Prof. Dr. Yahya A. Muhaimin (1943-2022);
Aktivis, Pendidik, dan Intelektual Cemerlang

Oleh M. Anwar Djaelani ,

Ketua Bidang Pemikiran Islam DDII Jawa Timur

Dewandakwahjatim.com, Surabaya- Yahya A. Muhaimin seorang teladan. Mewarisi semangat ayah dan ibunya yang “orang Masyumi”, dia pun aktif; di kepanduan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Muhammadiyah, dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).

Sebagai intelektual, dua buku Yahya A. Muhaimin fenomenal. Sebagai Menteri Pendidikan Nasional, ada kebijakannya yang layak dikenang.

Mengingat jejak panjang kebaikannya, maka saat beliau wafat pada 9 Februari 2022 banyak yang berduka. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Tak sedikit yang mendoakannya.

Si Rendah Hati

“Tokoh Muhammadiyah Terbaik Prof. Yahya Muhaimin Telah Berpulang” (https://edukasi.sindonews.com 09 Februari 2022). “Haedar Nashir: Yahya Muhaimin adalah Sosok Intelektual Teladan” (https://republika.co.id 09 Februari 2022). Demikian, sekadar dua judul berita yang mengabarkan berita duka itu.

“Muhammadiyah kehilangan sosok intelektual Muslim yang mumpuni dan berintegritas keilmuan tinggi,” demikian sebagian isi berita yang disebut pertama di atas. “Beliau adalah guru dan tokoh kami yang rendah hati. Bergaul dan ramah menyapa kepada kader muda Muhammadiyah. Beliau sosok intelektual teladan yang menunjukkan kata sejalan tindakan. Meski kritis tetap rendah hati dan tidak tampak aura arogansi dengan keilmuannya yang mumpuni,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir di berita yang disebut kedua.

Pendidikan dan Organisasi

Prof. Dr. Yahya Abdul Muhaimin, nama lengkapnya. Dia lahir di Bumiayu – Brebes Jawa Tengah pada 17 Mei 1943. Sang ayah, Abdul Muhaimin, pada masanya adalah salah satu tokoh Masyumi di Bumiayu – Brebes. Sama, sang ibu-Zubaidah-, aktif di Muslimat Masyumi sekaligus anggota Aisyiyah di Bumiayu – Brebes.

Yahya A. Muhaimin menyelesaikan SD dan SMP di Bumiayu. Di periode itu Yahya A. Muhaimin sudah aktif di Kepanduan Islam Indonesia. Selanjutnya, dia melanjutkan ke SMA Muhammadiyah I Yogyakarta dan lulus pada 1962.

Mulai 1963 di Yogyakarta dia kuliah rangkap, di UIN Sunan Kalijaga dan UGM. Di UIN Sunan Kalijaga, kuliah di jurusan Perbandingan Agama dan lulus pada 1967. Di UGM, kuliah di jurusan Hubungan Internasional dan lulus pada 1970 (https://ugm.ac.id 03 Oktober 2012). 

Saat mahasiswa, Yahya A. Muhaimin aktif di Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI) – HMI Komisariat Fisipol UGM. Lewat aktivitasnya itu, dia berkenalan dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah antara lain seperti AR Fahruddin, Djazman Al-Kindi, dan Jarnawi Hadikusumo.

Selain di HMI, Yahya A. Muhaimin aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Di IMM, pada periode 1964-1967 Yahya A. Muhaimin menjadi Sekretaris Biro Politik dan Lembaga Pengembangan Ilmu. Di biro yang sama, Amien Rais sebagai ketuanya. Kemudian, pada akhir periode tersebut, Yahya A. Muhaimin menempati posisi Wakil Sekretaris Jenderal DPP IMM.

Belajar dan Meneliti

Yahya A. Muhaimin mendapat beasiswa dari The American Field Service International Scholarship untuk studi di The Central Community School Iowa – AS, 1962-1963. Kemudian, pada 1977 dia mendapat beasiswa dari The Rockefeller Foundation untuk melanjutkan S3 di Massachusetts Institute of Technology (MIT) – AS. Dia berhasil meraih gelar doktor pada 1982.

Yahya A. Muhaimin berkesempatan, pada 1987, mengikuti Kunjungan Belajar tentang Keamanan Asia-Pasifik di Departemen Dalam Negeri AS. Lalu, pada 1989 dan 1994 dari lembaga yang berbeda di Jepang, dia mendapat kesempatan untuk penelitian.

Sang Pendidik

Lewat posisinya sebagai dosen di Fisipol UGM, Yahya A. Muhaimin lebih berkiprah di masyarakat luas. Setelah memegang beberapa jabatan (antara lain seperti Kepala Program Pascasarjana Ilmu Politik UGM pada 1983-1984), dia lalu terpilih sebagai Dekan Fisipol UGM periode 1994-1997.

Sementara, pada 1993, berdasarkan Keputusan Sidang Tanwir Muhammadiyah, Yahya A. Muhaimin diangkat sebagai Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Muhammadiyah. Lalu, pada Muktamar Muhammadiyah ke-43 di Banda Aceh tahun 1995, Yahya A. Muhaimin dipercaya sebagai Koordinator Bidang Pendidikan PP Muhammadiyah.

Pada Muktamar Muhammadiyah ke-44 di Jakarta tahun 2000, Yahya A. Muhaimin ditunjuk sebagai Pembina Bidang Pendidikan dan Kebudayaan PP Muhammadiyah. Selanjutnya, di Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang pada 2005, Yahya A. Muhaimin diangkat sebagai Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PP Muhammadiyah (Hasyim dkk, 2015: h. 863-864).

Yahya A. Muhaimin diangkat menjadi Menteri Pendidikan Nasional dan itu dijalaninya pada 1999-2000. Di antara kebijakannya yang paling populer, adalah pengakuan terhadap jalur pendidikan non-formal yang dianggap setara dengan pendidikan formal (https://hi.fisipol.ugm.ac.id. 04 Oktober 2012).

Bersama DDII

Sebagai putera dari sepasang orangtua yang aktivis Masyumi, tak aneh jika Yahya A. Muhaimin juga aktif dan menjadi pengurus di Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII). Pada periode kepengurusan DDII 2015-2020, Yahya A. Muhaimin dipercaya sebagai salah satu anggota Pembina. Sementara, di periode yang sama, Ketua Umum-nya adalah Drs. Mohammad Siddik, MA.

Sebagai kader, Yahya A. Muhaimin punya catatan sangat penting dalam berinteraksi dengan M. Natsir – pendiri Masyumi dan DDII. Bahwa, antara tahun 1986-1987, dia termasuk di antara sejumlah cendekiawan yang aktif dalam perbincangan serius dengan M. Natsir.

Selain Yahya A. Muhaimin, cendekiawan lain yang turut hadir di acara itu adalah M. Amien Rais, Kuntowijoyo, A. Watik Pratiknya, dan Endang Saifuddi Anshari. Apa isi dan hasil pertemuan itu?

Para cendekiawan itu melakukan wawancara intensif dengan M. Natsir. Mereka menggali pemikiran M. Natsir. Berulangkali wawancara itu dilakukan. Adapun salah satu hasil pertemuan itu, pada 1989 diterbitkanlah sebuah buku berjudul: ”Pesan Perjuangan Seorang Bapak; Percakapan Antargenerasi” (https://adianhusaini.id 14 September 2020).

Cemerlang dan Peduli

Pada 2012, di sebuah kesempatan, Rektor UGM Prof. Dr. Pratikno memuji kecerdasan Yahya A. Muhaimin. Hal ini, karena sejak mahasiswa S1 dia telah menghasilkan karya tulis yang kemudian menjadi rujukan mengajar banyak pihak.

Skripsi Yahya A. Muhaimin yang ditulis pada 1970 kemudian dibukukan dengan judul “Perkembangan Militer dalam Politik di Indonesia 1945-1966”. Karya ilmiah itu adalah skripsi terbaik UGM.

Hal yang luar biasa, buku tersebut kemudian menjadi rujukan dosen untuk mengajar mahasiswa S2 dan S3. Tercatat, buku ini dicetak ulang beberapa kali.

Buku Yahya A. Muhaimin lainnya, yang berasal dari disertasinya, juga tak kalah fenomenal. Judulnya, “Bisnis dan Politik; Kebijaksanaan Ekonomi Indonesia 1950-1980”. Seperti karyanya saat di program S1, buku dari hasil program S3 ini juga menjadi rujukan banyak kalangan.

Bagi yang mengenalnya, Yahya A. Muhaimin adalah sosok intelektual Muslim yang selalu tampil sederhana dan peduli. Di antara buah kepeduliannya, Yahya A. Muhaimin merintis dan mengembangkan pendidikan di daerah tempat kelahirannya, Bumiayu – Brebes. Di sana, antara lain telah berdiri Universitas Peradaban.

Jejak Indah

Sebagian langkah kepejuangan Yahya A. Muhaimin dibukukan pada 2012. Buku biografi itu berjudul, “Tiga Kota Satu Pengabdian: Jejak Perjalanan Yahya A. Muhaimin”. Tentu, buku ini mencerahkan.

Kini, setelah Yahya A. Muhaimin wafat, doa Prof. Haedar Nashir ini kiranya cukup bisa mewakili rasa terima kasih kita: “Selamat jalan Pak Yahya Muhaimin. Jejakmu adalah suluh kecendekiawanan yang otentik bagi kami. Semoga almarhum husnul khatimah, diterima amal ibadahnya, diampuni kesalahannya, dan ditempatkan di jannatun na’im”. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *