GARA-GARA SIKAPNYA INI, AS MAKIN TERKUCIL

Artikel ke-1.739
Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

Ketua Umum DDII Pusat

Dewandakwahjatim.com, Surabaya - Pada 9 Desember 2023 terjadi peristiwa yang mengerikan di Dewan Keamanan PBB. Amerika Serikat (AS) lagi-lagi menggagalkan resolusi Dewan Keamanan PBB yang 

menyerukan gencatan senjata segera untuk mengakhiri pertempuran antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza. Hanya AS yang menolak resolusi itu. Sekutu dekat AS, Jepang dan Perancis mendukung resolusi. Inggris memilih sikap abstein.


Padahal, sejak 7 Oktober 2023, sudah lebih dari 8.000 anak-anak Palestina yang menjadi korban keganasan Israel. Puluhan ribu luka-luka. Ratusan ribu bangunan hancur. Kondisi bayi-bayi dan anak-anak Palestina yang terluka sangat mengerikan dan memilukan. Tetapi, anehnya, hanya AS yang menolak gencatan senjata.
Sikap AS itu segera memicu kekecewaan dan kecaman dari berbagai negara. Banyak negara yang tidak sepakat dalam manuver Washington itu. Hanya Israel yang memuji sikap AS. Situs https://www.cnbcindonesia.com mencatat, bahwa PM Israel Benjamin Netanyahu memuji AS yang menurutnya mendukung niat Tel Aviv untuk memusnahkan Hamas.


“Saya sangat mengapresiasi sikap tepat yang diambil AS di dewan keamanan PBB. Negara-negara lain perlu memahami hal itu. Di satu sisi, tidak mungkin mendukung eliminasi Hamas, namun di sisi lain menyerukan penghentian perang, yang akan mencegah eliminasi Hamas. Oleh karena itu, Israel akan melanjutkan perang yang adil untuk melenyapkan Hamas,” ujarnya dikutip Guardian, Sabtu (9/12/2023).
Tetapi, banyak negara yang menyayangkan tindakan AS atas resolusi yang diusulkan Uni Emirat Arab (UEA) ini. Perwakilan tetap China untuk PBB, Zhang Jun, menyatakan, pertempuran selama dua bulan di Gaza telah menyebabkan jumlah kematian dan kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya.


“Kami menyatakan kekecewaan dan penyesalan yang besar bahwa rancangan tersebut telah diveto oleh AS. Gencatan senjata segera adalah prasyarat utama,” ujar Zhang.
Perwakilan Rusia untuk PBB, Dmitry Polyanskiy, mengatakan bahwa “hari ini akan menjadi salah satu hari paling kelam di Timur Tengah” karena AS sekali lagi memblokir seruan gencatan senjata.
Nicolas de Riviere, perwakilan tetap Perancis untuk PBB, mengatakan bahwa ia mendukung rancangan resolusi tersebut, dan menambahkan bahwa Perancis akan terus berkomitmen untuk memobilisasi Dewan Keamaanan sepenuhnya dalam semua aspek krisis, baik keamanan, kemanusiaan atau politik. .


Perwakilan tetap Jepang untuk PBB, Ishikane Kimihiro, mengatakan delegasinya mendukung rancangan tersebut karena hilangnya nyawa warga sipil, baik warga Palestina atau Israel, adalah hal yang tragis. Ia juga menyatakan penyesalannya karena teks tersebut gagal diadopsi.


 Dengan sikapnya itu, AS semakin terkucil dari pergaulan dunia internasional. Sebab, sekutu-sekutu terdekatnya sendiri – seperti Jepang, Perancis, dan Inggris -- tidak mengikuti kebijakan AS itu. AS bersikap membabi buta dalam menjalankan politik luar negerinya di Timur Tengah. Mengapa AS begitu nekad dalam mengambil sikap yang bertentangan dengan hampir semua negara anggota PBB. 
 Dunia sudah paham dengan sikap AS selama ini. Jika berhadapan dengan kepentingan Israel, maka politik luar negeri AS menjadi tidak rasional. Bahkan, mantan pejabat Kemenlu AS, William Blum menyebut selama 70 tahun, politik luar negeri AS, tidak waras. 
 Kata Blum: “However, it can be argued, that for more than half century American foreign policy has, in actuality, been clinically mad.”  Blum meletakkan kesimpulannya ini di bawah subjudul “the madman philosophy” (filosofi orang gila). 

Kesimpulan William Blum itu ditulis dalam bukunya, “Rogue State: A Guide to the World’s Only Superpower” (2002). Penulis yang hengkang dari Kemenlu AS tahun 1967 gara-gara menentang Perang Vietnam ini, mengungkap studi internal “US Strategic Command” tentang “Essentials of Post-Cold War Deterrence”.
Dikatakannya, bahwa tindakan AS yang kadang kelihatan ‘out of control’, irasional, dan pendendam, bisa jadi menguntungkan untuk menciptakan rasa takut dan keraguan pada musuh-musuhnya. “That the US may become irrational and vindictive if its vital interests are attacked should be a part of national persona we project to all adversaries,” tulis Blum.
Terkait dengan dominasi Yahudi di AS, Henry Ford pernah menulis buku berjudul “International Jew” (terbit pertama tahun 1922 dan diterbitkan ulang oleh The Other Press, Kuala Lumpur, 2002). Buku itu memuat foto Presiden Bush sedang berjanji setia di depan bendera Israel, dengan komentar singkat: “As American presidents continue to pledge loyalty to Zionist-Jews”.
Henry Ford – pendiri industri mobil Ford – mengingatkan bahaya dominasi Yahudi dalam politik AS. Melalui apa yang disebut sebagai “super-government”, Yahudi bisa menentukan arah kebijakan politik AS. Bahkan, Ford mencatat, “Now, in the United States during the last five years we have seen an almost complete Judaized administration in control of all the war activities of the American people.”
Jadi, betapa kasihannya negara AS saat ini. Negara “super power” itu ternyata sudah ditinggalkan oleh dunia. Bahkan, oleh teman-temannya sendiri. Simpati dunia untuk Gaza semakin menguat. Kejahatan dan kebengisan kaum Yahudi tak bisa ditutup-tutupi lagi. AS makin terkucil. Kasihan!


Dari kejauhan, kita hanya bisa mendoakan, semoga para pejuang dan kaum tertindas di Palestina diberikan pertolongan oleh Allah SWT. Amin. (Bogor, 9 Desember 2023).

Admin: Kominfo DDII Jatim/ss

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *