Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Biro Kaderisasi Ulama DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Cinta tanah air bukan tentang berapa banyak yang kita terima dari negeri ini, tetapi tentang seberapa banyak kebaikan yang sanggup kita persembahkan untuknya.
Sebab negeri bukan ATM yang hanya didatangi ketika membutuhkan. Negeri adalah rumah besar yang harus dijaga oleh seluruh penghuninya.
Maka jangan bertanya, “Apa yang sudah negara berikan kepadaku?”
Ubahlah pertanyaan itu menjadi:
“Apa yang sudah aku berikan kepada negaraku?”
Di situlah kedewasaan seorang warga negara dimulai.
Jabatan hanyalah ruang sementara bagi sebuah pengabdian. Ketika jabatan berakhir, jangan sampai pengabdian ikut berakhir. Yang pensiun boleh jabatan, tetapi jangan sampai jiwa pengabdian ikut pensiun.
Seorang ASN boleh meninggalkan meja birokrasi, tetapi tidak boleh meninggalkan kepedulian kepada masyarakat. Pengalaman yang puluhan tahun dikumpulkan jangan dikubur bersama masa pensiun. Ilmu jangan berhenti di lemari. Jaringan jangan hanya menjadi kenangan. Tenaga dan pikiran jangan berhenti hanya karena tidak lagi menerima tunjangan jabatan.
Sebab pengabdian kepada manusia tidak mengenal SK pensiun.
Demikian pula jabatan.
Jabatan bukan tangga untuk meninggikan diri, tetapi jembatan untuk memperluas manfaat.
Semakin tinggi jabatan seseorang, semestinya semakin panjang jangkauan tangannya untuk menolong. Semakin luas kewenangannya, semakin besar tanggung jawabnya. Dan semakin besar kekuasaannya, semakin berat pertanyaan yang kelak harus dijawab di hadapan Allah.
Begitu pula gelar.
Gelar bukan mahkota. Gelar adalah hutang moral.
Setiap ilmu yang kita peroleh menambah tanggung jawab untuk memberi manfaat. Jangan sampai huruf-huruf akademik memenuhi nama, tetapi tidak pernah menjadi cahaya bagi kehidupan. Jangan sampai seseorang bergelar panjang, tetapi kontribusinya pendek.
Karena ukuran kemuliaan bukan panjangnya gelar, bukan tingginya jabatan, bukan banyaknya fasilitas.
Kemuliaan terletak pada manfaat yang ditinggalkan.
Negeri ini adalah rumah kita.
Dan rumah yang kita cintai tidak boleh kita rusak dari dalam.
Korupsi adalah merusak rumah sendiri.
Pengkhianatan adalah membakar kepercayaan sendiri.
Penyalahgunaan kekuasaan adalah mengambil bagian rumah yang seharusnya menjadi hak orang lain.
Ketidakjujuran adalah membuat fondasi rumah menjadi rapuh.
Lalu bagaimana mungkin seseorang mengaku mencintai tanah air sementara tangannya sendiri ikut merusaknya?
Jangan mencintai Indonesia hanya dengan kata-kata, sementara tindakan kita justru menjadi penyakit bagi Indonesia.
Dakwah yang sejati tidak hanya mengajarkan manusia bagaimana menjadi baik di masjid, tetapi juga bagaimana menjadi amanah di kantor; tidak hanya mengajarkan kekhusyukan dalam ibadah, tetapi juga kejujuran dalam mengelola kekuasaan; tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga tentang tanggung jawab manusia terhadap sesamanya.
Sebab iman yang hidup akan melahirkan amanah.
Dan amanah yang hidup akan melahirkan pengabdian.
Maka seorang Muslim seharusnya tidak menjadi beban bagi masyarakat, apalagi menjadi sumber kerusakan bagi bangsa.
Jadilah orang yang ketika hadir membawa manfaat, ketika dipercaya menjaga amanah, ketika diberi jabatan memperluas kemaslahatan, dan ketika meninggalkan jabatan meninggalkan jejak kebaikan.
Pada akhirnya, kita semua akan meninggalkan negeri ini.
Jabatan akan ditinggalkan.
Gelar akan ditinggalkan.
Kekayaan akan ditinggalkan.
Kekuasaan akan ditinggalkan.
Yang mungkin tetap tinggal hanyalah jejak.
Pertanyaannya:
Jejak macam apa yang akan kita tinggalkan?
Jejak seorang yang pernah mengambil dari negeri ini?
Ataukah jejak seorang yang sepanjang hidupnya berusaha memberikan yang terbaik untuk negeri ini?
Karena mencintai tanah air bukan sekadar mengatakan,
“Ini negeriku.”
Tetapi berani mengatakan:
«“Karena ini negeriku, maka aku harus menjaganya.
Karena ini amanah Allah, maka aku tidak boleh mengkhianatinya.
Karena di dalamnya hidup manusia, maka aku harus memberikan manfaat terbaik yang aku mampu.”»
Jangan pensiunkan pengabdian.
Jangan kuburkan ilmu.
Jangan sia-siakan pengalaman.
Dan jangan jadikan jabatan sebagai kesempatan mengambil dari negeri.
Jadikan hidup sebagai persembahan terbaik untuk umat, bangsa, dan negeri—sebelum akhirnya kita sendiri dipanggil pulang menghadap Allah.
Admin: Komimfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
