Tidak Pantas Allah Didustakan dan Dicemooh

oleh Ustadz Hidayatullah

Anggota Bidang Organisasi DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قالَ اللَّهُ تبارَك وتعالى كذَّبني ابنُ آدمَ ولم يَكن ينبغي لهُ أن يُكذِّبني وشتَمني ابنُ آدمَ ولم يَكن ينبغي لهُ أن يشتُمَني أمَّا تَكذيبُه إيَّايَ فقولُه إنِّي لا أعيدُه كما بدأتُه وليسَ آخِرُ الخلقِ بأعزَّ عليَّ من أوَّلِه وأمَّا شتمُه إيَّايَ فقولُه {اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا} وأنا اللَّهُ [الأحدُ] الصَّمدُ لم ألِد ولم أولَد ولم يَكن لي كفُوًا أحدٌ”. رواه البخارى

Dari Abi Hurairah r.a., bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, telah Berfirman Allah ta’ala: Ibnu Adam telah mendustakanku, dan mereka tidak berhak untuk itu, dan mereka mencelaku padahal mereka tidak berhak untuk itu, adapun kedustaannya padaku adalah perkataanya, “Dia tidak akan menciptakankan aku kembali sebagaimana Dia pertama kali menciptakanku (tidak dibangkitkan setelah mati)”, adapun celaan mereka kepadaku adalah ucapannya, “Allah telah mengambil seorang anak, (padahal) Aku adalah Ahad (Maha Esa) dan Tempat memohon segala sesuatu (al-shomad), Aku tidak beranak dan tidak pula diperankkan, dan tidak ada bagiku satupun yang menyerupai”.[HR. Bukhari].

Allah didustakan

Allah didustakan dan di cemooh, sungguh suatu tindakan yang sangat tidak pantas dan tidak layak bagi seorang manusia melakukannya, dan hal itu merupakan bentuk kesombongan yang luar biasa.

Adapun kedustaan mereka adalah mereka mengatakan bahwa Allah tidak akan membangkitkan mereka setelah mereka mati. Mereka meyakini dengan keyakinan yang dipaksakan bahwa mereka setelah mati tidak akan dihidupkan lagi, yakni selesailah perjalanan hidup mereka.

وَقَالُواْ مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُۚ وَمَا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍۖ إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ .

Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (al Jatsiyah: 24)

Bagaimana mungkin mereka memiliki pandangan yang demikian, pastinya hal itu hanya karena keingkarannya kepada hari kebangkitan, karena persoalan demikian tentu sangat mudah bagi Allah untuk membangkitkan mereka Kembali setelah mereka dimatikan-Nya, padahal di sisi lain mereka meyakini bahwa Allah sebagai pencipta dirinya dan semua yang ada di dunia ini.

يَوۡمَ نَطۡوِي ٱلسَّمَآءَ كَطَيِّ ٱلسِّجِلِّ لِلۡكُتُبِۚ كَمَا بَدَأۡنَآ أَوَّلَ خَلۡقٖ نُّعِيدُهُۥۚ وَعۡدًا عَلَيۡنَآۚ إِنَّا كُنَّا فَٰعِلِينَ
(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya. (al Anbiya’: 104)

وَيَقُولُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَءِذَا مَا مِتُّ لَسَوۡفَ أُخۡرَجُ حَيًّا . أَوَ لَا يَذۡكُرُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَنَّا خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ وَلَمۡ وَلَمۡ يَكُ شَيۡئا . فَوَرَبِّكَ لَنَحۡشُرَنَّهُمۡ وَٱلشَّيَٰطِينَ ثُمَّ لَنُحۡضِرَنَّهُمۡ حَوۡلَ جَهَنَّمَ جِثِيّٗا .

Dan berkata manusia: “Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?” Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali? Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut. (Maryam: 66 – 68)

Allah dicemooh

Demikian pula Allah dicemooh atau dicela oleh orang-orang yang tidak mengenalnya dengan benar. Celaan mereka yaitu: “Allah telah mengambil seorang anak, (padahal) Aku adalah Ahad (Maha Esa) dan Tempat memohon segala sesuatu (al-shomad), Aku tidak beranak dan tidak pula diperankkan, dan tidak ada bagiku satupun yang menyerupai”.

Dalam surah al ikhlash sangat jelas dan gamblang tentang tauhidullah.

قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ١ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ٢ لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ٣ وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ ٤

Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (al Ikhlas: 1 – 4)

Mencapai makrifatullah

Oleh karena itu bermakrifat kepada Allah begitu pentingnya, agar setiap hamba tidak salah persepsi kepada Allah. Kesalahan persepsi akan mengakibatkan salah dalam “memperlakukan” Allah sebagai Dzat Yang Maha Sempurna. Allah Maha Baik dan tidak ada cacat sedikitpun, Allah Maha Terpuji dan tidak ada cela sedikitpun, semua ciptaanNya adalah indah tanpa kecuali.

Imam Ali dalam salah satu khutbahnya menyampaikan:

أَوَّلُ الدِّينِ مَعْرِفَتُهُ ، وَ كَمَالُ مَعْرِفَتِهِ التَّصْدِيقُ بِهِ ، وَ كَمَالُ التَّصْدِيقِ بِهِ تَوْحِيدُهُ ، وَ كَمَالُ تَوْحِيدِهِ الْإِخْلَاصُ لَهُ ،

Pertama dalam agama inibermakrifat kepada Allah, dan kesempurnaan dari bermakrifat kepada Allah adalah membenarkan kepadaNya, dan kesempurnaan dari membenarkanNya adalah dengan mentauhidkanNya, dan kesempurnaan dari mentauhidkanNya adalah dengan mengikhlaskan untukNya. (nahjul balaghah)

وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ
Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (az Zumar: 67)

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa mereka tidak mengagungkan Allah dengan benar, dan hal ini merupakan penyebab dari tidak mengenal Allah dengan sebenar-benar mengenal. Maka menjadi hal yang utama dan pertama adalah bagaimana seorang mukmin dapat mengenal Allah dengan benar.

Hal demikian ini membutuhkan proses dengan motifasi yang kuat, sebagaimana nabi Ibrahim ‘alaihissalam mencari Tuhan, dengan mengamati fenomena alam dan memperhatikan pergerakan benda-benda langit, yang pada akhirnya beliau berkesimpulan bahwa Tuhan adalah Dzat Yang Maha Mengatur seluruh yang ada di alam semesta ini.

Demikian pula dengan nabi Musa ‘alahissalam beliau kepingin melihat Tuhannya, tetapi setelah itu beliau tidak mampu melhatnya bahkan sampai pingsan. Tidak luput pula nabi Muhammad Shallahu ‘alahi wa Sallam, beliau beruzlah dan tahannuts di goa Hira berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Pada akhirnya beliau dibimbing untuk menerima wahyu. Demikianlah dalam rangka mencapai makrifatullah setiap mukmin membutuhkan proses sehingga memahami dengan benar bagaimana Allah itu. Semoga kita selalu dibimbing Allah untuk mengenalNya dengan benar sesuai petunjuk al Quran dan hadits-hadits shahih. Aamiin. Wallahu a’lam. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *