Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat, dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzaab:21)
Rasulullah Saw. telah memberikan contoh (teladan) setiap tindakan baik itu perkataan, perbuatan maupun sikaf yang harus diteladani kaum muslimin. Seperti sholat, beliau katakan shollu kama raitu Muni usholli, makan Laa ta’kuluu bishimaalikum, fainnasy-shaythaana ya’kulu bishimaalihi, begitu juga masalah tidur yang dilakukan setiap harinya.
Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidur di awal malam dan bangun di sepertiga malam terakhir. Hal ini dilandaskan dari sebuah hadits yang dinukil dari istri Nabi Muhammad SAW, Aisyah RA, ia berkata,
: أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ ، وَيَقُومُ آخِرَهُ فَيُصَلِّي . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Artinya: “Rasulullah SAW tidur pada awal malam dan bangun pada penghujung malam. Lalu beliau melakukan sholat,” (HR Muttafaqun ‘alaih).
Waktu kebiasaan bagi Nabi Muhammad SAW untuk tidur malam adalah setelah sholat Isya, kira kira tepatnya pukul 19.45 hingga 20.00. Tidur lebih awal dimaksudkan agar bisa bangun lebih awal untuk sholat malam, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT dalam surat Al Muzammil ayat 1-7,
يٰۤاَيُّهَا الۡمُزَّمِّلُ قُمِ الَّيۡلَ اِلَّا قَلِيۡلًا نِّصۡفَهٗۤ اَوِ انْقُصۡ مِنۡهُ قَلِيۡلًا اَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ الۡقُرۡاٰنَ تَرۡتِيۡلًا اِنَّا سَنُلۡقِىۡ عَلَيۡكَ قَوۡلًا ثَقِيۡلًا اِنَّ لَـكَ فِى النَّهَارِ سَبۡحًا طَوِيۡلًا
Artinya: “Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk salat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu. Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan pada waktu itu) lebih berkesan. Sesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang.”
Menyegerakan Tidur
Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat rinci mengenai adab sebelum tidur. Mulai dari niat, posisi tidur, hingga doa-doa yang dianjurkan. Semua itu bukan hanya membawa manfaat spiritual, tetapi juga berdampak positif bagi kesehatan jasmani.
Selain itu, tidur setelah sholat Isya dianggap sebagai waktu yang tepat dalam menutup amal di malam hari.
“Tidur setelah Isya akan membuat kita lebih mudah bangun untuk sholat malam dan bermunajat kepadaNya.
Abdullah bin Amr bin Al-Ash ra. Beliau mengabarkan,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ أَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا
Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepadanya, “Salat yang paling Allah cintai adalah salatnya Nabi Daud ‘alaihis salam dan puasa yang paling Allah cintai adalah puasanya Nabi Daud ‘alaihis salam. Nabi Daud ‘alaihis salam tidur hingga pertengahan malam, lalu salat pada sepertiganya, kemudian tidur kembali pada seperenam akhir malamnya. Dan Nabi Daud ‘alaihis salam puasa sehari dan berbuka sehari.” HR. Bukhori.
Larangan beraktifitas setelah sholat Isya
Telah disebutkan dalam banyak hadits bahwa Rasulullah SAW sangat menghindari banyak aktivitas setelah sholat Isya, selain tidur. Salah satunya dalam hadits dari Abdullah Mas’ud RA, ia berkata,
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ جَدَبَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّمَرَ بَعْدَ الْعِشَاءِ يَعْنِي زَجَرَنَا
Artinya: “Rasulullah SAW melarang kami berbincang-bincang setelah Isya, yakni melarang dengan peringatan kepada kami,” (HR Ibnu Majah).
Obrolan yang tidak disukai oleh Rasulullah SAW adalah obrolan mubah yang tidak ada kebaikan bagi orang yang mengucapkannya. Sementara obrolan yang membicarakan urusan kemaslahatan kaum muslimin, tholabul ilmi, diskusi hukum syara’ dan semaknanya dianggap tidak ada kemakruhan.
Selain itu, ada beberapa kegiatan yang dibolehkan antara lain, tilawah, menerima tamu, membahas kaum muslimin, dan menuntut ilmu. Jika tidak ada aktivitas penting yang syar’i maka dimakruhkan bermalam setelah Isya.
لاَ سَمَرَ إِلاَّ لِمُصَلٍّ أَوْ مُسَافِرٍ
Artinya: “Tidak ada obrolan (setelah sholat Isya) kecuali bagi orang yang sedang sholat atau orang yang berpergian,” (HR At Tirmidzi).
Keadaan tidur Nabi Muhammad SAW dalam posisi memejamkan mata namun hatinya tetap terjaga.
“Tidak pernah ada orang yang sampai membangunkannya dari tidur, disebabkan beliau selalu bangun dengan sendirinya.”
Pola tidur Rasulullah
Rasulullah SAW memiliki kebiasaan tidur berbaring menghadap ke sisi kanan, dengan tangan kanan diletakkan di bawah pipi. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis Riwayat Al-Bukhari dan Muslim:
Adab lain yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW adalah tidur dengan menghadap ke sebelah kanan sambil berdzikir kepada Allah hingga kedua matanya terpejam dan tertidur.
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila hendak beranjak ke tempat tidurnya pada setiap malam, beliau menyatukan kedua telapak tangannya, lalu meniupnya dan membacakan,“qulhuwallahu ahad”, “qul `a’udzu birabbil falaq”, dan “qul ‘a’udzu birabbin nas”. Setelah itu, beliau mengusapkan dengan kedua tangannya pada anggota tubuhnya yang terjangkau olehnya. Beliau memulainya dari kepala, wajah, dan pada anggota yang dapat dijangkaunya. Hal itu, beliau ulangi sebanyak tiga kali. (HR. Bukhari)
Yuk, mulai kita tiru kebiasaan tidur Rasulullah SAW!
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
