MENELADANI HAMKA, AGAR BISA MENJADI MUFASIR AL-QURAN


Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

Ketua Umum DDII Pusat

Dewandakwahjatim.com, Depok - Buya Hamka dikenal sebagai seorang ulama pejuang yang karya tulis dan karya perjuangannya sudah dikenal luas oleh umat Islam di kawasan Asia Tenggara. Ia lahir pada 17 Februari 1908. Ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), dikenal pula sebagai ulama dan tokoh pembaru pendidikan Islam. 

Sejak kecil, Hamka sudah diarahkan oleh ayahnya untuk menjadi ulama. Ayahnya merencanakan untuk mengirim Hamka belajar ke Mekkah selama 10 tahun. “Sepuluh Tahun” dia akan dikirim belajar ke Mekkah, supaya kelak dia menjadi orang alim pula seperti aku, seperti neneknya dan seperti nenek-neneknya yang dahulu,”  tutur Haji Abdul Karim Amrullah (1879-1945 M), sang ayah Hamka.
Tapi, meskipun ayahnya seorang ulama besar, masa kecil Hamka tidak sepi ujian. Ayah dan ibunya bercerai. Hamka berkisah tentang masa kecilnya: “Alangkah pahitnya masa anak-anak. Pergi ke rumah ayah bertemu dengan ibu tiri, ke rumah ibu ada ayah tiri. Semua boko (keluarga pihak ayah) membenciku.”

Dalam diri Buya Hamka memang mengalir darah pahlawan dan darah ulama. Syekh Guguk Katur (Buyut Hamka) adalah murid terkemuka dari Tuanku Pariaman, ulama dan pahlawan Perang Paderi. Meskipun di waktu kecil sempat mengalami hubungan yang kurang akrab dengan ayahnya, tetapi ayahnya terus berdoa dan berusaha agar anaknya ini menjadi ulama. Dalam autobiografinya Hamka berucap: “Akan selamatlah suatu bangsa kalau orang tua dan gurunya mengenal jiwa anak diwaktu demikian”


Disamping ayahnya, guru lain yang berperan penting dalam membentuk kecintaan Hamka terhadap ilmu adalah Zainuddin Labay el-Yunusy – kakak kandung dari Rahmah el-Yunusiyyah, pendiri Diniyah Putri Padang Panjang. Hamka sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Desa lalu berpindah ke Madrasah Tawalib. Pagi dimasukkan di Sekolah Diniyah, sore ke Sekolah Tawalib. Di Sekolah Diniyah ia diajarkan menulis dan membaca menggunakan huruf Melayu dan huruf latin, serta pelajaran-pelajaran agama. Adapun di Sekolah Tawalib ia mendapatkan materi nahwu, sharaf, fiqih, hadis dan lainnya.
Di Sumatera Thawalib yang dibangun oleh ayahnya ini, Hamka mempelajari ilmu agama dan mempelajari bahasa Arab. Ia juga kursus bahasa Inggris kepada Sutan Marajo. Hamka seorang pembelajar dan punya hobi belajar di Perpustakaan Zainaro. Hampir setiap hari ia datang ke perpustakaan itu.
Semangat belajarnya dilanjutkan dengan berangkat ke Jawa tahun 1924 (umur 16 tahun). Di Pulau Jawa inilah Hamka belajar berbagai hal kepada banyak guru pejuang, seperti Ki Bagus Hadikusumo. Ia sempat ikut belajar di Syarikat Islam. Ia juga mendapat pelajaran dari tiga tokoh besar dalam sejarah tanah air, yaitu H.O.S. Tjokroaminoto, R.M. Suryopranoto, dan H. Fakhruddin, yang kelak menjadi pemimpin terkenal Muhammadiyah, dan Buya St. Mansur, ulama mujahid dan tokoh Muhammadiyah.
Setahun di Pulau Jawa, Hamka mendapatkan energi baru untuk semakin aktif dalam aktivitas dakwah. Tahun 1927 – ketika umurnya 19 tahun – Hamka pergi ke Mekkah untuk menuntut ilmu. Ia ingin menetap di Mekkah selama bertahun-tahun. Tapi, ia dinasehati oleh Haji Agus Salim agar segera kembali ke Tanah Air.
Inilah nasehat Haji Agus Salim kepada Hamka: “Lebih baik pulang. Banyak pekerjaan penting berhubungan dengan pergerakan, studi dan perjuangan yang dapat engkau alami di Indonesia”. Beliau juga melanjutkan “Lebih baik engkau kembangkan dirimu di tanah airmu sendiri.”


Hamka menuruti nasehat Haji Agus Salim. Ia kemudian aktif dalam dunia pergerakan Islam dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada saat yang sama, Hamka terus belajar dan mengasah ketajaman penanya dengan melahirkan begitu banyak karya tulis.


Jadi, Buya Hamka adalah seorang pejuang dan pembelajar sejati. Ia bukan hanya belajar dari kitab-kitab klasik dan modern tetapi juga aktif dalam dakwah, sehingga bisa memahami masalah umat dan mampu memberikan solusinya. Inilah modal penting bagi Hamka untuk kemudian menjadi mufasir al-Quran.
Pengalaman hidup dan pendidikan Buya Hamka ini penting diperhatikan oleh para penghafal dan pengkaji ilmu-ilmu al-Quran agar mereka juga mampu menjadi mufasir yang baik. Sebab, al-Quran adalah hudan lin-nas (Petunjuk untuk manusia). Al-Quran bukan hanya untuk dibaca dan dihafal, tetapi harus dipahami dan diamalkan.


Para mufasir al-Quran harus mampu memahami pesan-pesan dan konsep-konsep kehidupan dalam al-Quran dan pada saat yang sama juga harus mengenal dan memahami problematika masyarakatnya dengan baik. Tidak cukup hanya menghafal dan menguasai ilmu-ilmu al-Quran. Sederhananya, intelektualisme dan aktivisme harus dipadukan secara proporsional, sehingga membentuk pribadi yang cinta ilmu, cinta dakwah, dan berakhlakul karimah.
InsyaAllah, kehidupan dan pendidikan Buya Hamka bisa dijadikan sebagai model dalam melahirkan ulama-ulama pewaris para nabi. Yakni, ulama-ulama pejuang yang juga mampu menjadi mufasir al-Quran yang mumpuni. Semoga Allah menolong kita semua. Amin. (Depok, 22 Mei 2024).

Admin: Kominfo DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *