Tantangan Dakwah Di Tengah Generasi Millenial

Oleh : Ustadz Bagus Masyroni (Bidang Pengembangan Studi Al-Qu’ran DDII Jatim)

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Generasi Milenial adalah generasi yang unik. Ibarat karet spons, mereka bisa menyerap informasi apa saja yang berlalu-lalang di sekitar mereka: game online, medsos, kuliner, apa saja, tak terkecuali pornografi, sekularisme, liberalisme, seks bebas, serta propaganda-propaganda lain yang merusak karakter. Generasi millenial adalah generasi istimewa, mereka lahir di tengah pesatnya arus informasi yang dikemas secara canggih, dikayakan dengan berbagai fitur menarik, disebarkan secara massive, dan lebih dari itu semuanya bisa diakses dengan sangat mudah, serba bebas-akses, serba mudah-akses, sekaligus sangat memanjakan indera rasa, mata, dan juga telinga.

Generasi Millenial Generasi Ahli Sorga

Seorang sosiolog secara berseloroh mengatakan generasi millenial adalah generasi ahli sorga. Segala apa yang mereka mau tinggal mainkan jari, segala apa yang mereka ingin tinggal sentuh layar. Tak perlu susah, tak perlu keluar keringat, sambil ‘leyeh-leyeh’pun semua bisa hadir secara nyata (walaupun bayar). Bahkan yang lagi bokek pun tak masalah, tinggal sentuh ‘bank-bank’ online yang bertebaran di internet, semua masalah teratasi (tentu dengan menimbulkan masalah baru lagi). Tampaknya sang sosiolog ingin mengatakan bahwa generasi millenial adalah generasi ahli sorga, tapi sorga dunia… Whatever… itulah realitas yang menjadi tantangan para pendakwah di era millenial saat ini dan di waktu-waktu yang akan datang

Menguasai Sebuah Bangsa

Kecanggihan teknologi informasi dan kemudahan mengaksesnya di manapun berada, sangat sulit untuk tidak mengatakan bahwa ini adalah piranti-piranti yang besar faedahnya bagi umat manusia. Apalagi di era pandemi ini, teknologi informasi hadir bak dewa penolong, menjadi jembatan komunikasi antara penjual dengan pembeli, antara guru dengan murid, antara pengguna jasa dengan penyedianya, antara produsen dengan konsumennya, boss dengan bawahannya, dsb. Pendeknya teknologi informasi telah menjadi piranti yang mutlak harus ada untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia serta merajutkan kembali “komunikasi yang terputus” antar-orang, terutama setelah diberlakukannya pembatasan ketat kontak langsung antar-manusia.


Teknologi informasi adalah sebuah keniscayaan yang mustahil dibantah. Ia adalah malaikat penolong umat manusia ketika informasi telah menjadi asupan nutrisi utama yang sejajar dengan 5 bahan pokok. Namun ibarat pisau bermata dua, teknologi informasi adalah juga setan terkutuk yang punya daya rusak sangat brutal terhadap karakter manusia. Dan bukan tidak mungkin bahwa pemutakhiran teknologi informasi secara massive saat ini juga ditujukan untuk melemahkan, menguasai, bahkan menjajah sebuah bangsa. Pengembangan dan pengayaan secara simultan fitur-fitur hiburan tak berfaedah semacam tik-tok, bigo lite, smule, game online dll, justru menjadi menu yang paling digemari oleh kalangan millenial. Fitur-fitur itu telah menjelma menjadi “narkoba baru” yang tak kalah dahsyat daya rusaknya, nyaris sama seperti narkoba orde lama. Bukan berita baru lagi jika belakangan ini banyak peristiwa miris terjadi, seperti maraknya perkosaan, pelecehan seksual, kecanduan game online, kecanduan pornografi, maraknya seks bebas, pembullyan siswa sekolah di berbagai tingkat, yang semua itu sangat mungkin disebabkan rusaknya benteng iman yang dibombardir terus-menerus oleh berbagai konten informasi negatif yang bertentangan dengan ajaran dan nilai Islam. Celakanya saat ini hampir sebagian besar konten negatif bebas diakses oleh siapa saja tak peduli batasan umur, strata sosial, dan tingkat pendidikan. Semua orang bisa mendapatkannya kapan saja, dimana saja tanpa kendala sedikitpun

Menumbuhkan Ghirah di Kalangan Millenial

Menggeliatkan otak millenial untuk peduli terhadap pentingnya pembentukan karakter (iman & tagwa) bukan perkara gampang, tak semudah menyeruput kopi di cafe-cafe yang merajalela di seantero negeri. Ini adalah perkara yang “maha sulit”. Hadirnya pendakwah-pendakwah millenial seperti Hanan Attaki, Felix Siauw, Omar Mitta, Fatih Karim, dkk, tak sebanding dengan jumlah millenial baru yang terus bertumbuh seperti jamur di musim hujan. Pola-pola dakwah yang diwariskan oleh generasi pendakwah terdahulu, dengan segala formalitasnya dan perbendaharaan bahasa jadulnya, akan sulit menyentuh ‘jantung’/ kalbu millenial yang kebanyakan telah diracuni berjuta informasi negatif yang berkelindan liar di sekitar mereka.


Mengerikan. Jika mengacu pada hadits Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam, bahwa akan tiba suatu zaman, dimana umat Islam akan “dengan sangat leluasa” diperebutkan dan dicabik-cabik oleh musuh Islam laksana tercabik-cabiknya sepotong roti di atas meja makan (HR Abu Dawud No. 4297).

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Maka boleh jadi sekarang inilah zaman yang disebut oleh Nabi Muhammad tersebut, dimana umat Islam termasuk kalangan millenialnya dalam kondisi yang lemah iman, lemah ketaqwaan, terpecah-belah, mudah diadu-domba dan sangat gampang dikalahkan musuh-musuh Islam yang jumIahnya sedikit. Sungguh keadaan ini adalah hal yang sangat ironis ketika umat Islam justru dalam jumlah yang paling banyak (mayoritas). Sekali lagi, “vision” Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam, yang menggambarkan jaman kehinaan itu, saat ini sudah bisa kita rasakan tanda-tandanya, bahkan sangat mungkin sedang kita alami dan kita saksikan dengan mata kepala kita sendiri.


Sungguh generasi millenial Islam saat ini, berada dalam ancaman perusakan karakter yang paling brutal dalam sejarah peradaban manusia, karena mereka terlahirkan di era fitnah informasi yang paling keji.

Era Ruwaibidhah

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, para pengkhianat dipercaya, sebaliknya orang-orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada masa itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau (Rasulullah) menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).


Dus, ujian maha-berat generasi millenial saat ini di antaranya ada 4 persoalan: 1. Dicabutnya rasa takut musuh-musuh Islam terhadap umat Islam, 2. Mewabahnya virus “Wahn” (cinta dunia dan takut mati), 3. Datangnya era Ruwaibidhah (Penipuan, Kecurangan & Penghianatan) yang dilegalkan, dan tentu saja, 4. Merebaknya informasi perusak iman yang secara sengaja disebarkan melalui plaform digital

Kegiatan Dakwah di tengah generasi Millenial

Kita harus mengakui tantangan dakwah sekarang ini makin berat. Hal ini dikarenakan generasi millenial memiliki selera atau horison mereka sendiri untuk bisa dipengaruhi menuju kebaikan, di samping merebaknya racun informasi yang bersifat destruktif. Karena ciri uniknya itu maka model dakwah jadul yang selama ini menjadi pakem para kiai sepuh, ulama-ulama tua, ustadz-ustadz uzur, dll akan mereka anggap kuno dan ketinggalan jaman. Kalangan millenial butuh “influencer” yang selaras dengan jiwa muda mereka: yang memahami bahasa dan cita-cita mereka, yang mengerti dengan baik persoalan serta kebutuhan emosional mereka. Untuk itu mereka butuh sosok influencer yang ‘mirip’ dengan mereka, yang sepadan sekaligus mampu mempengaruhi mereka ke arah yang baik dan positif.


Dai-dai muda seperti Hanan Attaqi, Felix Siauw, Fatih Karim, Omar Mitta, UAH, UAS, dkk adalah para pendakwah muda yang dakwahnya diterima dengan baik oleh kalangan millenial. Tetapi sayangnya jumlah mereka terlampau sedikit dibanding dengan jumlah millenial yang sangat banyak dan terus bertumbuh diikuti oleh generasi yang lebih baru (Gen Z dsb). Oleh karena itu kebutuhan akan dai-dai muda sebagai motivator sekaligus sebagai “mood booster” adalah suatu kebutuhan yang mutlak demi membentengi generasi millenial dari informasi yang mungkar, yang banyak mengandung hal-hal maksiat dan merusak mental.

Metode Dakwah

Sebaik-baik model dakwah adalah keteladanan yang baik (Uswatun Khasanah). ALLAH telah menegaskan hal ini di dalan Alquran : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al-Ahzab: 21). Tanpa keteladanan yang baik dari para da’i maka efek dakwah tidak akan berpengaruh besar terhadap perubahan karakter seseorang.
Faktor kedua yang tidak kalah penting adalah hadirnya metode dialogis dalam dakwah. Pakem dakwah monolog (satu arah) telah menjadi model mainstream yang selama ini digunakan oleh banyak dai. Tetapi cara tersebut akan menjadi usang dan kuno kalau hendak diterapkan pada kalangan millenial yang kritis. Model dakwah satu arah ini tidak cukup efektif untuk “menusuk” batin kaum millenial yang otak dan hatinya sudah ‘terkontaminasi’ racun-racun informasi negatif yang mereka serap dari platform-platform digital. Metode dialog (dua arah) menjadi sangat diperlukan karena cara dakwah ini terbukti efektif (positif) dalam mempengaruhi karakter seseorang, dan sekaligus dapat menjadi solusi atas persoalan-persoalan generasi millenial yang sangat kompleks.

Penggunaan Perangkat Audio Visual (AV)

Siapa saja yang pernah mengikuti training ESQ Ary Ginanjar tentu tidak meragukan efektifitas metode audio visual (AV) untuk mengubah dan meng-upgrade perilaku/ karakter seseorang ke arah yang lebih positif. Bahkan terhadap perilaku/ karakter yang sangat bebal sekalipun metode AV ini dinilai dapat ‘menusuk langsung’ ke jantung/ kalbu (ruhani) secara efektif dan relatif cepat. Sayangnya metode dakwah semacam ini cukup mahal karena aktifitasnya memerlukan perangkat AV yang lumayan mahal, dan juga memerlukan sarana tempat yang juga mahal, sehingga akibatnya efek sebaran dakwahnya tidak luas, hanya bisa dirasakan segelintir orang-orang berkantong tebal. Efektif tetapi mahal, itu adalah tantangan buat kita semua, khususnya Dewan Dakwah untuk membuatnya murah dan terjangkau untuk semua golongan.


Telah menjadi sunatullah bahwa pertarungan antara kebajikan melawan kemungkaran akan terus berlangsung hingga akhir zaman, begitu pula tantangan dakwah akan semakin berat menghadapi fitnah yang semakin keji, canggih dan terorganisir. Dan perlawanan dakwah melawan fitnah-fitnah keji ini tidak akan pernah berakhir manakala generasi pewaris Islam telah dibekali ilmu agama secara lebih baik dan dibekali strategi-strategi yang mutakhir untuk menghancurkannya.

Admin: Kominfo DDII Jatim/ss

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *