DISKUSI TENTANG ADAB DI DEWAN RISET DKI JAKARTA

Oleh: Dr. Adian Husaini

Ketua Umum DDII Pusat

Dewandakwahjatim.com, Depok – Pada 23 Desember 2021, saya mendapat undangan mengisi diskusi secara daring tentang adab di Dewan Riset Daerah (DRD) DKI Jakarta. Hadir pimpinan DRD, pejabat Dinas Sosial DKI Jakarta, dan juga sejumlah pimpinan lembaga dinas sosial di wilayah Jakarta.


Pada kesempatan itu saya mendapat penjelasan tentang kiprah Dinas Sosial DKI Jakarta dalam menangani anak-anak yatim dan anak-anak terlantar. Muncullah gagasan dari anggota DRD DKI untuk menggagas pembentukan semacam “Pondok Adab” bagi anak-anak yang ditangani oleh Dinas Sosial DKI.
Tentu saja itu gagasan yang baik. Di era disrupsi, Rumah-rumah yatim dan rumah singgah sangat berpeluang menjadi lembaga pendidikan yang menerapkan konsep ta’dib (penanaman adab), seperti halnya keluarga, masjid, pesantren, dan juga sekolah atau kampus.


Saya mengingatkan kembali bahwa tokoh pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara sudah menggagas tentang pondok pesantren sebagai model pendidikan nasional. Dalam artikelnya di Majalah Wasita, November 1928, Ki Hadjar membuat judul artikelnya: “Sistem Pondok dan Asrama Itulah Sistem Nasional”.
Menurut Ki Hadjar, sejak dahulu kita memiliki rumah pengajaran yang juga pendidikan, yaitu kalau sekarang “pondok pesantren”, kalau jaman rumah kabudan “menjadi” atau “asrama”.


Ada pun sifatnya pesantren atau pondok dan asrama yaitu rumah kyai guru (Ki Hajar), yang dipakai untuk membuat pondokan santri-santri (cantrik-cantrik) dan buat rumah pengajaran juga. Di situ, karena guru dan murid tiap-tiap hari, siang malam berkumpul jadi satu, maka pengajaran dengan sendirinya selalu berhubungan dengan pendidikan.


Itulah penjelasan KI Hadjar tentang pondok pesantren. Dalam bahasa Belanda, pendidikan disebut sebagai opvoeding dan pengajaran disebut onderwijzs. Opvoeding adalah proses penanaman nilai. Inilah yang sekarang disebut sebagai pendidikan adab, akhlak, atau karakter. Sedangkan pengajaran adalah proses tranfer pengetahuan atau wawasan.
Karena itu, menurut Ki Hadjar: “Mendidik berarti menuntun tumbuhnya budi pekerti dalam hidup anak-anak kita, supaya mereka kelak menjadi manusia berpribadi yang beradab dan bersusila.”


Sedangkan “Pengajaran adab”, menurtnya, bermaksud memberi macam-macam pengajaran, agar sewutuhnya jiwa anak terdidik, bersama-sama dengan pendidikan jasmaninya.
Jadi, hakikat “pendidikan” adalah: “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.”
Begitulah penjelasan singkat Ki Hadjar tentang pondok pesantren, adab, dan hakikat pendidikan. Karena itulah, kita menyambut baik tekad Mendikbudristek Nadiem Makarim, pada 2 Mei 2021, yang menyatakan akan menerapkan konsep pendidikan nasional, sebagaimana yang digagas oleh KI Hadjar.


Beginilah petikan isi pidato Bapak Menteri Pendidikan kita ketika itu: “Terlalu lama pemikiran Ki Hajar Dewantara tidak kita manfaatkan sepenuhnya. Pendidikan di Negara Kesatuan Republik Indonesia haruslah menuju arah lahirnya kebahagiaan batin serta juga keselamatan hidup. Esensi mendasar pendidikan haruslah memerdekakan kehidupan manusia. Mulai hari ini, pemikiran Bapak Pendidikan Indonesia tersebut haruslah kita jiwai dan kita hidupkan kembali agar lekas tercipta pendidikan yang berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia, serta terwujudnya kemerdekaan belajar yang sejati.”


Sekjen PP Muhammadiyah, Prof. Abdul Mu’ti, dalam artikelnya di Harian Republika (20 Desember 2021), yang berjudul “Kekerasan dalam Pendidikan”, menegaskan bahwa: “Hakikat pendidikan adalah proses ta’dib, pembentukan adab.”


Dalam disertasinya di UIKA Bogor, Dr. Syarif Hidayat mengutip pendapat Ibnu Hajar al-Asqalani, bahwa adab adalah mengamalkan segala sesuatu yang terpuji, baik kutipan atau perbuatan. sebagian ulama menyatakan, bahwa adab adalah menerapkan akhlak mulia (akhlaqul karimah).


Sekali lagi, menurut Ibnu Hajar al-Asqalani, adab adalah penerapan akhlak mulia. Dan itulah yang ditegaskan dalam UUD 1945 pasal 31 (3): “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”
Bahkan, sebelum kemerdekaan, para perumus Dasar Negara Kesatuan RI bersepakat dengan rumusan “Kemanusiaan yang adil dan beradab!” Istilah adil dan beradab sangat akrab di kalangan bangsa Indonesia. Beratus tahun sebelum datangnya penjajah, bangsa Indonesia telah menerapkan sistem pendidikan beradab – yang dikenal sebagai “pesantren”. Ciri utamanya, keilmuan, pengamalan, dan keteladanan diterapkan secara terpadu.
Merujuk kepada rumusan “kemanusiaan yang adil dan beradab itu”, sudah saatnya para pegiat pendidikan menggali kembali makna adab. Para ulama Islam banyak menulis tentang adab. Imam Bukhari menulis kitab Adabul Mufrad. Imam al-Mawardi menulis Adab ad-Dunya wal-Din, dan sebagainya. Seorang ulama menasehati anaknya: “Yaa Bunayya, ashibil fuqahaa wal-ulamaa, wa-ta’allam minhum, wa-khudz adabahum.” (Wahai anakku, bergaullah dengan para fuqaha dan ulama, belajar pada mereka, dan ambillah adab mereka).


Kitab Adab al- Alim wal-Muta’allim, karya KH Hasyim Asy’ari, menyebutkan, bahwa Imam asy-Syafii rahimahullah, pernah ditanya, “Bagaimana usaha Tuan dalam mencari adab?” Sang Imam menjawab, ”Aku senantiasa mencarinya laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.”
Konsep “pendidikan beradab” (proses pembentukan manusia beradab), dikonseptualkan secara komprehensif oleh Prof. Naquib al-Attas, dalam Konferensi Internasional Pendidikan Islam pertama di Mekkah, 1977. Dalam wawancara dengan cendekiawan Muslim AS, Hamza Yusuf, Prof. Naquib al-Attas juga menyebutkan, bahwa akar krisis yang dihadapi oleh umat Islam saat ini adalah “loss of adab”. (http://www.youtube.com/watch?v=L5pyXqZq4E0).


Konsep pendidikan beradab ini kemudian dan dioperasionalkan oleh Prof. Wan Moh Nor Wan Daud melalui berbagai ilmu, seperti Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas An Expostion of the Original Concept of Islamization, yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa ( Indonesia, Bosnia, Rusia, dll.).


Itulah pentingnya adab dalam pendidikan kita. Semoga diskusi di DRD DKI itu memperkuat kesadaran kita semua sebagai bagian umat Islam dan bangsa Indonesia, tentang pentingnya adab atau akhlak mulia, dalam pendidikan kita. Aamiin. (Depok, 23 Desember 2021).

Editor: Sudono/Humas DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *