ISRA’ MI’RAJ: SATU PROSES PENDIDIKAN TINGGI

Oleh: Ust. Dr Adian Husaini

Ketua Umum DDII

Dewandakwahjatim.com, Padang - Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah mu’jizat Nabi Muhammad saw. Peristiwa ini diabadikan dalam al-Quran. Dalam perspektif pendidikan, Isra’ Mi’raj merupakan satu bentuk pendidikan tinggi, yang melahirkan satu generasi terbaik, yaitu generasi sahabat Nabi.  Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah tahap akhir dari ujian pendidikan, sebelum para sahabat nabi menjalani proses pendidikan terakhir, yaitu hijrah ke Madinah.
Generasi sahabat dikatakan sebagai generasi terbaik (khairun naas), karena dididik langsung oleh guru terbaik, yaitu Nabi Muhammad saw. Generasi ini menjalani kurikulum terbaik, yaitu kurikulum wahyu. Beberapa ayat yang pertama turun, mengubah pandangan alam (worldview) masyarakat Arab yang jahil. 

Mereka kemudian memiliki pandangan baru tentang Tuhan, diri mereka, kehidupan, dan juga tentang ilmu. Dengan bimbingan wahyu, masyarakat Arab yang sebelumnya dikenal sebagai bangsa yang “ummiy” menjadi bangsa yang sangat cinta ilmu, bahkan haus ilmu. Inilah yang menjadikan mereka sebagai umat yag mulia.
Pada saat yang sama, mereka juga memiliki pandangan dan keyakinan yang kuat tentang kehidupan akhirat. Bahwa, kehidupan dunia ini sangatlah remeh, dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Tetapi, mereka juga tidak boleh kalah di dunia. Mereka harus menjadi umat terbaik, umat yang unggul, ummatan wasatha, yakni umat yang menjadi saksi atas umat-umat lainnya.
Jadi, peristiwa Isra’ Mi’raj adalah satu ujian pendidikan yang sangat berat, yang kemudian berhasil meluluskan manusia-manusia mukmin sejati; yang ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya bersifat total, tidak pilih-pilih. Manusia-manusia yang sudah lulus ujian iman inilah yang nanti melaksanakan ujian berat berikutnya, yaitu HIJRAH.


“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yang Kami berkati sekelilingnya karena hendak Kami perlihatkan kepadanya tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar. Maha Melihat.” (QS 17:1).
Imam Ibn Katsir menjelaskan, berdasarkan sejumlah hadits Nabi saw, sangat jelas, Nabi Muhammad saw menjalani Isra’ dan mi’raj dengan tubuh dan ruhnya, dalam keadaan sadar, bukan dalam kondisi tidur seperti mimpi. Perjalanan Nabi dilakukan dengan kendaraan tertentu (buraq). Jika hanya ruh, maka tidak perlu kendaraan. Begitu juga makna QS an-Najm:18, bahwa Rasulullah saw telah melihat tanda-tanda (kekuasaan) Allah yang sangat agung. “Melihat” (ra-â) adalah aktivitas manusia.
Inilah pendapat yang rajih, bahwa Rasulullah saw memang manjalani Isra’ dan mi’raj dengan jasad dan ruh beliau. Isra’ Mi’raj bukan sekedar mimpi Nabi. Karena itulah ayat ini yang diawali dengan “sabhânalladzi”, yang memang menunjukkan, bahwa Isra’ dan mi’raj adalah perkara besar, perkara yang menakjubkan, sehingga diabadikan dalam al-Quran.

Dikisahkan, bahwa setelah mendengar berita tentang peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Abu Jahal melihat peluang baik untuk menyerang Rasulullah saw. Ia pun meminta Rasulullah saw menjelaskan kepada kaumnya. Nabi saw pun menyetujui dan menjelaskan secara terbuka peristiwa besar yang beliau alami. Banyak yang kemudian menolak kebenarannya, mengikuti Abu Jahal. Namun, banyak pula yang meyakini kebenaran cerita itu, karena Rasulullah saw tidak mungkin berdusta.
Tetapi, provokasi Abu Jahal dan beberapa tokoh kafir Quraisy tidak ‘mempan’ untuk membatalkan keimanan Abu Bakar ash-Shiddiq. Beliau cukup berlogika sederhana: Jika yang menyampaikan berita itu adalah Muhammad saw, pasti cerita itu benar adanya. Bahkan, lebih dari itu pun Abu Bakar ash-Shiddiq percaya. Jadi, Isra’ Mi’raj sangat masuk di akalnya Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, dan tidak masuk pada akalnya akalnya Abu Jahal.
Karena dinilai tidak masuk akal (tidak rasional), kalangan ilmuwan sekuler tidak memasukkan pengetahuan tentang hal-hal yang ghaib atau diatas jangkauan akal, sebagai “ilmu” (knowledge). Tapi, itu dimasukkan ke dalam “dogma” atau “faith”. Isra’ Mi’raj dianggap tidak ilmiah.
Padahal, dalam Islam, informasi tentang sifat-sifat Allah, tentang Akhirat, adanya pahala dan dosa, tentang berkah, dan sebagainya, merupakan bagian dari Ilmu! Cerita tentang Isra’ Mi’raj adalah ilmiah, sebab disampaikan oleh sumber berita yang pasti kebenarannya, yatu al-Quran.
Informasi tentang kenabian Muhammad saw, bahwa beliau menerima wahyu dari Allah SWT, adalah merupakan ILMU. Dalam QS Ali Imran:19 disebutkan, bahwa kaum ahlul kitab tidak berselisih paham kecuali setelah datangnya ILMU pada mereka, karena sikap iri dan dengki. Jadi, bukti kenabian Muhammad saw adalah suatu ILMU, yakni suatu informasi yang pasti kebenarannya.
Jadi, informasi tentang hal-hal ghaib adalah ILMU dan “masuk akal”. Sebab, informasi itu dibawa oleh manusia-manusia yang terpercaya. Karena sumber informasinya adalah pasti (khabar shadiq/true report), makan nilai informasi itu pun menjadi pasti pula.
Berita-berita tentang hal-hal yang ghaib bukan “irasional”, tetapi di atas jangkauan akal (supra-rasional), dan diterima oleh akal yang sehat. Sebab, sumber beritanya didasarkan pada sumber-sumber terpercaya (true report/khabar shadiq). Maka, itu termasuk ILMU yang benar.
Meskipun akal tidak dapat mencerna secara langsung, kebenaran peristiwa Isra’ Mi’raj adalah ilmiah. Isra’ Mi’raj disebutkan dalam sumber yang pasti benar (al-Quran). Maka, berita tentang Isra’ Mi’raj adalah ilmiah, dan merupakan ILMU yang pasti kebenarannya, dan wajib kita imani.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali peristiwa yang tidak mampu kita jelaskan secara empiris dan rasional. Lihat saja, bagaimana logikanya, bahwa tanaman dalam pot yang hanya kita sirami dengan air, tetapi menumbuhkan kayu, bunga dan buah. Dari mana asal semua itu? Silakan jelaskan secara rasional!
Jadi, Isra’ Mi’raj adalah sebuah peristiwa agung, yang dalam perspektif pendidikan, merupakan satu proses pendidikan tinggi. Isra’ Mi’raj adalah bentuk ujian penting dalam pendidikan untuk menyaring, siapa yang imannya benar dan siapa yang imannya dusta atau munafik! Hanya manusia-manusia yang lulus ujian iman yang dapat menjalani proses pendidikan selanjutnya, yaitu hidup dan berjuang di dalam masyarakat berperadaban tinggi di Madinah. Wallahu A’lam bish-shawab. (Padang, 28 Rajab 1443 H/1 Maret 2022).

Editor: Sudono/Humas DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *