Bani Israil dan Warisan Terhina

Oleh: Dr. Slamet Muliono Redjosari
Pengurus Dewan Dakwah Bidang Pemikiran dan Ghazwul Fikri, Jatim

Dewandakwahjatim. com, Surabaya – Al-Quran menarasikan Bani Israil sebagai bangsa paling hina. Indikator kehinaan itu di antaranya, sering menentang perintah Allah, ketiadaan sopan santun, dan perlakuannya yang buruk pada utusan-Nya. Pengaruh perilaku Fir’aun yang sering menghinakan Nabi Musa, bisa jadi terwariskan kepada mereka. Penolakan Fir’aun terhadap eksistensi Allah atau keberaniannya merendahkan Allah menjadi perilaku yang terekam dalam benak dan memori Bani Israil. Hidup sebagai budak dalam waktu yang lama membuat Bani Israil terpengaruh, sehingga jiwanya merefleksikan apa yang ada dalam diri Fir’aun. Oleh karena itu, ketika ada perintah Allah untuk memasuki suatu negeri, mereka spontan menolaknya. Mereka bahkan balik menyuruh Nabi Musa untuk memasukinya sendiri bersama Allah. Mereka memilih duduk untuk menanti kemenangan. Demikian pula ketika diperintah menyembelih seekor sapi, mereka mencari-cari celah dengan terus bertanya mulai warna, jenis, hakekat dan sebagainya kepada Nabi Musa. Hal itu bukan untuk memperjelas perintah guna melaksanakannya, tetapi sebagai akal-akalan untuk menipu dan ingin terbebas menjalankan perintah Allah.

Menolak Memasuki Kota

Al-Quran menggambarkan pembangkangan terbuka yang dilakukan Bani Israil. Hal itu ditunjukkan ketika mendapat perintah Nabi Musa untuk memasuki sebuah kota guna melakukan penaklukan. Alih-alih memegang teguh perintah dan melaksanakannya, mereka justru memerintah balik Nabi Musa agar mengajak Tuhannya untuk memasukinya sendiri. Mereka memilih untuk duduk dan menanti kemenangan.
Menolak perintah Allah seolah tanpa berpikir panjang atau takut akan murka Allah. Sikap ini bisa jadi karena trauma karena pernah hidup di bawah penindasan Fir’aun. Fir’aun pernah menghinakannya dalam waktu yang sangat panjang ketika menjadi penduduk Mesir. Oleh karena itu, halusinasi kekalahan terdapat di benak Bani Israil, sehingga mereka berani menolak ajakan Nabi Musa Allah. Hal ini diabadikan Allah sebagaimana firman-Nya :

“Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang yang rugi.” (QS. Al-Ma’idah : 21)

“Mereka berkata, ‘Wahai Musa! Sampai kapan pun kami tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya, karena itu pergilah
engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja.'” (QS. Al-Ma’idah : 24)

Bani Israil trauma akan diperbudak kembali bila tidak berhasil mengalahkan penduduk kota itu. Oleh karenanya, mereka menyuruh Nabi Musa dan Tuhan-Nya untuk memasuki dan memeranginya sendiri. Mereka tidak mau bersusah payah berjihad, dan mereka yakin Nabi Musa dan Allah akan memenangkannya.

Mencari-cari Celah

Bani Israil memiliki sifat licik dan selalu mencari celah ketika datang perintah kepadanya. Ketika nabi mereka memerintahkan untuk menyembelih seekor sapi, mereka mencari celah dengan memberondong berbagai pertanyaan. Perintah menyembelih seekor sapi bermula terdapat orang mati namun tanpa diketahui pembunuhnya. Alih-alih langsung mendengar dan mentaati perintah-Nya, mereka justru berkilah dengan memberondong sejumlah pertanyaan. Hal ini diabadikan Allah sebagaimana firman-Nya :


“Dan (ingatlah)embel ketika memerintahkan Musa kepada kamu sapi agar menyombongkan diri.” bertanya, “Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?” Dia (Musa) menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.”” (QS. Al-Baqarah : 67)

Perintah Nabi Musa bukannya direspon positif tetapi justru dicurigai dan dikritik. Bani Israil berani menolak dan mengatakan bahwa perintah itu menghinakannya. Nabi Musa terus menjawabnya hingga mereka hampir tidak menemukan jenis sapi yang diperintahkan. Hal ini diabadikan Allah sebagaimana firman-Nya :

قَا لَ اِنَّهٗ يَقُوْلُ اِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا ذَلُوْلٌ تُثِيْرُ الْاَ رْضَ وَلَا تَسْقِى الْحَـرْثَ ۚ مُسَلَّمَةٌ لَّا شِيَةَ فِيْهَا ۗ قَا لُوا الْئٰـنَ جِئْتَ بِا لْحَـقِّ ۗ فَذَبَحُوْهَا وَمَا كَا دُوْا يَفْعَلُوْنَ

“Dia (Musa) menjawab, “Dia (Allah) berfirman, (sapi) itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak (pula) untuk mengairi tanaman, sehat, dan tanpa belang.” Mereka berkata, “Sekarang barulah engkau menerangkan (hal) yang sebenarnya.” Lalu, mereka menyembelihnya dan nyaris mereka tidak melaksanakan (perintah) itu.” (QS. Al-Baqarah : 71)

Watak menolak dan mengkritisi perintah Allah membuat Bani Israil hidup terhina dan terlunta-lunta. Mereka selalu menentang kebenaran dan
mencari-cari celah untuk lari dari kebenaran. Perilaku menghalalkan segala cara selalu mereka jalankan. Bilamana kesepakatan sesuai dengan kehendak mereka, maka dibela. Sebaliknya, bila keputusan tidak sesuai dengan kehendaknya, maka dicari celah untuk menghidarinya. Perilaku inilah yang senantiasa melahirkan berbagai kekacauan di berbagai penjuru dunia.

Penghalalan judi, narkoba, minuman keras, zina, aborsi, pembiaran terhadap perilaku komoseksual (atau LGBT), hingga mendiamkan adanya pembunuhan manusia, tidak lepas dari cara berpikir keturunan Bani Israil. Mereka menhalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan dunia. Mereka tidak peduli terhadap kerusakan moral di tengah masyarakat. Itulah warisan terhina yang berasal dari Bani Israil.

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *