Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Banyak orang berdo’a setiap hari. Mereka mengangkat tangan, menyebut berbagai permintaan, berharap hidup menjadi lebih mudah, lebih kaya, atau lebih nyaman. Namun muncul pertanyaan mendasar: Apakah do’a kita sudah benar? sesuai dengan pola do’a para nabi dalam Al-Qur’an? Ataukah kita justru telah mereduksi do’a menjadi sekadar daftar permintaan pribadi?.
Sebelum membahas lebih jauh, sebaiknya mengetahui bentuk asli kata “do’a” sebagai permintaan dan “da’i” sebagai penyeru, maka kita harus mengetahui terlebih dahulu bentuk huruf asli kata tersebut, dalam istilah bahasa arab disebut “TASRIF” atau kata dasar.
Tasrif kata dasar دعا (Da’aa – berdoa/memanggil) termasuk fi’il tsulatsi mu’tal lam (fi’il yang huruf terakhirnya huruf illah), berwazan.
Tasrifnya meliputi: Da’aa (lampau), Yad’uu (akan), Ud’u (perintah/doa), Daa’in (pelaku/da’i), dan Mad’uwwun (objek).
- Tasrif Istilahy (Perubahan Bentuk Kata)
Fi’il Madi (Lampau): دَعَا (Da’aa – Dia laki-laki telah berdoa)
Fi’il Mudhari’ (Akan/Sedang): يَدْعُو (Yad’uu – Dia laki-laki sedang/akan berdoa)
Masdar (Kata Benda): دَعْوَةً (Da’watan – Sebuah doa/undangan)
Fa’il (Pelaku/Da’i): دَاعٍ (Daa’in – Orang yang berdoa/berdakwah)
Maf’ul (Objek): مَدْعُوٌّ (Mad’uwwun – Yang didoakan/diundang)
Fi’il Amr (Perintah): اُدْعُ (Ud’u – Berdoalah kamu! – huruf illah terbuang)
Fi’il Nahy (Larangan): لَا تَدْعُ (Laa Tad’u – Jangan berdoa/memanggil!).
Jadi kata da’aa menjadi Do’a karena menggunakan dhomir ana (saya) atau nahnu (kami/jamak) contoh Rabbanâ (Ya Tuhan kami).
Untuk menjawabnya, kita perlu kembali kepada Al-Qur’an, khususnya ayat yang sangat terkenal:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ
“Tuhanmu berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). (QS Ghafir 40:60)
Selama ini, ayat ini sering dipahami sebagai jaminan bahwa setiap permintaan akan dikabulkan. Namun jika ditelaah lebih dalam secara bahasa dan pola penggunaan dalam Al-Qur’an, kata ud‘ūnī berasal dari akar kata da‘ā, yang juga melahirkan kata da‘wah. Akar maknanya bukan sekadar “meminta”, tetapi juga menyeru, mengajak, dan melibatkan.
Dengan demikian, ayat ini bukan sekadar untuk meminta kepada Allah, tetapi juga “panggilan untuk mengajak ajaran Allah masuk ke dalam kehidupan kita.” Ketika manusia menyeru Allah dalam arti menghidupkan petunjuk-Nya, maka Allah “merespons” dengan membimbing kehidupan itu melalui sistem dan hukum-Nya.
Do’a Para Nabi: Bukan Meminta Materi, tetapi Meminta Pembinaan
Jika kita perhatikan do’a-do’a para nabi dalam Al-Qur’an, kita akan menemukan pola yang sangat berbeda dari do’a kebanyakan manusia hari ini.
Para nabi tidak berdo’a meminta kekayaan. Mereka tidak meminta kemewahan. Mereka tidak meminta kenyamanan hidup. Sebaliknya, mereka berdo’a untuk kapasitas diri dan keberhasilan menjalankan misi.
- Nabi Musa: Meminta kapasitas, bukan kemudahan materi.
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Artinya: “Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS. Taha ayat 25-28).
Yang diminta bukan kekayaan, tetapi:
- kelapangan dada (stabilitas mental),
- kemudahan menjalankan tugas,
- kemampuan komunikasi.
Ini adalah “do’a seorang pembangun peradaban, bukan pencari kenyamanan pribadi.”
- Nabi Sulaiman: Meminta kemampuan bersyukur dan beramal benar
رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصّٰلِحِينَ ..
” Ya Tuhanku, berikanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhoi dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu kedalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh.” (QS. An-Naml : 19)” (QS An-Naml 27:19)
Yang diminta adalah:
- kesadaran,
- kemampuan bersyukur,
- kemampuan beramal benar.
Bukan tambahan kekuasaan, tetapi kemampuan menggunakan kekuasaan dengan benar.
- Nabi Ibrahim: Meminta kesinambungan sistem nilai.
رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan sebagian anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.
(QS Ibrahim 14:40)
Yang diminta adalah ” keberlangsungan sistem pembinaan, bukan keuntungan pribadi.”
Doa sebagai Arah Hidup, bukan Sekadar Permintaan
Dari pola do’a para nabi, kita dapat melihat bahwa do’a adalah penyelarasan diri dengan misi ilahi, ” bukan sekadar permintaan untuk memenuhi keinginan pribadi”.
Do’a adalah:
Aarah hidup,
Komitmen batin,
Kesediaan untuk dibimbing,
Kesiapan menjalankan tugas.
Inilah makna mendalam dari:
“Ud‘ūnī astajib lakum”
Serulah Aku — libatkan petunjuk-Ku dalam hidup kalian — maka Aku akan merespons dengan membimbing kalian.
Respons Allah bukan sekadar memberi sesuatu secara instan, tetapi ” membentuk manusia melalui hukum dan sistem-Nya.”
Mengapa Banyak Do’a Tidak Mengubah Kehidupan?
Masalahnya bukan pada ayatnya. Masalahnya pada pemahaman kita.
Jika do’a hanya menjadi ritual meminta tanpa perubahan pola pikir, tanpa pembinaan diri, tanpa keterlibatan dengan petunjuk Allah, maka do’a kehilangan fungsinya sebagai alat transformasi.
Allah melanjutkan ayat tersebut dengan peringatan:
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari pengabdian kepada-Ku akan masuk Jahannam dalam keadaan hina. (QS Ghafir 40:60)
Kesombongan di sini bukan sekadar sikap emosional, tetapi penolakan terhadap sistem pembinaan Allah.
Shalat dan Do’a: Forum Pembinaan, bukan Forum Permintaan
Dalam Al-Qur’an, shalat bukan sekadar ritual, tetapi sarana pembinaan kesadaran.
Melalui shalat dan do’a, manusia:
- menyelaraskan diri dengan wahyu,
- memperkuat kesadaran,
- membangun stabilitas batin,
- memperjelas arah hidup.
Do’a menjadi sarana untuk mengundang nilai-nilai Allah masuk ke dalam pikiran, keputusan, dan tindakan.
*Evaluasi: Apakah Do’a Kita Sudah Seperti Do’a Para Nabi?
Pertanyaan untuk refleksi pribadi.
Apakah do’a kita berisi:
Permintaan kenyamanan, atau kesiapan menjalankan tanggung jawab?
keinginan dilayani, atau kesiapan dibimbing?
Keinginan menerima, atau kesiapan menjadi bagian dari misi?
Para nabi berdo’a untuk menjadi lebih kuat, lebih sadar, lebih mampu menjalankan tugas.
Mereka tidak berdo’a untuk melarikan diri dari tanggung jawab, tetapi untuk memikulnya dengan benar.
Kesimpulan: Do’a adalah Undangan Transformasi
Do’a bukan alat untuk memaksa Tuhan memenuhi keinginan manusia. Do’a adalah proses manusia membuka diri terhadap bimbingan Tuhan.
Makna sejati dari: “Ud‘ūnī astajib lakum” adalah “panggilan untuk menjadikan wahyu sebagai pusat kehidupan.”
Ketika manusia mengajak Allah dalam hidupnya “dalam pikiran”. keputusan, dan tindakan “maka Allah merespons dengan membimbing” kehidupan itu menuju arah yang benar.
Inilah do’a para nabi. Bukan do’a seorang peminta. Tetapi doa seorang pembangun
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
