Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)
Ketua Umum DDII Pusat
Dewandakwahjatim.com, Depok – Tidak diragukan, Presiden Prabowo Subianto dikenal sebagai tokoh yang memiliki komitmen tinggi untuk memperbaiki bangsa. Tapi, patut kita renungkan secara mendalam, akar masalah bangsa kita adalah berurat berakarnya paham sekularisme! Jika ini tidak diatasi, maka program apa saja akan mengalami kegagalan. Ini secara logika ilmiah!
Pahlawan Nasional Mohammad Natsir sudah mengingatkan akan bahaya paham ini bagi bangsa ini. Mari kita simak lagi penjelasannya tentang sekularisme yang disampaikan dalam Sidang Majelis Konstituante, 12 November 1957:
“Apa itu sekulerisme, tanpa agama, la-dieniyah?
Sekulerisme adalah suatu cara hidup yang mengandung paham tujuan dan sikap hanya di dalam batas hidup keduniaan. Segala sesuatu dalam kehidupan kaum sekuleris tidak ditujukan kepada apa yang melebihi batas keduniaan. Ia tidak mengenal akhirat, Tuhan, dsb. Walaupun ada kalanya mereka mengakui akan adanya Tuhan, tapi dalam penghidupan perseorangan sehari-hari umpamanya, seorang sekuleris tidak menganggap perlu adanya hubungan jiwa dengan Tuhan, baik dalam sikap, tingkah laku dan tindakan sehari-hari, maupun hubungan jiwa dalam arti doa dan ibadah. Seorang sekuleris tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengetahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai moral itu ditimbulkan oleh masyarakat semata-mata. Ia memandang bahwa nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah atau pun oleh bekas-bekas kehewanan manusia semata-mata, dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam penghidupan saat ini belaka…
Di lapangan ilmu pengetahuan, Sdr. Ketua, sekulerisme menjadikan ilmu-ilmu terpisah daripada nilai-nilai hidup dan peradaban. Timbullah pandangan bahwa ilmu ekonomi harus dipisahkan dari etika. Ilmu sejarah harus dipisahkan dari etika. Ilmu sosial harus dipisahkan dari norma-norma moral, kultur dan kepercayaan. Demikian juga ilmu jiwa, filsafat, hukum, dsb. Sekedar untuk kepentingan obyektiviteit. Sikap memisahkan etika dari ilmu pengetahuan ada gunanya, tetapi ada batas-batas dimana kita tidak dapat memisahkan ilmu pengetahuan dari etika.
Kemajuan ilmu teknik dapat membuat bom atom. Apakah ahli-ahli ilmu pengetahuan yang turut menyumbangkan tenaga atas pembikinan bom tersebut harus ikut bertanggungjawab atas pemakaiannya atau tidak? Bagi yang memisahkan etika dari ilmu pengetahuan mudah saja untuk melepaskan tanggungjawab atas pemakaian bom itu. Di sini kita lihat betapa jauhnya sekulerisme. Ilmu pengetahuan sudah dijadikan tujuan tersendiri, science for the sake of science.”
Jadi, seorang penganut paham sekularisme (sekularis), hanya memiliki tujuan dan sikap hidup terbatas di dunia ini saja, dan saat ini! “Segala sesuatu dalam kehidupan kaum sekuleris tidak ditujukan kepada apa yang melebihi batas keduniaan!” Artinya, seorang sekularis, tidak memiliki visi akhirat. Tujuan perbuatannya hanya untuk meraih kesuksesan dan kesenangan di dunia ini saja.
Jika para menteri Kabinet Merah Putih berkerja keras HANYA untuk mendapatkan kesenangan duniawi, atau mendapat pujian dari Presiden dan rakyat, maka sang menteri itu telah berpikir secara sekular. Ia tidak memandang jabatannya sebagai amanah pemberian dari Tuhan Yang Maha Esa. Ia tidak meyakini bahwa segala kebijakan dan perilakunya sebagai menteri akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT. Dalam kondisi pemikiran seperti itu, sejatinya sang menteri telah menjadi seorang sekularis.
Bahkan, seorang yang sehari-hari bekerja di institusi keuangan syariat pun bisa menjadi sekular. Yakni, ketika ia memandang syariat Islam itu hanya sebatas aspek dunaawi, dengan membuang visi atau dimensi akhirat. Secara formal hukum Islam, ia bekerja sesuai syariat Islam. Tetapi, pikirannya memandang bahwa syariat itu hanya mekanisme hukum tertentu untuk mendapatkan keuntungan duniawi, bukan diniatkan untuk beribadah dan berjuang di jalan Allah.
Sekularisme dalam pikiran inilah yang sangat berbahaya bagi kehidupan, baik individu maupun masyarakat. Inilah yang dijelaskan oleh Pak Natsir: “Seorang sekuleris tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengetahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai moral itu ditimbulkan oleh masyarakat semata-mata. Ia memandang bahwa nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah atau pun oleh bekas-bekas kehewanan manusia semata-mata, dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam penghidupan saat ini belaka.”
Jadi, sekularisme bukan hanya “pemisahan agama dari sistem kehidupan”. Artinya, sekularisme jangan hanya dipahami sebatas aspek legal-formal kenegaraan. Justru yang sangat mendasar adalah sekularisme yang dimulai dalam pemikiran. Sebab, ini menyangkut worldview dan keimanan.
Sebagai contoh, seorang yang memiliki worldview Islam dan keimanan yang kuat terhadap akhirat, maka ia akan menjadikan kehidupan di dunia sebagai “ladang amal” untuk meraih kesuksesan di akhirat. Kata Raja Ali Haji dalam Gurindam 12: “Diantara tanda orang berakal, di dalam dunia ia mengambil bekal!”
Jika orang menjadikan jabatan dan kesenangan dunia sebagai tujuan hidupnya – dan menafikan kesuksesan hidup di akhirat – maka benar-benar ia seorang yang tidak berakal, alias DUNGU! Tentu, kita tak mau termasuk kategori orang dungu.
Seorang yang lulus pesantren, memiliki ilmu tentang keimanan, syariat, dan akhlak, tetapi tidak mau mengajarkan dan mendakwahkan ilmunya, maka ia benar-benar sangat merugi hidupnya. Ia tidak mensyukuri nikmat yang ia terima. Ia tidak mencintai orang tuanya. Sebab, ia melewatkan kesempatan besar yang diberikan oleh Allah untuk mengumpulkan bekal di dunia bagi kesuksesan akhiratnya, untuk diri dan orang tuanya.
Seorang yang yakin dengan kehidupan akhirat, tidak mungkin mau menzalimi rakyatnya; tidak mau menyusahkan orang lain; tidak mau merusak salam; tidak akan mau korupsi; tidak mau menfitnah atau mencaci maki orang lain; tidak mau mengambil hak orang lain; dan sebagainya.
Nah, sekarang, lihatlah kondisi pendidikan dan masyarakat kita, dengan sejujur-jujurnya! Apakah sudah terjadi darurat sekularisme? Dalam kondisi seperti ini, program Presiden Prabowo yang hebat-hebat, akan berujung kepada kegagalan. Orang sekular tidak akan bahagia hidupnya! Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 9 Januari 2025).
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: ARS & SS
