Otentisitas dan Keagungan Al-Quran

Oleh: Dr. Slamet Muliono Redjosari
Wakil Ketua Bidang MPK DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Kalau umat Islam berkeyakinan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab suci otentik dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Kitab ini penuh keagungan, dan siapa pun yang menjalankan isi dan kandungannya, akan menjadi manusia agung. Mereka pun yakin bahwa Al-Qur’an merupakan mukjizat istimewa yang diturunkan kepada manusia mulia, Muhammad bin Abdillah. Namun bagi orang-orang kafir Quraisy justru dipandang dan hina. Penghinaan itu terus mereka lakukan, hingga merendahkan sang pemegang Amanah, yakni Nabi Muhammad.

Otentisitas Al-Qur’an

Otentisitas Al-Qur’an telah terbukti dengan tidak adanya karya manusia yang mampu menandinginya. Kaum pembenci Islam hanya bisa mencaci maki tanpa bisa menandinginya dengan mengeluarkan karya semisal Al-Qur’an. Ketika mereka memandang Al-Qur’an sebagai dongengan, atau karya picisan namun tidak ada satu karya pun yang menandinginya. Al-Qur’an merekam perkataan yang sangat buruk itu.
Perkataan buruk itu tidak berbeda dengan perkataan orang kafir Quraisy yang menuduh Al-Qur’an sebagai mimpi kacau, rekayasa Muhammad, dan syair buatan seorang penipu. Hal ini diabadikan Allah sebagaimana firman-Nya :

بَلْ قَا لُوْۤا اَضْغَا ثُ اَحْلَا مٍۢ بَلِ افْتَـرٰٮهُ بَلْ هُوَ شَا عِرٌ ۚ فَلْيَأْتِنَا بِاٰ يَةٍ كَمَاۤ اُرْسِلَ الْاَ وَّلُوْنَ

“Bahkan mereka mengatakan, “(Al-Qur’an itu buah) mimpi-mimpi yang kacau, atau hasil rekayasanya (Muhammad), atau bahkan dia hanya seorang penyair, cobalah dia datangkan kepada kita suatu tanda (bukti), seperti halnya rasul-rasul yang diutus terdahulu.” (QS. Al-Anbiya : 5)

Orang-orang Quraisy pun mengenal Nabi Muhammad sebagai seorang yang tidak bisa membaca dan menulis, namun tetap saja menganggap Al-Qur’an sebagai karya Muhammad. Tuduhan sebagai mimpi, rekayasa, dan syair atas Al-Qur’an, maka Allah menantang balik agar mereka membuat tandingan yang semisal dengan Kalamullah itu. Mereka memiliki banyak ahli syair dan pintar membuat tulisan-tulisan indah, sehingga bersikap sombong dan menganggap remeh Al-Qur’an. Atas tantangan itu, mereka tidak mampu menampilkan satu kata pun, kecuali bersikap sombong dan selalu menolak apa pun yang disampaikan Nabi Muhammad.

Berita Al-Qur’an yang dibawa Nabi Muhammad bersifat persuasif atas penyimpangan atas peribadatan yang tersebar di Masyarakat. Bangsa Quraisy memiliki sifat dan watak yang agung, seperti pemberani, penderma, ringan tangan, penghormat tamu dan membantu orang-orang yang terdzalimi. Namun mereka menyembah berhala dan mengagungkan patung-patung sebagai perantara kekayaan, kebahagiaan dan ketenangan hidup mereka.

Kedatangan Nabi Muhammad dengan membacakan Al-Qur’an hanya untuk meluruskan dari cara pemberhalaan kepada berbagai macam tuhan, menjadi cara bertuhan yang benar, yakni menyembah hanya kepada Allah. Mereka pun diingatkan untuk menggugah akal sehat mereka dengan merenungkan berbagai penciptaan lamgit dan bumi serta berbagai kenikmatan yang demikian besar. Semua kenikmatan besar itu bukan karya berhala dan patung, tetapi karunia Allah.

Ajakan menyembah hanya kepada Allah itulah yang menjadi cikal bakal perlawanan untuk memadamkan cahaya Al-Qur’an. Mereka pun bersiasat untuk membunuh Nabi Muhammad dan membersihkan jejak-jejak tauhid. Bukan hanya mengejek dan menghina pribadi Nabi Muhammad, tetapi juga melecehkan apa pun yang disampaikan orang yang mereka kenal sejak kecil.

Penyesalan Hidup

Nabi Muhammad menjanjikan hidup penuh dengan kemuliaan bilamana mau mengikuti petunjuk Al-Qur’an. Bahkan mereka dijanjikan akan menjadi penguasa di dunia Timur dan Barat bila mana mau memalingkan pemberhalaan pada patung dengan menegakkan nilai-nilai tauhid. Alih-alih taat dan mengikuti anjuran Nabi Muhammad, mereka justru menolak dan memilih berpegang teguh pada keyakinan lama yang sudah mengakar.

Atas sikap itu, maka Allah pun memberi pelajaran kepada mereka. Allah memenangkan Nabi Muhammad dan para sahabatnya, serta mengalahkan mereka, sehingga menjadi manusia hina dan tercela. Hidup mereka menjadi sempit ketika di dunia dan di akherat akan mengalami kebutaan secara kolektif. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِ نَّ لَـهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Ta-Ha : 124)

Al-Qur’an mempersonifikasikan sikap rendah diri mereka, dengan penyesalan yang amat berat. Mereka menyesali atas perbuatan selama ini. mereka pun berucap akan mengikuti nasehat rasul bilamana didatangkan seorang utusan yang akan membimbing mereka. Bahkan mereka berniat akan mengikuti apa pun yang diperintahkannya. Mereka merasa terhina dan menjadi manusia yang tek berharga. Hal ini diabadikan Allah sebagaimana firman-Nya :

وَلَوْ اَنَّاۤ اَهْلَكْنٰهُمْ بِعَذَا بٍ مِّنْ قَبْلِهٖ لَـقَا لُوْا رَبَّنَا لَوْلَاۤ اَرْسَلْتَ اِلَـيْنَا رَسُوْلًا فَنَتَّبِعَ اٰيٰتِكَ مِنْ قَبْلِ اَنْ نَّذِلَّ وَنَخْزٰى

“Dan kalau mereka Kami binasakan dengan suatu siksaan sebelumnya (Al-Qur’an itu diturunkan), tentulah mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, sehingga kami mengikuti ayat-ayat-Mu sebelum kami menjadi hina dan rendah?” (QS. Ta-Ha : 134)

Kebenaran Al-Qur’an hanya akan diakui ketika kondisi manusia dalam keadaan terjepit. Ketika menjadi penguasa diminta menegakkan keadilan dengan janji mendapat perlindungan ketika hari Kiamat. Alih-alih, menegakkan keadilan, mereka juga mengadakan persekongkolan menebarkan kejahatan untuk menumpas para pihak yang ingin tegaknya keadilan. Penguasa seperti ini akan mengalami penyesalan berat ketika menghadapi kenyataan, dimana mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas perilaku dzalim ketika di dunia.

Kebenaran Al-Qur’an akan diakui ketika dalam keadaan hina dan tidak ada lagi yang mampu menolongnya. Sementara ketika dalam keadaan berkuasa, mereka leluasa melakukan teror, dan menindas siapa pun yang mengajaknya menegakkan keadilan. Kenyamanan dan kenikmatan ketika berkuasa melalaikan dirinya untuk menegakkan keadilan. Bahkan kekuasaan yang berada di genggaman tangannya justru memberi kesempatan untuk berbuat dzalim dan menginginkan hidupnya langgeng dan ingin berkuasa selamanya.

Surabaya, 15 Pebruari 2024

Admin: Kominfo DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *