SU’UDZON YANG MELAHIRKAN KERUSAKAN SOSIAL

Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Di antara trend zaman sekarang, namun merupakan kebiasaan buruk di berbagai kalangan yakni banyak orang berbangga bangga dengan aktivitas gibahnya. Tak jarang ditemui orang-orang menamakan grup media sosialnya dengan nama grup ‘Gibah’ atau semisalnya. Banyak pula yang bangga saat terus terang mengajak teman untuk menggibah. Awalnya mungkin hanya untuk bercanda, namun akhirnya menjadi kebiasaan buruk dan dilarang agama. Kita berlindung dari perbuatan seperti itu.

اَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْم
Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. Al Hujurat 12

Memang berat meninggalkan perbuatan dosa yang satu ini. Menahan lisan itu tidak semudah menahan dahaga. Orang dengan mudahnya tidak minum, meskipun terik matahari menyengat. Namun, menahan tidak membicarakan kejelekan orang lain di saat kita tahu segala tentangnya itu berat. Karena beratnya itu, maka besar pula balasan bagi hamba yang mampu menjaga lisannya dari mengumbar aib orang, yaitu Allah Ta’ala akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَن نفَّسَ عن مُؤْمنٍ كُرْبَةً مِن كُرَبِ الدُّنيا؛ نفَّسَ اللهُ عَنه كُرْبَةً مِن كُرَبِ يَوْمِ القِيامَةِ، ومَن ستَرَ مُسْلمًا ستَرَه اللهُ في الدُّنيا والآخِرَةِ، ومَن يسَّرَ على مُعْسِرٍ يسَّرَ اللهُ عليه في الدُّنيا والآخِرَةِ، واللهُ في عَوْنِ العَبْدِ ما كان العَبْدُ في عَوْنِ أَخيه

“Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seorang, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Barangsiapa memudahkan orang yang susah, Allah akan mudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699, At-Tirmidzi no. 2945, Ibnu Majah no. 225, Abu Dawud no. 1455, Ahmad no. 7427

يا معشَرَ مَن أسْلَمَ بلِسانِه، ولم يُفْضِ الإيمانُ إلى قلبِه، لا تُؤْذُوا المُسلِمينَ، ولا تُعَيِّروهم، ولا تتَّبِعوا عَوْراتِهم؛ فإنَّه مَن تتَبَّع عَوْرةَ أخيه المسلِمِ تتَبَّع اللهُ عورتَه، ومَن تتَّبَع اللهُ عَورتَه يَفْضَحْهُ ولو في جَوفِ رَحلِه

“Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisannya padahal iman itu belum masuk ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin! Janganlah menjelekkan mereka! Jangan mencari-cari kekurangan mereka! Sebab, barang siapa mencari-cari kekurangan saudaranya yang muslim, niscaya Allah akan mencari-cari kekurangannya. Barang siapa yang Allah cari-cari kekurangannya, niscaya Allah akan membongkar aibnya dan mempermalukannya, walaupun dia berada di dalam rumahnya.” (HR. Tirmidzi no. 2032, Ibnu Hibban no. 5763, dari Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma)

“Barangsiapa yang menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barangsiapa yang membuka aib seorang Muslim, Allah akan membuka aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya.” (Hadits Riwayat Ibnu Majah).

Prasangka tidak hanya merusak cara berpikir, tetapi juga merusak hubungan sosial.

Prasangka buruk (su’udzan) dalam Islam bukan sekadar perilaku moral yang buruk, melainkan perusak cara berpikir yang serius bagi umat Islam. Dalam Islam, prasangka sering kali menjadi akar dari fitnah, adu domba, dan terputusnya silaturahmi, yang pada akhirnya membatasi kemampuan berpikir jernih dan objekti

اِيّاكُم والظنَّ فاِن الظنَّ اَكْذَبُ الحَدِيث
Artinya: Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta (HR. Al-Bukhari).
Hadits di atas sangat penting untuk direnungkan dan dipahami karena penyakit hati berupa prasangka buruk merupakan maksiat yang samar dan terkadang diremehkan oleh manusia.
Padahal Rasulullah saw menyamakan prasangka buruk yang hanya berupa pikiran dan belum diucapkan itu dengan ucapan, bahkan ia disamakan dengan perkataan yang paling dusta. Pernyataan Rasulullah yang menyejajarkan prasangka buruk sebagai ucapan atau perkataan yang paling dusta itu merupakan pelajaran penting dan penggambaran lugas serta mendalam. Nabi Muhammad menunjukkan betapa keji dan jahatnya prasangka buruk

Dalam menjalani kehidupan yang penuh dinamika ini, seringkali kita dihadapkan pada berbagai situasi dan interaksi sosial. Tanpa sadar, kadang hati kita tergelincir pada sebuah penyakit yang sangat berbahaya: berburuk sangka atau yang dikenal dengan istilah su’udz dzan. Ini bukanlah sekadar pikiran negatif biasa, melainkan sebuah racun yang perlahan menggerogoti ketenangan jiwa, merusak hubungan, bahkan menjauhkan kita dari keberkahan.
Kita seringkali melihat keburukan pada orang lain, tanpa mau menelisik lebih dalam apa motivasi atau kondisi di baliknya. Kita mudah menyimpulkan niat buruk, padahal boleh jadi ada seribu satu kebaikan yang tersembunyi. Inilah cikal bakal su’udz dzan, sebuah penyakit hati yang harus kita waspadai bersama.

Ketika kita mulai berburuk sangka kepada seseorang, dinding kepercayaan akan mulai runtuh. Hubungan yang tadinya harmonis bisa menjadi renggang, bahkan putus. Kita akan melihat segala tindakan orang tersebut dari kacamata negatif, padahal mungkin ia tidak bermaksud demikian. Ini akan memutus tali silaturahmi yang diperintahkan dalam Islam untuk selalu disambung.

Ketika prasangka berkembang dalam masyarakat, maka yang muncul adalah:
Seringkali, orang yang suka berburuk sangka adalah mereka yang terlalu fokus pada kekurangan orang lain dan lupa akan kekurangan diri sendiri. Alihkan energi kita untuk muhasabah (introspeksi) dan memperbaiki diri. Dengan sibuk memperbaiki kualitas diri, kita tidak akan punya waktu untuk mengurusi dan menduga-duga keburukan orang lain.

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR Bukhari No 6064, Muslim No 2563.
Prasangka negatif terhadap orang lain tanpa bukti yang jelas, jika dipupuk, akan mendorong seseorang mencari-cari kesalahan (tajassus), membicarakannya (ghibah), dan akhirnya menyebarkan berita bohong atau tuduhan palsu (fitnah). Dalam pandangan Islam, perilaku ini haram dan merusak hubungan antar manusia.

Masyarakat yang dikuasai prasangka akan kehilangan kepercayaan sosial, padahal kepercayaan adalah fondasi kehidupan bersama.

Sekarang zamannya Trend Ghibah
Ghibah atau menggunjing keburukan dan kekurangan orang lain adalah salah satu maksiat yang diharamkan oleh Allah dan penyakit berbahaya yang dapat meruntuhkan kerukunan, persatuan dan ketenteraman masyarakat. Akhir-akhir ini, ghibah semakin marak dilakukan. Jika dulu ghibah hanya dilakukan oleh sekelompok orang di warung kopi, sambil angkot atau di tempat-tempat tertentu yang terbatas, saat ini seiring menjamurnya media sosial ghibah semakin gencar dilakukan, Baik online maupun Offline. Ghibah online melalui media sosial sama dosanya dengan ghibah offline. Oleh karena itu, mengingatkan kepada kita semua akan bahaya dosa ghibah. Masih banyak saudara kita yang seringkali melakukan ghibah tanpa mereka sadari

Ada filosofi matematika yang mungkin dapat kita ambil. Jika kepada kita diberikan sebuah garis lalu kita diminta untuk mendekkan garis tersebut. Maka kita tidak harus menghapus garis yang telah dibuat orang lain, tetapi cukup membuat garis yang lebih panjang. Maka dengan sendirinya garis kita akan terlihat lebih panjang dari garis orang lain. Artinya, untuk menunjukkan kebaikan kita, tidak harus menjelek-jelekkan orang lain – tetapi cukup menambah kebaikan perbuatan kita. Maka dengan sendirinya kebaikan kita akan lebih banyak dengan orang lain.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki kebugaran kumpulan yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula kumpulan perempuan berkomitmen kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang berisi (bully). Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk setelah iman dan barangsiapa yang tidak mengirimkan pesan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim,”
Adakah ini pertanda bahwa rakyat telah dianggap ”melek politik”, Lalu sejatinya apa keuntungan rakyat ikut terseret dalam arus kolektif, seolah ikut bersama-sama dengan para elite mengatur dan memikirkan masa depan bangsa ?. Rakyat menyimpan harapan-harapan sosial yang kemudian mereka wujudkan sebagai sebuah harapan politik. Di dalam masyarakat yang terbuka, masing-masing individu dan kelompok masyarakat akan saling tukar menukar harapan politik. Proses interaksi ini sebagai pertanda bahwa wacana dan mesin kekuasaan sedang bekerja. Sebab hanya dengan kekuasaan, harapan sosial itu bisa diwujudkan dalam bentuk kebijakan politik yang mampu memberi jawaban terhadap harapan-harapan sosial yang diinginkan oleh rakyat..

Ghibah yang terjadi di masyarakat dan di media, tercermin dari merebaknya fakta-fakta ketidakakuratan informasi, sikap saling menjelekkan, menjatuhkan, baik menyangkut jejak rekam kandidat calon presiden atau kelompoknya, atau antarindividu yang mempunyai kepentingan yang berbeda. Kondisi ini ditengarai sebagian sudah masuk pada wilayah fitnah. Yang pada akhirnya akan tidak baik bagi kemajemukan, dan keberlangsungan hidup bersama dan hidup bermasyarakat di kemudian hari. Demokrasi tidak harus diselesaikan dengan cara-cara yang ekstrim di luar pranata sosial dan budaya yang telah terbangun. Demokrasi tetaplah meminta sikap dan toleransi yang besar dari semua elemen anak bangsa.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *