Hidup Indah Bersama Energi Taqwa

Oleh M. Anwar Djaelani
Pengurus Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Sungguh sangat memprihatinkan keadaan yang digambarkan oleh Opick lewat salah sebuah lagunya yang berjudul “Astaghfirullah”. Lagu itu berkisah, bahwa di sekitar kita banyak orang yang “Menghalalkan segala cara” dalam mencapai tujuan mereka.

Si Jujur

Banyak hikmah yang insya-Allah kita peroleh saat kita mengamalkan hasil-hasil dari “Sekolah Ramadhan”. Terkait ini, salah satu hal yang paling mudah dirasakan dan sekaligus gampang diukur adalah terbangunnya sikap jujur.

Saat berpuasa Ramadhan, kita dilatih untuk menyadari kehadiran Allah. Jika kesadaran seperti itu sudah terbangun, maka jujur akan menjadi sifat keseharian kita. Setelah itu, tentu saja kita bisa membayangkan bahwa jika sebuah negeri dihuni oleh orang-orang yang dididik bersikap jujur oleh “Sekolah Ramadhan” maka alangkah indahnya.

Di tengah warga masyarakat yang banyak bersikap tak jujur, maka kehadiran orang jujur akan sangat bernilai tinggi. Rasakanlah, bila sifat jujur telah melekat pada diri seseorang maka segenap amanah yang dipegangnya akan diselesaikan dengan sepenuh tanggung-jawab. Dia pasti tidak akan mau mengambil resiko untuk –misalnya- menyelewengkan berbagai amanah itu.

Kejujuran itu akan mengundang kedamaian. Seorang yang jujur akan tenteram jiwanya. Sebaliknya, seseorang yang tidak jujur akan tak tenang hidupnya. Dia akan terperangkap pada sebuah rangkaian sikap ketidak-jujuran yang tak pernah selesai. Bukankah kita sudah paham tentang semacam pepatah bahwa sebuah kebohongan (bagian dari sikap tak jujur) akan ditutupi oleh kebohongan yang lain?

Di masa kini, ketika di tengah-tengah masyarakat marak praktik ketidakjujuran (bohong, curang, dan yang sejenis dengan itu) maka berlaku jujur sungguh menjadi sesuatu yang sangat bermakna. Untuk itu, bergaullah dengan orang yang benar, dengan orang yang jujur. Perhatikanlah ayat ini: “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (QS At-Taubah [9]: 119). Ayat ini menunjukkan dengan jelas betapa dekatnya ketaqwaan dengan kejujuran.

Apa resep supaya kita senantiasa dalam sikap taqwa, termasuk di dalamnya punya sikap jujur? Selalulah bersikap hati-hati! Selalulah merasa dalam pengawasan Allah! Dalam konteks ini, seringkali, kisah-kisah “ringan” di seputar “orang kecil” bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita. Maka, berikut ini, -kurang-lebih- sepenggal kisah hidup dari seorang hamba sahaya yang bertugas sebagai penggembala kambing saat Umar bin Khaththab Ra menjadi khalifah.

Sebagai Khalifah, Umar bin Khaththab Ra memiliki sebuah kebiasaan yang patut dicontoh oleh pemimpin manapun. Kebiasaannya adalah kerap berkeliling ke pelosok negeri untuk mencari tahu perkembangan kesejahteraan –lahir dan bathin- dari masyarakat yang dipimpinnya. Saat melakukan aktivitas itu Umar bin Khaththab Ra menyamar. Maka, jika suatu ketika Umar bin Khaththab Ra –misalnya- mengajak seseorang berdialog, orang itu tak tahu bahwa yang sedang mengajaknya berbincang-bincang itu adalah Sang Khalifah.

Di sebuah kesempatan, Umar bin Khaththab Ra bertemu dengan seorang hamba sahaya yang bertugas sebagai penggembala kambing. Kala itu, dia sedang “mengawal” begitu banyak kambing.

Umar bin Khaththab Ra-pun mengajak si penggembala berdialog, dalam posisi si penggembala tak tahu bahwa yang sedang ada di depannya itu adalah Sang Khalifah.

“Wahai kawan, sudilah jual beberapa kambing untukku,” pinta Umar bin Khaththab Ra.

“Maaf, Tuan, kambing-kambing ini tidak saya jual, karena semuanya milik juragan saya,” tolak si penggembala dengan santun.

“Ayo, juallah kepadaku beberapa ekor. Bukankah juraganmu tak akan pernah tahu jika hewan yang engkau gembalakan berkurang sekadar beberapa ekor lantaran sebegitu banyak gembalaanmu,” desak Umar bin Khaththab Ra.

“Sekali lagi, mohon maaf, saya sedikitpun tak punya hak untuk menjual kambing-kambing yang diamanahkan kepada saya untuk merawatnya,” tegas si penggembala.

“Saya memahami alasan Anda. Tapi, bukankah tak ada yang melihat kita? Tak akan ada yang melaporkan perbuatan Anda ke pemilik kambing-kambing ini,” kata Umar bin Khaththab Ra.

“Fa aina Allah? Lalu, di manakah Allah? Bagaimana dengan pengawasan Allah?” Demikian, sigap si penggembala menukas.

Umar bin Khaththab Ra takjub dengan sikap si penggembala itu. Umar bin Khaththab Ra menaruh hormat kepada dia. Bahwa, si penggembala itu bukan termasuk orang yang suka “Menghalalkan segala cara” dalam meraih kenikmtan hidup.

Lalu, kepada si penggembala itu, Umar bin Khaththab Ra minta dipertemukan dengan sang juragan. Setelah bertemu, Umar bin Khaththab Ra lalu menebus si penggembala sehingga kini dia menjadi manusia merdeka, tak lagi sebagai hamba sahaya. Umar bin Khaththab Ra lalu berkata kepada si penggembala: “Lantaran ucapan -fa aina Allah- Anda sekarang menjadi manusia merdeka. Semoga kelak –di akhirat- Anda dibebaskan Allah dari siksa neraka karena ucapan itu juga, fa aina Allah.”

Allah memang Maha Menepati Janji. Penggembala yang taqwa dan jujur itu mendapat rizki berupa “jalan ke luar” yaitu kebebasan dirinya secara tak terduga. Urusan dia dipermudah. Perhatikanlah ayat ini: “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan, barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya (QS Ath-Thalaaq [65]: 2-4).

Indah, Indah!

Kisah sang penggembala di atas sangat indah, membuktikan bahwa Allah akan selalu beserta orang-orang yang bertaqwa (yang antara lain bercirikan jujur). Renungkanlah ayat ini: “Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertaqwa“ (QS Al-Baqarah [2]: 194). Maka, adakah keindahan yang melebihi kehidupan kita yang selalu disertai Allah? Mari, pertahankan spirit puasa Ramadhan kita! []

Admin: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *