Cinta Hamka kepada Allah Tak Ada Bandingannya

Oleh M. Anwar Djaelani, pengurus Dewan Da’wah Jatim serta penulis buku Ulama Kritis Berjejak Manis dan sebelas judul lainnya

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Judul di atas, insya Allah tak berlebihan. Judul itu berasal dari pengakuan Hamka sendiri di bagian awal Tafsir Al-Azhar. Di situ, di bawah judul “Hikmat Ilahi”, Hamka berkisah tentang pengalaman pahitnya saat ditahan oleh rezim Orde Lama. Hamka juga menulis beberapa hikmah atas penahanan dia.

Pahit, Pahit!

Pada 27 Januari 1964, bertepatan dengan 12 Ramadhan 1385 H, siang hari Hamka dijemput aparat keamanan di rumahnya. Dia ditangkap (hanya berdasar fitnah) dan ditahan. Bersama dia, sejumlah aktivis Partai Masyumi juga ditahan secara sepihak oleh penguasa. Tuduhannya, akan melakukan makar dan merencanakan pembunuhan atas Presiden Soekarno.

Berhari-hari Hamka diinterogasi, tak kenal henti. Disebut berhenti hanya ketika makan dan shalat saja. Bahkan, di saat tidur pun diganggu. Rupanya, target aparat, harus ada pengakuan bersalah dari Hamka.

Mengingat Hamka memang tak melakukan hal yang dituduhkan, maka pemeriksa tentu tak bisa mendapatkan apa yang mereka harapkan. Akhirnya, keluar kalimat provokatif dari pemeriksa: “Saudara pengkhianat, menjual negara ke Malaysia”.

Kalimat itu pendek, tapi sangat melukai hati Hamka. Gelap pandangan Hamka saat mendengar tuduhan “Pengkhinat, menjual negara ke Malaysia”. Gemetar Hamka menahan marah.


Betapa tak akan marah! Sebelumnya, selama hidup, tak ada yang berani berkata-kata kasar kepada Hamka. Dia berasal dari keluarga yang terpandang, dari garis ayah dan kakek semua ulama berpengaruh. Ayahnya, Dr. Abdul Karim Amrullah – Ulama Besar. Dengan begitu, sedari kecil Hamka telah mendapat penghormatan masyarakat.

Sejak beranjak dewasa, Hamka sendiri adalah aktivis dakwah yang turut membangun masyarakat terutama dari aspek keagamaan. Tulisan-tulisannya sangat menginpirasi banyak pembaca. Di latar Indonesia, Hamka adalah salah satu tokoh nasional yang giat berusaha menguatkan negeri ini termasuk lewat sisi politik. Sebagai Ulama Besar, pada 1959, posisinya itu diakui oleh Universitas Al-Azhar Mesir yang berkenan menganugerahi Hamka gelar Doktor Honoris Causa.

Tuduhan “Pengkhianat dan penjual negara ke Malaysia” membuat Hamka sangat terpukul. Kala itu, andai menuruti marah, bisa saja Hamka “membuat perhitungan” dengan si pemeriksa yang ada di depannya. Tapi, jika itu dilakukannya, sebutir peluru tak sulit untuk mengakhiri hidupnya. Lalu, besoknya dapat disiarkan di berbagai media, bahwa Hamka lari dari tahanan. Dia dikejar, dan tertembak mati.

Hamka sadar dan lalu terduduk. Hamka menangis.“Janganlah saya disiksa seperti ini, bikinkan saja satu pengakuan bagaimana baiknya. Akan saya tandatangani. Tetapi kata-kata demikian–pengkhianat dan penjual negara-janganlah kalian ulangi lagi,” pinta Hamka ke pemeriksa.
“Memang Saudara pengkhianat,” kata pemeriksa itu lagi sambil pergi.

Remuk hati Hamka! Lalu, datang tamu tak diundang, setan. Dia bisikkan ke Hamka, ada silet di sakunya. Dengan benda tajam itu, dia bisa bunuh diri agar masyarakat tahu bahwa Hamka mati karena tidak tahan menderita akibat penahanan yang sewenang-wenang.
Hampir satu jam terjadi perang hebat di diri Hamka, antara ikut rayuan setan atau bertahan dengan iman yang telah dibina berpuluh-puluh tahun. Di pertarungan batin yang sengit itu, Hamka sampai sempat membuat surat wasiat yang akan disampaikan kepada anak-anaknya di rumah.

Hamka lalu berpikir, jika dia bunuh diri maka mereka yang menganiaya itu akan menyusun “berita indah”, bahwa: Hamka kedapatan bunuh diri karena malu setelah polisi menunjukkan beberapa bukti atas pengkhianatannya. Tentu, ini akan menghancurkan nama baik Hamka yang telah diperolehnya lewat jalan panjang perjuangan puluhan tahun.

Hal lain, jika dia bunuh diri, nanti akan ada orang yang berkata bahwa dengan bukunya–yaitu Tasawuf Modern-Hamka meminta orang agar sabar, tabah, dan teguh hati bila mendapat ujian Allah. Orang-orang yang membaca bukunya itu semuanya selamat karena nasihatnya, tapi dirinya sendiri memilih jalan yang sesat. Pembaca bukunya masuk surga karena bimbingannya, sementara Hamka di akhir hayatnya memilih neraka.

Setelah sempat terjadi pergulatan batin yang dahsyat, iman Hamka menang. Hamka terlepas dari kemungkinan terpedaya setan. Hamka terlepas dari godaan untuk bunuh diri.

Setelah pemeriksaan yang bernuansa horor karena sangat menekan batin Hamka itu, penahanan tetap berlanjut. Sampai suatu saat, karena sakit, Hamka dipindah ke salah sebuah Rumah Sakit di Jakarta.

Manis, Manis!

Warna hidup adalah duka dan suka. Hamka berada dalam bayang-bayang duka saat ditahan secara sewenang-wenang (tanpa kesalahan yang bisa dibuktikan). Hamka disapa rasa suka kala di tahanan dia punya banyak kesempatan melengkapi tafsir Al-Qur’an yang kemudian diberi nama Tafsir Al-Azhar.

Mari lihat beberapa pengalaman Hamka di dalam tahanan. Pertama, Hamka tetap merasa merdeka. “Siapakah yang beroleh kemerdekaan jiwa? Apakah kami yang dianiaya dan difitnah, ataukah penganiaya dan tukang-tukang fitnah itu sendiri,” demikian refleksi Hamka.

Kedua, Hamka tetap bersyukur. Dia tidak dapat menghitung berapa nikmat Allah yang telah diterimanya. Satu di antaranya, Hamka tidak termasuk dalam golongan tukang fitnah dan tidak pula termasuk orang yang zalim.

Hamka bersyukur sebab selama dalam tahanan dia punya waktu yang cukup dalam mengerjakan tafsir di waktu siang. Di malam hari Hamka mendapat kesempatan yang sangat luas buat beribadah, termasuk buat Tilawatil Qur’an sampai khatam lebih dari 100 kali. Hamka mendapat kesempatan buat shalat tahajjud dan bemunajat hampir setiap malam. Buku-buku penting dalam hal tasawuf, tauhid, filsafat agama, hadits-hadits, tarikh pejuang-pejuang Islam dan lain-lain dapat Hamka baca. Singkat kata, Kesimpulan Hamka, kalau bukan karena ditahan maka tidaklah dia akan mendapatkan kesempatan seluas itu. Hamka pun mengambil pelajaran: “Di waktu segala jalan hubungan di bumi ditutup orang, hubungan ke langit lapang terluang” (2003: 57).

Di titik ini Hamka ingat perkataan Ibnu Taimiyah saat dia ada di dalam penjara karena tidak mau tunduk kepada keinginan penguasa. Berkatalah Ibnu Taimiyah kepada muridnya-Ibnu Qayyim-yang sama-sama dipenjarakan oleh penguasa: “Apakah lagi yang didengkikan oleh musuh-musuh kepadaku? Penjara bagiku adalah untuk berkhalwat. Pembuangan adalah untuk menambah pengalaman. Orang yang terpenjara ialah yang dipenjarakan hawa-nafsunya dan orang yang terbelenggu itulah yang telah dibelenggu setan”.

Hamka bersyukur karena dua tahun empat bulan dia “diistirahatkan” Allah sehingga tidak kena kotoran zaman kezaliman. Jika misalnya Hamka ada di luar penjara pada masa itu, mungkin untuk menjaga keselamatan diri sendiri dia terpaksa menempuh jalan orang munafik yaitu turut menyokong kezaliman padahal berlawanan dengan hati.

Hamka bersyukur, karena merasa sangat banyak yang mencintainya. Itu, dapat dirasakan dari kunjungan tamu-tamu dari berbagai kalangan. Itu dirasakan ketika Hamka berada dalam tahanan di Rumah Sakit, sebagai tahanan rumah, dan sebagai tahanan kota.
Tamu-tamu itu, antara lain, dari Makassar, Banjarmasin, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Aceh, Sumatera Timur, dan Palembang. Tamu yang dari Palembang ialah seorang ulama dari Mesir. Dia dosen salah satu perguruan tinggi Islam di sana. Beliau menyampaikan pula bahwa ulama-ulama di Al-Azhar Mesir mendoakan semoga Hamka lekas lepas dari bencana penjara ini.

Di samping itu, ada tamu yaitu beberapa kawan yang baru kembali dari mengerjakan haji. Darinya Hamka menerima kabar bahwa beratus orang dari jamaah haji itu mendoakan Hamka di Multazam: Semoga keadilan Allah berlaku, kejujuran menang, dan kecurangan tumbang.

Selanjutnya, hal yang berikut ini termasuk yang paling Hamka syukuri. Bahkan, mungkin sampai Hamka wafat akan tak hilang-hilang dari ingatan peristiwa di sehari setelah dia dibebaskan dari tahanan. Apa pasal? Pihak Kejaksaan Agung dan pihak Panglima Angkatan Kepolisian mengeluarkan surat keterangan bahwa Hamka tidak bersalah. Oleh karena itu kepada Hamka tidak akan diadakan tuntutan. Hamka dibebaskan.

Doa Kita

Alhasil, kata Hamka, dia benar-benar bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah Dia berikan kepadanya. Bagi Hamka, kezaliman manusia diputar oleh Allah menjadi nikmat.

Hamka difitnah, dizalimi, dan dipisahkan dari masyarakat. Masya Allah, dengan itu semua, malah iman Hamka makin kuat kepada Allah. “Cintaku (kepada Allah) tidak dapat lagi diperbandingkan dengan segala macam cinta,” tutur Hamka (2003: 57-58).

Demikianlah, sebagian kisah hidup Hamka sudah kita saksikan. Kisah, yang sangat boleh jadi membuat kita ingat dua hadits berikut ini:
“Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Semakin besar ujian, semakin besar pahala. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan ujian kepada hamba tersebut.

Siapa yang ridho dengan ujian tersebut maka Allah akan ridho kepadanya dan siapa yang marah, murka dan kecewa dengan ujian tersebut, maka Allah akan marah kepada orang tersebut” (HR Tirmidzi).
“Orang yang paling hebat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang orang shalih, kemudian orang-orang di bawah itu dan kemudian di bawah itu. Seseorang diuji berdasarkan kadar agamanya. Jika agamanya kuat dan mantap maka akan ditambah hebat ujiannya, dan jika agamanya kurang maka kurang pula penderitaannya” (HR Ahmad).

Semoga, makin hari iman kita terus bertambah kuat. Mudah-mudahan berbagai ujian berat yang kita hadapi dapat mengukuhkan cinta kita kepada Allah, sekukuh yang dimiliki Hamka.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *