Ketika Meminta Malaikat Sebagai Nabi

i

Oleh: Dr. Slamet Muliono Redjosari
Pengurus Dewan Dakwah Jawa Timur

Dewandakwahjatim.com, Manado – Nabi sering dipandang sebelah mata, sehingga orang kafir menolaknya dan meminta malaikat sebagai pengganti penyampai risalah ilahiyah. Padahal meminta malaikat sebagai utusan Allah hanyalah alibi untuk menolak ajaran nabi. Tuntutan mendatangkan malaikat justru mengundang malapetaka. Betapa tidak, malaikat merupakan makhluk yang paling taat dalam menjalankan perintah Allah, sehingga ketika ada manusia yang melakukan pembangkangan akan langsung mendapatkan hukuman langsung. Hal itu pernah terbukti dalam sejarah kedatangan malaikat ke rumah nabi Ibrahim. Kedatangan malaikat itu bukan memaafkan tetapi menghukum perilaku homoseksual kaum Nabi Luth. Mereka bukan menghukum kaum Nabi Luth, tetapi menyelamatkan Nabi Luth dan pengikutnya yang konsisten menentang penyimpangan seksual. Dengan kata lain, pelanggaran kaum Nabi Luth telah mengundang amarah Allah, dan sebagai eksekutor malaikat datang menghukumnya tanpa belas kasihan.

Tugas Nabi dan Rasul

Nabi dan rasul diutus Allah bukan hanya untuk menyampaikan risalah ilahiyah tetapi membimbing. Ujung dari semuanya adalah untuk menyucikan hati umatnya. Nabi dan rasul melihat fenomena yang berkembang di masyarakat, dan penuh dengan penyimpangan. Mereka mempertuhankan harta, jabatan, dan kekuasaan, serta disibukkan dengan kehidupan duniawi. Mereka terlena dengan kehidupan dunia hingga melalaikan akherat. Orientasi duniawi membuat mereka mudah untuk menyimpang. Mencuri timbangan, berjudi, berzina hingga mempertuhankan hawa nafsu sehingga fenomena penyimpangan tersebar.

Adanya penyimpangan yang demikian luas maka Allah mengutus nabi dan rasul untuk meluruskan dan mengembalikan hakekat penyembahan kepada Sang Khaliq. Kedatangan nabi dan rasul merupakan tugas untuk mengembalikan pada kedudukan manusia yang mulia. Dengan demikian, manusia yang melakukan penyimpangan akan kembali ke jalan yang lurus dengan hati yang suci. Hal ini termaktub sebagaimana firman-Nya :

رَبَّنَا وَا بْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَا لْحِكْمَةَ وَ يُزَكِّيْهِمْ ۗ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”(QS. Al-Baqarah : 129)

Malaikat dan Pembangkangan Manusia

Dalam menyampaikan risalah ilahiyah, segolongan manusia menentang dan meminta malaikat sebagai utusan. Mereka menganggap bahwa utusan Allah dari kalangan manusia tidak pantas dan bisa salah. Oleh karena itu, mereka meminta malaikat sebagai utusan. Mereka menganggap malaikat sebagai makhluk yang suci dan terpercaya. Hal ini sebagaimana firman-Nya :

وَقَا لُوْا لَوْلَاۤ اُنْزِلَ عَلَيْهِ مَلَكٌ  ۗ وَلَوْ اَنْزَلْـنَا مَلَـكًا لَّـقُضِيَ الْاَ مْرُ ثُمَّ لَا يُنْظَرُوْنَ

“Dan mereka berkata, “Mengapa tidak diturunkan malaikat kepadanya (Muhammad)?” Jika Kami turunkan malaikat (kepadanya), tentu selesailah urusan itu, tetapi mereka tidak diberi penangguhan (sedikit pun).” (QS. Al-An’am : 8)

Permintaan untuk menjadikan malaikat hanyalah akan mempercepat kebinasaan pada para pembangkang. Dengan kata lain, ketika keinginan itu dikabulkan, dan malaikat menjadi utusan Allah, tidak akan ada penundaan hukuman. Malaikat langsung mengeksekusi ketika terjadi pelanggaran. Ketaatan para malaikat untuk menjalankan perintah Allah bisa diragukan. Kisah malaikat yang datang ke rumah nabi Ibrahim untuk menghukum kaum homoseksual menjadi salah satu bukti.

Kedatangan mereka di rumah Nabi Ibrahim untuk mengeksekusi kaum Nabi Luth yang melakukan penyimpangan. Malaikat mendatangi kaum Nabi Luth karena sudah mendapatkan mandat untuk menghancurkannya. Tugas itu dilakukan dengan cepat dengan langsung membalik bumi sebagai bentuk melaksanakan perintah karena penyimpangan seksual. Hal itu diabadikan Allah sebagaimana firman-Nya :

فَلَمَّا جَآءَ اَمْرُنَا جَعَلْنَا عَا لِيَهَا سَا فِلَهَا وَاَ مْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَا رَةً مِّنْ سِجِّيْلٍ ۙ مَّنْضُوْدٍ 

“Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkir-balikkan negeri kaum Luth, dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar,” (QS. Hud : 82)

Kekokohan malaikat dalam menjalankan perintah Allah dengan menghukum para pembangkangnya, merupakan bentuk ketaatan sebagai makhluk Allah. Oleh karena itu, ketika manusia membangkang dengan meminta malaikat sebagai utusan justru akan mempercepat kebinasaannya.

Kalau nabi dan rasul yang melakukan eksekusi, bisa dimungkinkan ada rasa belas kasihan. Sebagai manusia, nabi dan rasul memiliki rasa empati dan memaafkan atas kesalahannya, dan hal itu akan memberi ruang untuk menunda hukuman. Hal ini diabadikan Allah sebagaimana firman-Nya :

اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِ نَّهُمْ عِبَا دُكَ ۚ وَاِ نْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَاِ نَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Al-Ma’idah : 118)

Hal ini berbeda dengan malaikat dimana ketika menerima tugas akan langsung mengeksekusi, tanpa kompromi atau memaafkan. Ketika Allah memerintahkan malaikat untuk menghukum terhadap para penentangnya, maka kebinasaan akan terjadi, Oleh karena itu, keinginan untuk menjadikan malaikat sebagai utusan Allah hanyalah alibi. Kalaupun Allah mengutus malaikat sebagai rasul, justru akan menjadi penyesalan karena malaikat akan mengeksekusi dengan hukuman ketika terjadi kesalahan.

Manado, 3 Juni 2022

Editor: Sudono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *