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia. Amanah konstitusi kita itu begitu jelas.
Harusnya, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi contoh dalam melahirkan manusia-manusia ideal yang disebutkan ciri-cirinya dalam UUD 1945 dan UU Pendidikan Tinggi No 12 tahun 2012. Jika PTN banyak melahirkan sarjana yang durhaka kepada Tuhan Yang Maha Esa dan serakah dunia, maka inilah sejatinya akar masalah bangsa kita.
Jangan heran jika korupsi meraja lela, karena sejak memasuki bangku kuliah, mahasiswa kita sudah dipaksa untuk menjadi orang sukses dengan kriteria utama: banyak duitnya dan punya kuasa. Banyak orang tua dan pihak sekolah bangga jika anak dan muridnya diterima di jurusan kuliah yang diduga kuat mudah mendapat kerja dan penghasilannya besar.
Alam sekularisme dan materialisme inilah yang terus-menerus merasuki alam pikiran para mahasiswa dan masyarakat pada umumnya. Sungguh sangat berat hidup di zaman seperti ini. Inilah ujian iman (QS al-Ankabut: 2-3) yang harus kita hadapi. Semoga kita lulus ujian iman ini.
Amat berat pula bagi pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan tinggi yang sesuai amanah konstitusi. Gonta ganti presiden dan menteri pendidikan tidak akan membawa dampak kebaikan yang mendasar bagi masyarakat, jika pendidikan tingginya salah. Sebab, dari pendidikan tinggi yang salah inilah akan lahir para pemimpin dan tokoh-tokoh masyarakat yang salah pula.
Semoga Presiden Prabowo dan menteri-menterinya dapat membuat satu model perguruan tinggi yang menyelengarakan pendidikan tinggi secara benar dan unggul. Amin. (Depok, 19 Februari 2025).
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono
