Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)
Kerua Umum DDII Pusat
Dewandakwahjatim.com, Depok – Kemenangan Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat (AS) disambut dengan sikap apatis oleh banyak kalangan. Trump sudah dikenal sangat pro-zionis. Tindakan buruknya yang terkenal adalah ketika memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem, tahun 2017. Padahal, tindakan itu jelas melanggar hukum internasional.
Umat Islam di AS sempat berharap pada Presiden Obama dan Joe Biden dari Partai Demokrat. Tapi, Presiden Joe Biden pun mendukung tindakan genosida Zionis Israel terhadap warga Palestina di Gaza. Sudah lebih dari 43 ribu warga Palestina terbunuh. Meskipun begitu, pembasmian terhadap etnis Palestina oleh Zionis itu masih terus berlangsung.
Memang, dalam soal politik luar negeri terhadap Isreal, AS belum pernah berubah. AS selalu menempatkan Israel sebagai sekutu khususnya (special ally). Bahkan, politik AS itu bisa dikatakan tidak rasional, alias membabi buta.
Dengan kemenangan Donald Trump, maka hegemoni kelompok konservatif dan kristen-Yahudi fundamentalis diprediksi akan semakin dominan. Kelompok neo-konservatif ini terbiasa memainkan mitos-mitos tentang ancaman terorisme untuk menarik dukungan rakyat.
Dalam bukunya, American Dream, Global Nightmare (2004), Ziauddin Sardar dan Merryl Wyn Davies, mencatat adanya 10 hukum dalam mitologi Amerika (the ten laws of American mythology).
Ke-10 hukum dalam mitologi Amerika itu ialah: (1) Fear is essential, (2) Escape is the reason for being, (3) Ignorance is bliss, (4) America is the idea of nation (5) Democratisation of everything is the essence of America, (6) American democracy has the right to be imperial and express itself throuh empire, (7) Cinema is the engine of the empire (8) Celebrity is the common currency of empire, (9) War is necessity, (10) American tradition and history are universal narratives applicable across all time and space.
“Ketakutan”, tulis Sardar dan Davies, “adalah esensial bagi AS”. Tanpa ‘ketakutan’ tidak ada AS. Ketakutan adalah energi yang memotivasi kekuatan dan menentukan aksi dan reaksi. Ketakutan dapat menghilangkan logika sehat. Isu keamanan menjadi sentral, bahwa rakyat AS dan Israel selalu berada dalam ancaman teroris, terutama dari Hamas
Tapi, kondisi sekarang bisa saja berubah. Dalam kasus pembantaian Israel atas warga Palestina di Gaza, AS hanya didukung oleh beberapa negara saja. Dukungan terhadap Palestina semakin menguat di Eropa, Amerika Latin, Afrika, dan juga di Asia. AS dan Israel tidak berhasil meyakinkan dunia, bahwa Hamas adalah kekuatan teroris yang berbahaya. Sebab, kekejaman Israel terlalu nyata di mata dunia.
Sejak terjadinya peristiwa WTC, 11 September 2001, AS berhasil menggalang opini dunia akan adanya ancaman global bernama terorisme Islam. Dalam bukunya, Who Are We? 2004), Samuel Huntington menegaskan, bahwa pencarian AS terhadap musuh baru pasca Perang Dingin sudah ketemu. Yaitu, militant muslim. Kondisi dunia internasional sudah berubah, khususnya setelah pasuan AS meninggalkan Afghanistan.
Dalam bukunya tersebut, Sardar dan Davies menyebut peran kelompok neo-konservatif dalam penentuan kebijakan luar negeri AS. Kelompok pemikir (think-tank) neo-kon dikenal sebagai Project for the New American Century (PNAC), yang didirikan oleh Dick Cheney, Donald Rumsfeld, Paul Folfowitz, Richard Perle, dan tokoh-tokoh neo-kon lainnya.
Proyek ini dirancang sejak awal 1990-an.
Namun, terhenti dengan kemenangan Clinton. Proyek neo-kon berlanjut lagi dengan kemenangan George W. Bush dan semakin menemukan momentumnya pasca 11 September 2001. Salah satu proyek terkenal diluncurkan pada September 2000 berjudul “Rebuilding America’s Defenses: Strategy, Forces, and Resources for a New Century”.
Dikatakan, bahwa saat ini AS tidak menghadapi rival global. Strategi besar AS harus diarahkan untuk mengambil keuntungan dari posisi ini semaksimal mungkin. Rancangan Pertahanan yang disusun oleh Paul Wolfowitz berkaitan dengan Tata Dunia Baru menyebutkan: “Our first objective is to prevent the reemergence of new rival.” Tandingan dari PNAC dari Partai Demokrat adalah Progressive Policy Institute (PPI), yang juga meluncurkan kebijakan internasional “Progressive Internationalism: A Democratic National Security Strategy”.
Michel Colin Piper memperjelas sosok dan skenario kelompok neo-kon melalui bukunya “The High Priests of War” (Washington DC: American Free Press, 2004). Piper menyebutkan, bahwa jaringan neo-kon bisa dikatakan semacam kolaborasi “the unholy trinity” (Zionis Israel-Kristen Fundamentalis-imperialisme AS).
Jika Presiden Donald Trump masih dikendalikan oleh kelompok neo-kon, maka dunia internasional bisa menghadapi situasi ketidakpastian keamanan global. Sebab, pengambilan keputusan politiknya bisa didasari oleh pertimbangan ideologis, bukan rasional atau kepentingan nasional (national interest) AS, apalagi untuk perdamaian dunia.
Seperti pemindahan Kedutaan AS ke Yerusalem, tahun 2017, bisa saja AS melakukan kebijakan mendukung upaya kelompok fundamentalis untuk mewujudkan Isreal Raya dan melakukan pembasmian etnis Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Sebab, kaum Kristen fundamentalis percaya, Yesus akan datang untuk kali kedua, setelah bangsa Yahudi kembali ke Tanah yang dijanjikan Tuhan (Palestina) dengan sepenuhnya.
Karena itulah, mereka memberikan dukungan terhadap tindakan Zionis Israel untuk membunuh dan mengusir bangsa non-Yahudi dari Tanah yang mereka klaim dijanjikan Tuhan untuk bangsa Yahudi. Kita berharap, dalam posisi AS sekarang ini, dan dunia internasional yang tidak berpihak kepada Israel, Presiden Donald Trump tidak mengambil keputusan politik luar negeri yang bertentangan dengan akal sehat dan hukum internasional. Kita tunggu saja! (Depok, 9 November 2024).
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: ARS & SS
