Qatar : “Pemenang Sejati” Piala Dunia 2022

Oleh: Dr. Slamet Muliono Redjosari

Pengurus Dewan Dakwah, Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dengan menampilkan identitas Islam, Qatar mencatatkan dirinya sebagai pemenang sejati pada piala dunia 2022. Pemenang sejati bukan dalam konteks juara dalam pertandingan final, tetapi karena berhasil memuliakan dan mengagungkan Islam di tengah berkumpulnya manusia dari berbagai dunia. Kalau selama ini masyarakat Barat menstigma Islam sebagai sumber terorisme dan radikalisme, maka momentum piala dunia ini, Qatar menampilkan sisi-sisi ajaran Islam, yang ramah, santun, dan peduli terhadap tamu yang datang ke negaranya. Dengan menghabiskan dana yang sangat besar, Qatar berperan penting dalam menyingkirkan pikiran buruk kelompok Islamphobia yang selama ini gencar menciptakan opini buruk terhadap Islam. Mengenalkan dan menunjukkan akhlak yang mulia di berbagai tempat sehingga berhasil menyentuh hati-hati non-muslim sehingga mengenal Islam. Qatar memperlihatkan keramahan dan kesantunan dalam momentum itu, sehingga Islam dipandang sebagai agama yang beradab dan lekat dengan perdamaian dan keselamatan.

Qatar dan Investasi Dakwah

Menurut laporan resmi, Qatar menghabiskan anggaran super fantastis untuk mewujudkan penyelenggaraan piala dunia 2022. Pada 2010 lalu FIFA menunjuk Qatar menjadi tuan rumah piala dunia untuk edisi tahun 2022. Saat itu Qatar tak memiliki infra-struktur sepakbola yang memadai untuk sebuah turnamen besar seperti piala dunia. Lalu pada tahun 2017 Menteri keuangan Qatar menghabiskan Rp. 7,8 Trilyun per minggu untuk proyek infrastruktur termasuk jalan, hotel, stadion, dan bandara. Qatar mengeluarkan dana 14 kali lipat lebih besar dari piala dunia Brazil 2014 yang mana saat itu menjadi piala dunia termahal sepanjang sejarah. Bahkan apabila total anggaran seluruh edisi piala dunia dijadikan satu, anggaran Qatar masih jauh lebih banyak. Bagaimana tidak, Qatar total mengeluarkan 3.419 trilyun yang mana itu lebih besar dari total kekayaan orang terkaya dunia saat ini, yaitu Elon Musk.

Totalitas Qatar dalam menghabiskan dana untuk menyelenggarakan perhelatan piala dunia ini berimplikasi positif, berupa tersebarnya dakwah Islam. Dikatakan positif dalam dakwah karena dengan menginvestasikan dana sebesar itu, orang-orang yang datang dari berbagai belahan dunia terkagum-kagum melihat bangunan dan fasilitas yang disediakan Qatar. Qatar pun memanfaatkan momentum itu untuk menunjukkan nilai-nilai Islam dalam perhelatan piala dunia. Berkumandangnya adzan di stadion, dan bahkan shalat jumat secara berjamaah di lapangan bola merupakan momentum langka yang belum terjadi selama penyelenggaraan piala dunia ini.

Di luar stadion, penduduk Qatar memanfaatkan untuk mengajarkan Islam kepada orang-orang non muslim, seperti berbagi kebaikan, dan peduli kepada orang lain dengan ramah dan santun pada orang lain. Mereka juga membuka masjid untuk orang-orang non-muslim agar bisa mengakses masuk, sehingga bisa mendengar adzan, dapat melihat khusyu’ kaum muslimin dalam beribadah dan membaca Al-Qur’an. Bahkan tidak jarang yang kagum terhadap Islam setelah ada penjelasan dari para dai yang memaparkan tentang Islam.

Qatar benar-benar memaksimalkan sumber daya yang dimilikinya untuk menunjukkan Islam kepada masyarakat yang selama ini phobia terhadap Islam. Islam yang selama ini mereka pandang lekat dengan stigma terorisme dan radikalisme. Namun yang mereka lihat justru sebaliknya. Ternyata Islam yang mereka lihat justru sebaliknya. Penduduknya sangat ramah dan menghargai perbedaan serta tidak menjadi ancaman bagi mereka yang berbeda agama. Bahkan mereka mendapati selama pertandingan tidak terjadi bentrok antar supporter, serta tidak terjadi luapan emosi ketika tim yang mereka dukung kalah.

Salah satu jawaban atas tertibnya penonton karena Qatar menerapkan aturan bahwa supporter yang memasuki stadion dilarang membawa minuman keras. Aturan ini cukup efektif sehingga tidak ada supporter yang bringas dalam melampiaskan amarahnya. Terhindar pula bentrok antar supporter ketika membela timnya secara membabi buta. Bahkan tidak ada gangguan atau pelecehan terhadap perempuan, baik di dalam maupun di luar stasion.

Terkuburnya Islamphobia

Penyelenggaraan piala dunia 2022 itu benar-benar berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Nilai-nilai kemanusiaan yang diinspirasi oleh Islam benar-benar tampak. Banyak cerita menarik yang lahir dari penyelenggaraan pesta sepak bila dunia ini. Misalnya, di setiap café atau restoran terdapat tulisan hadits yang mengajarkan kebaikan, suara adzan dan bacaan Al-Qur’an terdapat di berbagai tempat, sehingga tamu dari berbagai mereka bisa melihat Islam dari dekat.

Qatar juga menunjukkan identitas Islam yang sejati. Di antaranya menolak pesawat dengan simbol atau bendera LGBT. Spontanitas menolak pesawat yang datang itu menunjukkan sikap tegas yang diilhami oleh nilai-nilai Islam. Ketegasan Qatar dalam menolak simbol LGBT menunjukkan prinsip hidup untuk memusuhi pola hidup bebas yang menyebabkan penyimpangan seksual, serta mendatangkan bencana.

Dalam perhelatan sepakbola dunia ini, Qatar memang tidak menjadi pemenang dalam arti juara yang masuk final. Namun Qatar berhasil sebagai pemenang sejati karena berhasil menunjukkan nilai-nilai Islam kepada orang-orang non-muslim. Bukan hanya itu, Qatar telah berhasil menunjukkan Islam sebagai agama yang jauh dari opini Barat. Kalau selama ini, Barat senantiasa memviralkan Islam sebagai ancaman peradaban dunia, namun dengan sepakbola di Qatar ini menghapus opini itu.

Qatar berhasil memenangkan pertarungan yang sebenarnya, dimana Islam yang selama ini digambarkan sebagai agama yang teror, tetapi kenyataannya justru penuh dengan tindakan mulia. Islam yang telah distigma sangat buruk justru tersebar kebaikan. Qatar telah menyajikan Islam sebagai agama yang terhormat dan menghormati berbagai peradaban dunia. Kalau masyarakat awam Barat melihat Islam sebagai agama teror, penduduknya intoleran, pemimpinanya bengis, namun mereka terbelalak karena mata mereka melihat dengan nyata bahwa Islam sangat ramah, dan menghormati sesama manusia.
Bisa jadi sepulang dari Qatar, masyarakat yang melihat Islam akan berubah. Yang awalnya membenci dan mencaci, berubah menjadi empati dan simpati. Bisa jadi mereka akan berpikir positif, dan dekat dengan Islam. Itulah prestasi besar Qatar yang telah mengubah pandangan dunia (worldview) Barat yang selama ini beropini buruk terhadap Islam, akan berubah menjadi simpati dan kagum terhadap Islam. Kesediaan Qatar menghabiskan dana yang sangat fantastis itu telah menjadi pemenang yang sebenarnya karena telah mengubah opini Barat terhadap Islam. Surabaya, 17 Desember 2022

Admin: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *