Komunitas Salafi dan Kohesi Sosial di Sembalun Lawang Lombok Timur

Dr. Slamet Muliono Redjosari
Pengurus DDII Jatim Bidang Pemikiran lslam

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dakwah Salafi bisa berkembang dan diterima oleh masyarakat Sembalun Lawang, Lombok Timur. Masyarakat bisa menerima perbedaan pemahaman keagamaan, sehingga aktivitas dakwah Sunnah mengalami akselerasi. Kalau kaum Salafi di berbagai wilayah digambarkan sebagai gerakan dakwah yang menyimpang dan selalu menyulut konflik di tengah masyarakat, maka di desa yang berada di kaki gunung Rinjani justru mendapatkan respon positif. Kesadaran untuk menerima perbedaan pemahaman keagamaan menghilangkan stigma buruk yang selama ini dilekatkan pada dakwah Salafi. Alih-alih menciptakan kegaduhan dan konflik, dakwah kaum Salafi di wilayah ini, justru diterima dan bisa hidup bersinergi di tengah masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan munculnya masjid-masjid berbasis dakwah Salafi, dengan berbagai aktivitas shalat berjamaah, serta adanya antusiasme masyarakat untuk belajar serta mendalami agama Islam.


Salafi dan Kesadaran Bertoleransi


Dakwah Salafi di Sembalum Lawang mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Hal ini ditunjukkan tumbuhnya masjid, dan lembaga pendidikan, di beberapa tempat. Tumbuhnya kesadaran pentingnya mendalami agama yang ditopang oleh adanya pluralitas pemahaman, membuat dakwah Salafi bisa diterima oleh masyarakat. Kesadaran pentingnya menjaga keragaman pemahaman agama ini tidak memunculkan gesekan yang mengarah pada konflik. Bahkan berkembangnya komunitas dakwah Salafi ini tidak melahirkan isu adanya pergeseran peran kaum tradisionalis.

Kalau di wilayah lain, perkembangan dakwah Salafi yang begitu pesat dianggap mengganggu keberadaan kaum tradisionalis yang selama ini menjadi rujukan. Adanya pergeseran peran inilah yang kemudian menyulut aksi penolakan terhadap dakwah Salafi. Namun apa yang terjadi di Sembalun Lawang ini justru bertolak belakang, dimana perkembangan dakwah Salafi mendapatkan tempat dan masyarakat menerima keberadaannya tanpa ada stigma buruk yang menjadi ancaman bersama.

Kesadaran menerima perbedaan pemahaman keagamaan inilah yang membuat masyarakat Sembalun Lawang menerima keberadaan kaum Salafi. Tradisi membangun masjid secara gotong royong terhadap kelompok apapun menjadi warna sekaligus penopang hilangnya sekat permusuhan. Tiga masjid yang digagas oleh komunitas Salafi bisa berdiri tegak atas bantuan tenaga warga yang rela melakukan kerja bakti (gotong royong) membangun masjid.

Ketika itu jadi dan diisi dengan berbagai aktivitas, seperti shalat berjamaah, kajian-kajian rutin, maka eksistensi masjid kaum Salafi ini semakin kuat. Makmurnya masjid berbasis Salafi ini tidak memunculkan isu adanya pergeseran peran kaum tradisionalis terhadap masyarakatnya. Kesadaran para elite agama dan tokoh masyarakat untuk merawat perbedaan pemahaman keagamaan berhasil menghilangkan percikan-percikan api.

Toleransi inilah yang membuat keberadaan masjid dan lembaga pendidikan berbasis Salafi ini mengalami perkembangan. Hal ini ditunjukkan oleh semakin banyaknya warga yang shalat di masjid ini dan seiring dengan perjalanan waktu, mereka ikut kajian yang diselenggarakan pihak masjid secara rutin. Proses interaksi yang inten dan alami ini membuat masyarakat tumbuh kesadaran beragama secara tulus, hilang perasaan saling curiga. Hal ini membuat kohesi sosial semakin kuat.

Gempa 2018 dan Kohesi Dakwah

Terjadi gempa Lombok tahun 2018 menjadi salah satu faktor merekatnya masyarakat Sembalun Lawang terhadap dakwah Salafi. Gempa yang merusak dan meluluhlantakkan rumah, serta mengganggu aktivitas keseharian mereka, baik berdagang atau berladang. Situasi ini membuat banyak anggota masyarakat membutuhkan pasokan bahan makanan pokok dan kelangkaan air bersih.

Dalam situasi yang sulit ini datang berbagai bantuan ke wilayah Sembalun. Masyarakat pun mencatat pihak-pihak yang memiliki kepedulian atas penderitaan yang mereka rasakan. Momentum inilah yang mendorong komunitas Sa;afi di berbagai kota untuk hadir ikut meringatkan penderitaan yang menimpa masyarakat Sembalun. Bantuan kaum Salafi dari berbagai tempat pun muncul, hingga ke titik-titik sasaran yang terkena dampak gempa secara langsung.

Komunitas dan dai Salafi pun membantu secara intensif dengan memberikan bantuan, baik berupa makanan kebutuhan pokok, minuman, sarana air bersih hingga membantu kerusakan-kerusakan rumah akibat gempa. Bahkan para dai Salafi yang selama ini berdakwah melalui radio, televisi, maupun media sosial lainnya rela datang ke lokasi. Mereka datang bukan hanya memberi bantuan dalam bentuk fisik seperti makanan, minuman, pakaian, dan air bersih, tetapi juga memberi tausiyah untuk memperkuat moral dan jiwa mereka dengan sentuhan-sentuhan agama.
Bahkan komunitas Salafi menyediakan kendaraan khusus yang bisa menjangkau wilayah-wilayah terpencil yang tidak bisa dilalui oleh mobil atau kendaraan besar. Dengan kendaraan khusus (motor gunung) inilah bantuan-bantuan yang selama ini menumpuk di pos-pos luar, bisa terjangkau kepada warga yang terkena dampak. Bantuan yang sampai pada mereka inilah membuat hati mereka kagum terhadap perjuangan komunitas Salafi yang dipandang sangat peduli dan ikhlas dalam membantu tanpa melihat perbedaan suku, dan aliran keagamaan.

Benih-benih perjuangan kaum Salafi yang demikian ini dilihat oleh berbagai ormas dan komunitas yang luas. Mereka memandang bahwa perjuangan komunitas Salafi dari berbagai daerah yang membantu masyarakat yang terkena gempa menjadi bibit bagi tersebarnya dakwah di masyarakat. Kohesi sosial yang terbangun di saat-saat sulit (akibat gempa) muncul kembali ketika komunitas Salafi membangun masjid dan lembaga pendidikan.

Munculnya komunitas dakwah Salafi dengan berbagai aktivitasnya yang berbasis masjid ini telah merekatkan kembali bangunan persaudaraan yang telah terbangun ketika era gempa 2018. Tidak sedikit di antara mereka yang bersimpati dan ikut berbagai kajian yang digagas oleh komunitas Salafi. Fenomena inilah yang menjadi jawaban adanya kohesi sosial antara komunitas Salafi dengan berbagai ormas keagamaan dan elemen social lainnya di Sembalun, Lawang.

Editor: Sudono Syueb/Humas DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *