Artikel ke-1.688
Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)
Ketua Umum DDII Pusat
Dewandakwahjatim.com, Depok - Meskipun sudah puluhan ribu warga Palestina yang gugur dibantai Zionis Israel, tetapi popularitas Hamas tidaklah menurun. Organisasi perlawanan Palestina ini dianggap pemberani, sehingga diminati banyak anak-anak muda Pelestina.
Sejak tahun 1990, popularitas Hamas sudah terus meningkat. Menyusul peristiwa berdarah "Bukit Sinagog", Oktober 1990, Hamas membuktikan, bahwa anggota-anggotanya rela menyerahkan nyawa mereka dalam mempertahankan iman. Insiden Bukit Sinagog diawali ketika aktivis Israel, Gershon Solomon, dan para pengikut Bukit Sinagog, akan berbaris di Komplek Al Aqsha dan akan meletakkan batu simbol pendirian Sinagog baru.
Berbagai bentrokan antara Israel dengan Hamas pada akhir 1990 menunjukkan, bahwa Hamas adalah organisasi pemberani, sehingga menarik banyak pemuda Islam. Dalam dua bulan terakhir tahun 1990, setidaknya delapan orang Israel dibunuh oleh orang-orang Hamas.
Menyusul tiga pekerja Israel yang tewas di Jaffa, pertengahan Desember 1990, hampir 1.000 orang yang tergabung dalam Hamas ditangkap. Termasuk diantara mereka Abdul Aziz Rantisi, tangan kanan pendiri Hamas. Agresivitas Hamas itu tampaknya menarik banyak simpati, sehingga pada 1991, pendukung Hamas mulai memenangkan pemilu di Tepi Barat, di samping Gaza. Pada 1991, Syaikh Yassin dipenjara.
Tetapi, meskipun telah memenangkan Pemilu, masalah yang dihadapi Hammas tidaklah ringan. Jalur politik yang ditempuhnya mengharuskannya bersikap lebih pragmatis dan realistis. Harian Kompas (30/1/2006), memberitakan komitmen Hamas untuk menghormati kesepakatan yang telah dicapai antara Israel dengan PLO sebelumnya. Hamas juga berusaha membuka dialog dengan Amerika Serikat dan Israel.
Padahal, jauh sebelumnya, Hamas – bersama kelompok pejuang Islam lainnya, semisal Jihad Islam — sudah menentang digelarnya perjanjian damai dengan Israel. Meskipun mengecam keras tindakan Arafat, namun kelompok-kelompok Islam ini tidak pernah menyerang posisi-posisi Palestina. Mereka tetap menyerang posisi-posisi Israel. Setiap kegagalan perjanjian damai, semakin meningkatkan pamor dan popularitas kelompok-kelompok ini di mata rakyat Palestina, karena kalangan ini meyakini bahwa kaum Zionis Yahudi adalah pengkhianat dan penjajah tanah Palestina.
Seperti yang dilakukan PM Israel Yitzak Rabin dalam Kesepakatan Oslo, dalam Perjanjian Wye River II, di Sharm El-Sheikh, 5 September 1999, yang menjadi pijakan penyelesaian status final Palestina, PM Ehud Barak juga mensyaratkan penumpasan terorisme terhadap Israel, sebagai imbalan diserahkannya sebagian wilayah Tepi Barat.
Menyusul perjanjian itu, sejumlah tokoh Hamas dan Jihad Islam ditahan oleh otoritas Palestina. Dalam lampiran rahasia yang menyertai Kesepakatan Oslo, yang disiarkan oleh Majalah Al Mujtama dan Al Wathan edisi 7 September 1993, disebutkan, bahwa PLO mengakui eksistensi negara Israel dan hak bangsa Israel di Palestina, dan pemerintahan Israel mengakui eksistensi PLO sebagai pemerintahan sementara otonomi.
PLO berjanji akan menghentikan semua aksi publikasi yang bersifat permusuhan terhadap Israel dan akan melakukan pembersihan terhadap aksi-aksi penentangan politik atau militer Palestina mana saja yang diarahkan kepada perusakan Israel dan pembunuhan warga negaranya. Menteri Lingkungan Israel, Yoshi Sharied, menyatakan, bahwa Israel membantu memperkuat PLO demi melemahkan musuh-musuhnya yang juga menjadi musuh Israel, yang secara terang-terangan disebutnya Gerakan Hamas.
Di tengah berlangsungnya KTT Camp David II, tahun 2000, pemimpin Hamas Sheikh Ahmad Yassin, menyatakan, bahwa setiap perjanjian damai yang mengkompromikan status Jerusalem dan hak pengungsi Palestina untuk kembali ke tanah airnya, sama saja dengan politik bunuh diri bagi Arafat. Yassin juga menyerukan agar delegasi Palestina yang ke Camp David kembali pulang, karena apa yang akan dicapai di Camp David II adalah hal yang buruk dan tidak merupakan refleksi dari kemauan rakyat Palestina.
Karena itu, Hamas berjanji akan menentang setiap bentuk perjanjian yang tidak memenuhi harapan penuh rakyat Palestina. Yassin juga menegaskan, bahwa gerakan Islam Hamas tetap bebas untuk melakukan perjuangan bersenjata melawan Israel walaupun Arafat mengumumkan kemerdekaan negara Palestina. Masalahnya, kata Yassin, negara Palestina tersebut tidak akan menempati seluruh wilayah Palestina.
Pada Agustus 1988, Hamas mempublikasikan “manivesto” 40 halaman, yang mewakili visi Palestina Islam dan menyatakan, bahwa satu-satunya tindakan yang benar adalah menolak ideologi sekular dan strategi kompromi PLO. Yang benar adalah “mengobarkan jihad” langsung melawan Israel.
Kini, Hamas sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan rakyat Palestina dalam mewujudkan kemerdekaan. Kita berharap dan berdoa, semoga semua kekuatan bangsa Palestina – dengan dukungan umat Islam dan berbagai negara di dunia – lebih menguatkan sinergitas dalam perjuangan. Perbedaan dalam memahami dan menyelesaikan persoalan senantiasa terjadi dalam setiap perjuangan besar. Semoga Allah menolong saudara-saudara kita di Palestina. Amin. (Depok, 19 Oktober 2023).
Admin: Kominfo DDII Jatim