MENYAMBUT 1443 HIJRIAH: OPTIMIS DI TAHUN KRISIS

INGAT PESANTREN ITU LEMBAGA PERJUANGAN
Oleh: Dr. Adian Husaini

Ketua Umum DDII Pusat

    
Dewandakwah.com, Depok - Tanggal 22 Oktober telah ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan itu merujuk pada keluarnya fatwa jihad KH Hasyim Asy'ari yang menyerukan jihad mempertahankan kemerdekaan RI. Fatwa jihad itu memutuskan: 

(1) Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan Kemerdekaan dan Agama dan Negara Indonesia terutama terhadap fihak Belanda dan kaki tangannja.

(2) Supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat “sabilillah” untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam.

Kita tahu apa yang terjadi setelah keluarnya fatwa jihad tersebut. Ribuan kyai dan santri turun ke medan perang untuk melawan pasukan penjajah, yang persenjataannya jauh lebih hebat dari senjata tentara kita, apalagi senjata para santri. Tapi, mereka tidak gentar menghadapi pasukan penjajah.

Peristiwa 10 November 1945 menunjukkan kekuatan santri dan pesantren dalam memperetahankan kemerdekaan Indonesia. Inilah bukti kuat, bahwa pesantren, sepanjang sejarahnya memang merupakan lembaga perjuangan.

Mohammad Natsir dalam pesan-pesannya kepada umat Islam menyampaikan, bahwa: 

“Reaksi pertama datang dari para ulama kita. Ulama kita melakukan ‘uzlah’, melakukan hijrah mental, menyendiri begitu. Dengan baik-baik, dengan tidak melawan secara fisik, karena senjata sudah tidak ada lagi. Ia meninggalkan kota-kota besar supaya jangan pemuda-pemuda ini terpengaruh oleh upaya-upaya penjajah. Jadi kita bawa generasi muda kita ke pinggir-pinggir kota, ke dessa-desa, ke gunung atau ke pantai, sehingga tidak terpengaruh oleh kehidupan di kota besar. Nah, di tempat yang terasing itulah para ulama membuka pesantren-pesantren. Dari apa yang saya kemukakan tadi, jelas terlihat bahwa pesantren adalah lembaga yang dikembangkan dalam rangka perjuangan bangsa Indonesia.

Dengan demikian, pesantren bukan saja merupakan lembaga pendidikan, tetapi mempunyai peran yang penting dalam perjuangan nasional. Waktu itu, misalnya, dalam rangka menanamkan jiwa anti penjajah, para santri tidak boleh memakai dasi, haram hukumnya, karena menyerupai penjajah, orang-orang Barat. Pantalon juga haram. Musti pakai sarung. Kita memang melakukan ‘uzlah’, baik secara fisik atau pun secara spiritual. Pesantren-pesantren ini mempunyai alam pemikiran sendiri, alam perasaan sendiri, yang berbeda dengan apa yang di kota-kota yang dipengaruhi oleh politique asosiasi dari Belanda. Mungkin kalau kita memandang larangan pakaian itu dari segi fikih dalam dalam kondisi sekarang, kita akan tersenyum. Tapi sebagai metode perjuangan, dan dalam konteks penjajahan waktu itu, cara yang dipakai para ulama kita dengan uzlahnya ini, merupakan pemikiran yang amat cerdik, kalau tidak kita katakan brilliant.”

Ki Hajar Dewantara juga mencitakan pesantren sebagai model ideal pendidikan nasional. Sebab, di pesantren atau pondok dan asrama ada rumah kyai guru (Ki Hajar), yang dipakai buat pondokan santri-santri (cantrik-cantrik) dan buat rumah pengajaran juga. “Di situ karena guru dan murid tiap-tiap hari, siang malam berkumpul jadi satu, maka pengajaran dengan sendiri selalu berhubungan dengan pendidikan,” kata Ki Hajar.

Menurut Ki Hajar, “Mendidik berarti menuntun tumbuhnya budi pekerti dalam hidup anak-anak kita, supaya mereka kelak menjadi manusia berpribadi yang beradab dan bersusila.” Sedangkan “Pengajaran adab”, menurut Ki Hajar, bermaksud memberi macam-macam pengajaran, agar sewutuhnya jiwa anak terdidik, bersama-sama dengan pendidikan jasmaninya.
“Karena itu, hakikat “pendidikan” adalah: “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya,” demikian Ki Hajar Dewantara.

Dengan konsep pesantren seperti itulah, maka memang pondok pesantren sangat ideal menjadi model pendidikan nasional. Sebab, pendidikan nasional memang bertujuan untuk membentuk manusia beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia.


Pendiri Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI), KH Sholeh  Iskandar menyatakan, bahwa pesantren memang merupakan lembaga perjuangan penegak agama Islam (iqamatud-din). Jati diri pesantren sebagai lembaga perjuangan inilah yang saya tekankan, saat menyampaikan Pidato Ketua Umum Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia (DDII), dalam menyambut Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2021.

Sebagai lembaga perjuangan, pesantren mencitakan lahirnya para pejuang penegak kebenaran. Pesantren tidak boleh terjebak ke dalam tujuan-tujuan pragmatis dalam pendidikan, yang bertujuan sekedar untuk melahirkan para pekerja yang bisa cari makan. Pesantren memang berbeda misinya dengan sekolah-sekolah yang dibentuk oleh penjajah. Bahkan, sejak dulu, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang melahirkan pejuang untuk melawan penjajah. 

Di tengah dominasi paham sekulerisme-materialisme, tidaklah mudah bagi pesantren untuk terus mempertahankan jati dirinya sebagai lembaga perjuangan. Di zaman sekarang, banyak orang tua yang mengirimkan anaknya ke pesantren, tetapi tetap dengan tujuan-tujuan utama meraih sukses secara materi. Akhirnya, pesantren dipaksa untuk mengikuti cara pikir pendidikan modern yang lebih mengutamakan pencapaian prestasi akademik dan materi, akhlak mulia. 

Sekolah dan Perguruan Tinggi memang diijinkan berdiri dengan kriteria lulusannya akan mendapatkan jenis pekerjaan tertentu. Memiliki ilmu dan ketrampilan untuk bisa bekerja adalah hal yang baik, bahkan diwajibkan. Tetapi, tujuan utama pendidikan adalah menjadi orang baik. Salah satu kriteria menjadi orang baik adalah memiliki ilmu dan ketrampilan untuk bisa mandiri. 

Itulah sebenarnya hakikat pesantren. Pesantren ada karena nilai perjuangannya. Jika nilai perjuangan itu hilang, maka sebenarnya telah hilang pula hakikat pesantren. Selamat Hari Santri, 22 Oktober 2021. Semoga pesantren-pesantren kita semakin banyak melahirkan para pejuang penegak kebenaran. Aamiin. (Depok, 21 Oktober 2021).

Ed. Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *