BERBANGGALAH SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

Oleh: Dr. Adian Husaini

Ketua Umum DDII

Dewandakwahjatim.com, Depok - Pada hari Jumat (27/5/2022), saya menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta. Saya membahas seputar makna QS Ali Imran ayat 139, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian merasa hina dan janganlah kalian bersedih, karena kalian adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kalian beriman.” 
Ayat ini merupakan penghibur bagi Rasulullah saw dan para sahabat yang baru saja mengalami kekalahan dalam Perang Uhud. Mereka dilarang untuk merasa hina dan lemah serta berduka cita yang berkepanjangan. Sebab, mereka adalah orang-orang yang paling mulia karena iman dan taqwanya. Kaum muslimin pun tidak boleh memiliki rasa putus asa dalam melaksanakan perjuangan menegakkan kebenaran.

Hikmah ayat ini sungguh mendalam. Kita bisa mengambil pelajaran dari ayat ini dalam perjuangan dalam  bidang pendidikan. Dalam berbagai kesempatan saya menjumpai lembaga-lembaga pendidikan Islam, khususnya Perguruan Tinggi Islam, seolah-olah sudah “menyerah” untuk meyakini bahwa lembaga pendidikannya adalah yang terbaik. 
Pada pertengahan Mei 2022, saya mengisi acara dialog dengan para guru di sebuah sekolah Islam. Ketika itu saya mendengar bahwa pimpinan sekolah tersebut menyatakan, ranking sekolahnya masih di angka 200-an secara nasional. Maka, diajaklah para guru untuk meningkatkan ranking sekolah tersebut.
Mendengar hal tersebut, saya menyampaikan, bahwa sebagai seorang muslim, kita perlu memiliki worldview yang benar dalam memandang “ranking” dalam pendidikan. Sekolah terbaik adalah sekolah yang mendidik para muridnya menjadi manusia-manusia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Alhamdulillah, dalam slogannya, Sekolah Islam itu menempatkan akhlak mulia sebagai ciri khas keunggulan sekolahnya. 

Dengan visi dan semangat seperti itu, maka sejatinya Sekolah Islam itu telah menjadi sekolah yang terbaik, karena mendidik para muridnya menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Rasulullah saw mengingatkan, bahwa: orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya. Rasulullah saw pun menjelaskan, bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak. 

Saya sampaikan kepada para guru, mohon jika ditanya, sekolah mana yang terbaik di kota ini, maka jangan ragu-ragu untuk menjawab, bahwa sekolah kamilah yang terbaik, karena telah berusaha keras mendidik para muridnya menjadi anak-anak yang berakhlak mulia. Menanamkan akhlak mulia bukan pekerjaan gampang dan asal-asalan. Inilah inti sari pendidikan. 

Untuk menanamkan akhlak mulia diperlukan keteladanan, ketekunan, kesungguhan, keikhlasan, dan pembiasaan yang terus-menerus. Dan memang, jika akhlak mulia sudah tertanam, maka para murid itu akan menjadi manusia-manusia yang jujur, pekerja keras, tidak malas, tidak sombong, tidak bakhil, tidak pendengki, tidak munafik, dan sebagainya. Manusia dengan akhlak mulia seperti itu tentu akan menjadi orang sukses dunia dan akhirat. 
Inilah kriteria yang adil untuk menentukan “ranking” sekolah. Jika kriteria utama penentuan ranking sekolah ditentukan oleh nilai matematika dan sains, maka hanya anak-anak pintar saja yang bisa menduduki ranking tinggi. Kepintaran dalam mata pelajaran tertentu memang menjadi ukuran penting dalam penentuan ranking, tetapi itu bukan yang terpenting. Sebab, manusia memang diciptakan Allah dengan potensi kecerdasan yang berbeda-beda. 
Tetapi, akhlak mulia wajib dimiliki semua murid; baik yang kaya atau yang miskin; baik yang pintar atau yang kurang pintar. Semua wajib memiliki akhlak mulia. Karena itu, kata Rasulullah saw, ukuran “ranking” kebaikan seorang manusia ditentukan oleh kebermanfaatannya kepada sesama (khairun naas anfa’uhum lin-naasi). 

Jadi, dalam bidang pendidikan, sudah sepatutnya ada perubahan mendasar dalam cara pandang terhadap “ranking” sekolah atau Perguruan Tinggi. Untuk menentukan mana yang terbaik, maka kriteria terpenting adalah iman, taqwa, dan akhlak mulia. Itu pula yang sepatutnya dijadikan sebagai kriteria keunggulan yang utama oleh suatu Perguruan Tinggi Islam.

Kampus terbaik adalah kampus yang mendidik mahasiswanya menjadi insan beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Kampus beradab adalah kampus yang menempatkan adab dan ilmu-ilmu fardhu ain di atas ilmu-ilmu fardhu kifayah atau ilmu lainnya. 
Dalam berbagai kunjungan di sejumlah pesantren dan sekolah Islam, saya menjumpai sepanduk-sepanduk yang isinya berupa ucapan selamat kepada para lulusan SMA pesantren/sekolah yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Anehnya, tidak saya jumpai sepanduk ucapan selamat kepada lulusan SMA yang masuk ke Perguruan Tinggi milik pesantren atau yayasan sekolah tersebut. 

“Jangan kita merendahkan dan menghina diri kita sendiri. Sampai-sampai kita tidak bangga jika anak-anak kita kuliah di kampus kita sendiri!” begitulah saya mengajak para guru dan dosen untuk merenungkan kondisi pendidikan kita.

Kebanggaan dan keyakinan akan keagungan ajaran dan sejarah peradaban Islam sangat diperlukan untuk menjadi batu pijakan kebangkitan pendidikan kita. Semoga Allah SWT memberikan bimbingan dan kekuatan kepada kita untuk tetap istiqamah dalam perjuangan mewujudkan peradaban yang mulia di negeri kita tercinta. Aamiin. (Depok, 28 Mei 2022).

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *