Akibat Salah Memilih Pemimpin

Oleh: Ust. Muhammad Hidayatullah
Pengurus Dewan Da’wah, Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya –

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرۡيَةٗ كَانَتۡ ءَامِنَةٗ مُّطۡمَئِنَّةٗ يَأۡتِيهَا رِزۡقُهَا رَغَدٗا مِّن كُلِّ مَكَانٖ فَكَفَرَتۡ بِأَنۡعُمِ ٱللَّهِ فَأَذَٰقَهَا ٱللَّهُ لِبَاسَ ٱلۡجُوعِ وَٱلۡخَوۡفِ بِمَا كَانُواْ يَصۡنَعُونَ ١١٢

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (an Nahl; 112)

Ulama dan Umara

Pemimpin memiliki peranan yang sangat penting dan stratgis terhadap keadaan rakyat atau umat yang dipimpinnya. Oleh karena itu untuk menjadi pemimpin dipastikan harus memiliki prasyarat tertentu. Pemimpin itu terklasifikasi menjadi dua keadaan, ada pemimpin keagamaan yang sering disebut ulama atau Kyai, bisa juga ustadz dan lainnya, pemimpin territorial atau wilayah yang disebut negeri, termasuk di dalamnya bagian-bagian yang ada di dalam negeri atau pemerintahan, dalam hal ini disebut umara’.

Dua type kepemimpinan ini memiliki standart yang berbeda. Pemimpin keagamaan atau ulama syarat utamanya adalah alim allamah, yakni yang memahami nilai-nilai agama yang luas, dalam hadits di sebut sebagai tafaqquh fiddin yakni sangat paham agama. Dalam paham ini juga bukan sekedar pandai menyampaikan akan nilai-nilai agama, akan tetapi seharusnya terefleksikan dalam tindakan dan perbuatannya. Keberpihakan kepada kepentingan umat jauh lebih besar dari kepentingan pribadi dan keluarganya. Tidak justru memanfaatkan kepentingan umat demi kepentingan pribadinya. Apalagi di jaman akhir Rasulullah menyampaikan di antara tanda dekatnya hari Kiamat adalah banyaknya penceramah, sedikit sekali ahli fikih atau ulama.

Beda ulama dan penceramah adalah karena jika ulama dipastikan memiliki pemahan agama yang benar dan medalam, sedangkan penceramah belum tentu memiliki pemahaman yang mendalam, akan tetapi pandai beretorika dan membuat banyak orang kagum kepadanya. Allah menyitir tentang mereka sebagaimana dalam ayat:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُعۡجِبُكَ قَوۡلُهُۥ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَيُشۡهِدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلۡبِهِۦ وَهُوَ أَلَدُّ ٱلۡخِصَامِ ٢٠٤
Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. (al Baqarah; 204)

Penentang paling keras adalah penentang terhadap tegaknya hukum-hukum Allah. Banyak dalih dan dalil yang digunakan yang di antaranya menganggap kebenaran mutlak itu tidak ada, semua masih bersifat relative dan debatable. Padahal pasti bahwa al Quran adalah sumber kebenaran yang bersifat mutlak itu, karena kurang pahamnya terhadap niai kebenaran dalam al Quran menjadikan ia memiliki persepsi yang salah terhadap al Quran. Kesalahan persepsi terhadap al Quran akan mepengaruhi persepsi terhadap al Islam yang sempurna, karena al Islam diturunkan oleh Dzat Yang Maha Sempurna.

Pemimpin yang kedua adalah umara. Idialnya seorang umara sekaligus adalah ulama, sehingga ia akan menjalankan kepemimpinnya berdasar ketentuan hukum Allah. Jika tidak demikian syarat minimal bagi umara adalah ia memiliki keimanan yang benar dan kuat, karena iman akan mengendalikan dirinya untuk selalu dalam jalur kebenaran dan keadilan. Di samping kemampuan manajerial skill yang dimilikinya, termasuk kapabilitas dan integritas pribadi yang sudah teruji.

Dua type pemimpin ini jika baik maka masyarakat akan menjadi baik, dan jika buruk maka buruklah masyarakatnya. Jadi pengaruh pemimpin ini begitu luar biasa dalam menentukan keadaan masyarakat atau umat.

Pun demikian masyarakat atau umat juga mesti cerdas memilih pemimpinnya, dan umat harus paham begitu strategisnya dalam meilih pemimpin ini, karena jika salah maka masyarakat pula yang akan menerima kibatnya.

Akibat salah memilih pemimpin

إِذۡ تَبَرَّأَ ٱلَّذِينَ ٱتُّبِعُواْ مِنَ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُواْ وَرَأَوُاْ ٱلۡعَذَابَ وَتَقَطَّعَتۡ بِهِمُ ٱلۡأَسۡبَابُ ١٦٦ وَقَالَ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُواْ لَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ فَنَتَبَرَّأَ مِنۡهُمۡ كَمَا تَبَرَّءُواْ مِنَّاۗ كَذَٰلِكَ يُرِيهِمُ ٱللَّهُ أَعۡمَٰلَهُمۡ حَسَرَٰتٍ عَلَيۡهِمۡۖ وَمَا هُم بِخَٰرِجِينَ مِنَ ٱلنَّارِ ١٦٧

(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami”. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka. (al Baqarah : 166 – 167)

Begitu fatal bagi umat yang salah memilih pemimpin sebagaimana penjelasan dari ayat di atas, berakibat penyesalan di akhirat. Maka mazhab politik berbeda dengan mazhab fikih, akidah dan tasawwuf. Mazhab politik jelas berasaa manfaat bagi semuanya dengan tegaknya keadilan tanpa pandang bulu. Hukum tegak bagi semuanya tanpa kecuali, baik saudara, kawan bahkan lawan sekalipun. Hukum tidak boleh tumpul ke atas dan lancip ke bawah, hukum harus lancip ke atas dan ke bawah.

Tugas utama pemimpin

Pemimpin yang benar haruslah menjadikan masyarakatnya kondusif untuk tegaknya keimanan dan ketaqwaan, hal ini tentu terkhusus bagi kaum mukminin. Sedangkan bagi umat ghairul islam juga diperlakukan secara adil karena memang tidak ada paksaan dalam agama.

Sebagaimana ayat berikut yang merupakan janji Allah, akan diturunkan keberkahan hidup dengan derasnya baik dari langit dan bumi. Dan yang dapat merealisasikan hal ini hanyalah melalui kepemimpinan atau leadership skill yang mumpuni. Dan juga termasuk ayat di atas, Allah memberikan ancaman bagi mereka yang tidak berkenan menerima hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ٩٦
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (al A’raf; 96)

Sungguh tanggung jawab sebagai pemimpin umat sangatlah besar, maka berhati-hatilah yang saat ini mendapatkan amanah menjadi pemimpin di semua lini kehidupan umat, di tangan anda nasib umat ini. Jabatan adalah amanah dan kebanyakan menjadi penyesalan di hari perhitungan nanti. Wallahu a’lam [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *