AKHIRNYA PEMERINTAH MEROMBAK KURIKULUM PENDIDIKAN SMA

Oleh: Dr. Adian Husaini
(www.adianhusaini.id)

Selasa (21/12/2021), situs berita detik.com memuat judul berita yang mengejutkan banyak warga masyarakat. Judulnya: “Pengumuman! Kurikulum Baru Tidak Ada Lagi Jurusan IPA, IPS, dan Bahasa.” Kata pejabat Kemendikbud, ini bukan Kurikulum 2022, tetapi kurikulum Prototipe. 
Menurut Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Anindito Aditomo, sekolah dapat menggunakan kurikulum prototipe sebagai alat untuk melakukan transformasi pembelajaran.
 "Kurikulum prototipe tidak disebut sebagai Kurikulum 2022 karena pada tahun 2022 sifatnya opsional. Kurikulum prototipe hanya akan diterapkan di satuan pendidikan yang berminat untuk menggunakannya sebagai alat untuk melakukan transformasi pembelajaran," kata Nino pada detikEdu, Senin (20/12/2021).
 Nino menjelaskan, kurikulum prototipe dirancang untuk memberi ruang lebih banyak bagi pengembangan karakter dan kompetensi siswa. Di jenjang SMA, sambungnya, hal ini berarti memberi kesempatan pada siswa untuk menekuni minatnya secara lebih fleksibel.
 Ia menambahkan, karena itu, alih-alih dikotakkan ke dalam jurusan IPA, IPS dan Bahasa, siswa kelas 11 dan 12 akan boleh meramu sendiri kombinasi mata pelajaran yang sesuai dengan minatnya.  "Misalnya, siswa yang ingin menjadi insinyur akan boleh mengambil Matematika lanjutan dan Fisika lanjutan, tanpa mengambil Biologi. Ia boleh mengkombinasikan itu dengan mata pelajaran IPS, Bahasa, dan kecakapan hidup yang sejalan dengan minat dan rencana kariernya," kata Nino mencontohkan.
 Kombinasi mata pelajaran yang akan diambil, kata Nino, melibatkan peran guru BK. "Ada kepmen (keputusan menteri) tentang sekolah penggerak yang menjelaskan kurikulumnya," imbuhnya.
 Sebagai gambaran,  kurikulum prototipe dijabarkan dalam Keputusan Mendikbudristek Nomor 162/M/2021 tentang Sekolah Penggerak. Beberapa poin kurikulum prototipe di antaranya sebagai berikut:
 Untuk Kelas X (Kelas 1 SMA),  Mata Pelajaran sama dengan di SMP. Siswa kelas X akan mengikuti mata pelajaran (mapel) umum yang sama dengan di SMP. Sekolah dapat menentukan pengorganisasian pembelajaran IPA atau IPS. 
 Adapun Mata Pelajaran Kelas X sebagai berikut: (1)  Pendidikan Agama/Kepercayaan dan Budi Pekerti (sesuai keyakinan dan kepercayaan) (2)  Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (3)  Bahasa Indonesia (4)  Matematika (5)  IPA: Fisika, Kimia, Biologi

(6) IPS: Sosiologi, Ekonomi, Sejarah, Geografi (7) Bahasa Inggris (8) Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (9) Informatika (10) Pilihan (minimal 1): Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, Seni Tari, Prakarya (11) Muatan Lokal.
Adapun untuk kelas XI dan XII: Tidak Ada Jurusan IPA, IPS, dan Bahasa. Kelompok mata pelajaran di kelas XI dan XII dibagi menjadi 5 kelompok utama, yaitu:
(1) Kelompok mapel umum, wajib diikuti semua siswa SMA
(2) Kelompok mapel Matematika dan IPA (MIPA), SMA wajib menyediakan minimal 3 mapel di kelompok ini.
(3) Kelompok mapel IPS, SMA wajib menyediakan minimal 3 mapel di kelompok ini
(4) Kelompok mapel Bahasa dan Budaya, dibuka sesuai sumber daya yang tersedia di SMA
(5) Kelompok mapel Vokasi dan Prakarya: capaian pembelajaran mapel Vokasi dikembangkan SMA bersama dunia kerja, dan sesuai dengan potensi/kebutuhan sumber daya manusia di SMA.
Misalnya, sekolah yang ditetapkan pemerintah sebagai sekolah keolahragaan, dapat membuka kelompok mapel Seni dan Olahraga sesuai sumber daya di SMA. Adapun Mata pelajaran Kelas XI dan XII sebagai berikut:
Mata Pelajaran Umum: (1) Pendidikan Agama/Kepercayaan dan Budi Pekerti (sesuai keyakinan dan kepercayaan) (2) Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Bahasa Indonesia (3) Matematika (4) Bahasa Inggris (5) Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (6) Sejarah (7) Pilihan (minimal 1): Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, Seni Tari.
Kelompok Mata Pelajaran: (1) MIPA: Fisika, Kimia, Biologi, Informatika, Matematika tingkat lanjut (2) IPS: Sosiologi, Ekonomi, Geografi, Antropologi (3) Bahasa dan budaya: Bahasa Indonesia tingkat lanjut, Bahasa Inggris tingkat lanjut, Bahasa Korea, Bahasa Arab, Bahasa Mandarin, Bahasa Jepang, Bahasa Jerman, Bahasa Prancis (4) Vokasi dan Prakarya: Prakarya, Membatik, Servis Elektronik, Desain Grafis, dan lain-lain sesuai sumber daya tersedia. (5) Muatan Lokal.
Nino mengatakan, kurikulum prototipe tersebut sedang diterapkan secara terbatas di 2500-an sekolah di seluruh Indonesia melalui Program Sekolah Penggerak.
*
Demikianlah berita tentang perubahan Kurikulum Pendidikan Tingkat SMA yang dijelaskan oleh pejabat Kemendikbud Ristek. Sengaja kita paparkan agak panjang berita itu, agar kita mendapatkan gambaran yang cukup jelas tentang perubahan tersebut. Tentu saja, ini berita penting bagi para pelaku pendidikan.
Jika dicermati, penetapan kurikulum prototipe itu merupakan kelanjutan dari konsep Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka yang sudah digulirkan terlebih dahulu. Bisa dipahami, Mendikbud yang sangat paham tantangan dunia teknologi informasi, tentu berusaha membuat perubahan kurikulum agar lebih sesuai dengan tantangan dunia kerja.
Hanya saja, dalam perspektif pendidikan Islam, kurikulum prototipe itu masih belum menunjukkan keseriusan dalam perwujudan tujuan utama pendidikan nasional, yaitu membentuk manusia beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Iman, taqwa, dan akhlak mulia sepatutnya menjadi syarat utama untuk masuk ke Perguruan Tinggi atau masuk dunia kerja.
Setelah itu, iman, taqwa dan akhlak mulia, dikuatkan dengan penguasaan berbagai mata pelajaran yang mengarahkan siswa SMA untuk menguasai bidang keilmuan atau profesi tertentu. Silakan para profesional, para guru dan orang tua menentukan mata pelajaran apa saja yang memang diperlukan.
Dalam hal ini, kebijakan kurikulum prototipe tampak lebih fleksibel dan lebih baik, dengan menyerahkan masalah ini kepada para guru atau orang tua. Guru dan siswa dipersilakan untuk memilih sendiri sejumlah mata pelajaran yang memang diperlukan untuk kelanjutan kuliah atau pekerjaan yang akan ditekuninya.
Akan tetapi, sebaik apa pun kurikulum, persoalan utama pendidikan kita adalah pada kualitas guru. Serahkan saja soal kurikulum ini pada guru-guru yang berkualitas. InsyaAllah mereka lebih paham kondisi murid-murid mereka sendiri.
Bahkan, di era disrupsi, kebijakan soal kurikulum ini pun sudah sepatutnya diserahkan kepada para orang tua, sebagai pendidik sejati bagi anak-anaknya. Tugas pemerintah adalah membantu percepatan para orang tua agar bisa menjadi guru sejati bagi anak-anaknya! Wallahu A’lam bish-shawab. (Lampung, 21 Desember 2021).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *